Cinta Dalam Diamku

Cinta Dalam Diamku
Episode 44


__ADS_3

Saat keberangkatan Belahan jiwa Lika pun tiba. Andri dan Adi akan berangkat menuju New York pagi ini. Mereka sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang.


"Kok cemberut Mulu sih gadis cantik" goda Andri saat Lika memasuki mobil mengantarkan Andri ke bandara Adisucipto Yogyakarta.


"Nanti Lika sendirian dong disini, sepi banget."


"Masih ada Mama dan Papa kan. Kamu juga punya sahabat-sahabat anti mainstream sejagat raya."


"Tapi tetap aja terasa sepi kalo bang Andri pergi." Lika menyandarkan kepalanya pada bahu Andri.


"Kamu kesepian karena Bang Andri pergi atau karena LDR dengan pujaan hati kamu? Hayo ngaku!" Andri mencolek hidung Lika untuk menggoda gadis itu.


Lika terdiam. Ada benarnya juga kata-kata Andri. Lika tidak ingin berjauhan dengan Adi tunangannya dan juga Andri pelindungnya.


"Kamu tenang aja, kalo Adi macam-macam disana bakalan Abang pulangin ke Indonesia. Abang bakal maksa Mama dan Papa supaya kalian nikah aja." Andri sangat memahami suasana hati Lika yang bersedih.


"Jagain dia ya bang, jangan genit-genit sama bule-bule cantik di New York."


"Aman atuh, yang penting adik Abang disini baik-baik belajarnya ya. Kamu jangan lupa makan, minum, berdoa dan paling penting jangan lupa bernafas."


"Apaan sih bang, masa iya Lika lupa bernafas." Mereka terus bercanda hingