Cinta Dalam Diamku

Cinta Dalam Diamku
Episode 48


__ADS_3

Bagaikan langit sedang runtuh hancur berkeping-keping, demikian hati Lika melihatnya. Air matanya mengalir tanpa aba-aba dan tak dapat dibendung.


Sesak rasanya dada Lika menerima kenyataan yang ada di depan mata. Entah karma apa yang sedang dialaminya sekarang sehingga Ia harus menerima kenyataan pahit seperti ini. Apakah ini mimpi atau nyata rasanya satupun tak pernah tersirat dibenak Lika.


"Apa-apaan ini!" teriak Lika hingga membuat Adi terbangun karena terkejut.


Lika mendekati sisi ranjang hotel itu. Ia berdiri tepat disamping Adi, kecewa dan marah bercampur menjadi satu.


"Ap..Apa yang kamu lakukan" sayu dan getir meliputi hati dan pikirannya.


"Li.. Lika! Lika ini gak seperti yang kamu pikirkan." Adi memegang pergelangan tangan Lika berusaha meyakinkan bahwa Adi benar-benar tak tau apa-apa.


Dengan cepat Lika menepis tangan Adi. Tatapan marah dengan air mata yang terus mengalir terpampang jelas dari matanya.


"Aku kecewa sama kamu!" Lika berlari keluar dari ruangan itu.


Tanpa arah dan tujuan, alam seperti sedang menghukumnya. Gadis itu berlalu meninggalkan kamar itu menuju parkiran. Segera ia masuk kedalam mobil dan keluar dari hotel itu.


Adi keluar dari kamar hotel berlari menyusul Lika. Dihampirinya mobil milik Lika dan diketuk-ketuknya jendela mobil itu.


"Lika..sayang...Kamu harus dengerin aku. Ini gak seperti yang kamu pikirkan Lika. Lika aku dijebak."


Lika tak menggubris Adi yang berusaha menahannya. Ditekannya pedal gas mobil membelah jalanan kota tanpa arah dan tujuan. Hancur sudah cinta yang dirawat dan dipupuk selama ini. Dua tahun menyimpan rasa dan satu tahun menjalin cinta jarak jauh hancur oleh pengkhianatan malam ini.


"Lika...Lika!!!" Adi terus berteriak memanggil Lika yang semakin jauh hingga mobilnya tak terlihat lagi.


"Kamu jahat Adi! Kamu jahat!" Lika memukul-mukul setir mobilnya. Kondisi jalanan yang lengang membuat Lika memacu mobilnya dalam kecepatan diatas 120km/jam.


Air mata Lika terus mengalir tanpa henti. Hari bahagianya terganti oleh sakit yang luar biasa. Terlintas beberapa kenangan bersama Adi membuat hati Lika semakin luka.


"Kamu udah hancurkan semua cinta dan harapan aku. Kamu lebih dari B*jingan! Kamu br*ngsek!" Lika terus mengumpat Adi. Tak ada lagi yang terlintas dipikirannya selain Adi seorang Pengkhianat.


Pertigaan jalan tak membuat Lika menurunkan kecepatan mobilnya. Tanpa disangka ada seorang pengemudi motor tiba-tiba muncul dari simpang jalan. Lika yang terkejut membanting setir mobilnya menghindari motir itu.


BRAKKKKK....


Hal tersebut terjadi.


Mobil Lika menabrak trotoar jalan dan tak hanya sampai disitu saja. Kecepatan mobilnya yang tinggi membuat mobil itu terus melaju hingga beberapa meter dan akhirnya terhenti oleh sebuah tiang listrik.

__ADS_1


Mobilnya Lika hancur. Orang-orang yang ada di jalanan itu langsung mengeluarkan Lika. Lika yang sudah terkulai tak sadarkan diri.


Seseorang memeriksa denyut nadi Lika.


"Masih hidup!"


"Ayo bawa kerumah sakit" sahut yang lainnya.


Tringgg...Tringggg...


"Halo...kediaman Hermawan disini" jawab Siska.


.....


"A..apa? Ba..aik kami segera kesana."


"Ada apa ma?" Hendra tampak memandang Siska serius.


"Pa..ayo kita ke rumah sakit. Lika kecelakaan pa. Lika sedang kritis" air mata Siska langsung mengalir. Terlintas memori saat Ia kehilangan Andini karena insiden kecelakaan juga lima tahun silam.


Mereka langsung bergegas menuju rumah sakit tempat Lika dirawat. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Siska berdoa untuk keselamatan nyawa Lika.


"Tuhan...Jangan ambil putriku lagi. Aku sudah tak sanggup kehilangan satu lagi."


Hendra menghampiri istrinya, wajah ramah Hendra berubah menjadi lesu dan khawatir. Meskipun Hendra adalah sosok yang sangat berwibawa, kondisi Lika ternyata dapat mengubahnya.


Setelah menunggu lebih dari setengah jam kemudian dokter keluar dari ruangan ICU.


"Dokter...Gimana keadaan anak saya? Anak saya baik-baik saja kan dok? Apa anak saya masih kritis?" Siska menyerang dokter itu dengan pertanyaan yang bertubi-tubi hingga membuat dokter tersebut bingung harus menjawab apa.


"Kondisi anak Ibu sudah stabil, beliau sudah sadar juga."


"Apa kami bisa menemuinya dok?"


"Tentu, tapi jangan membuat pasien banyak pikiran. Kondisinya masih shock."


Tanpa pamit Siska langsung masuk kedalam sementara Hendra mengikuti dokter untuk memastikan keadaan Lika lebih lanjut.


"Sayang...Kamu baik-baik aja kan? Mana yang sakit sayang?" Siska memeluk Lika dengan perasaan yang campur aduk. Sedikit tenang hatinya melihat Lika masih sadar.

__ADS_1


"Mama...Ma" ucap Lika lirih menahan perih akibat luka-luka di sekujur tubuhnya.


"Sayang...Mama disini nak." Hati Siska bagaikan teriris pisau untuk kedua kalinya setelah kematian Andini.


"Mama...Adi jahat ma. Lika gak mau lagi ketemu Adi. Mama dia jahat. Ma...." Lika menangis histeris hingga Ia kesulian bernafas.


"Sayang, Adi kenapa nak?" Siska terkejut mendengar ucapan Lika. Tak biasanya Lika mengucapkan kata-kata buruk tentang Adi.


"Lika gak mau ketemu Adi, Lika gak mau melihatnya lagi sampai mati. Dia dan perempuan itu....." Lika terus berteriak dan meronta-ronta hingga dokter harus memberinya suntikan penenang.


"Selingkuhhh..." ucapnya lirik dan perlahan suaranya menghilang.


"Maaf Bu, pasien kami beri suntikan penenang agar beliau beristirahat. Jika terus bergerak, luka-lukanya akan terbuka kembali" tutur dokter.


Siska membelai rambut Lika dengan lembut.


"Nak...Apa benar yang baru mama dengar?" Air mata Siska mengalir seakan tak habis-habis.


Hati Siska menjadi panas. Tak disangka Lika yang sangat lemah lembut malah berteriak histeris seperti itu dan malah sangat membenci Adi.


"Apa yang barusan terjadi? Kenapa Lika mengatakan bahwa Adi selingkuh. Apa itu yang membuat Lika sampai seperti ini?" Siska mengepalkan tangannya. Diambilnya ponsel dari tasnya.


Siska keluar dari ruangan ICU. Ia terlihat menghubungi seseorang tanpa menghiraukan pertanyaan dari Hendra, suaminya yang khawatir mendengar suara Lika barusan.


"Palsukan kematian Lika pada kecelakaan itu dan pastikan semuanya bersih dan kabarkan Lika meninggal termasuk pada Andri." Siska menutup panggilannya.


Hendra tercengang mendengar ucapan isterinya itu. Ia tak mengerti apa yang sedang dipikirkan Siska saat itu. Apakah ini berhubungan dengan kegaduhan yang terjadi didalam tadi atau bagaimana, Hendra hanya menduga-duga dan tak berani bertanya disaat-saat seperti ini. Hendra yakin setiap keputusan yang diambil istrinya pasti punya pertimbangan.


"Pa, Mama mau pulang. Papa jagain Lika disini ya sampai Mama kembali. Jangan sampai ada yang tau Lika masih hidup!"


"Mama mau kemana? Sebenarnya ada apa ma?"


"Mama mau kerumah pa, Mama mau beresin semua barang-barang Lika. Malam ini Lika akan mama bawa jauh dari sini."


"Mau kemana ma? Lika kan masih dirawat. Mama jangan sampai membahayakan nyawa Lika ma."


"Papa...Jika Lika tetap disini, itu yang akan membahayakan nyawanya!" Siska melepaskan tangannya dari Hendra.


"Papa jagain Lika!" tambahnya sebelum pergi meninggalkan rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2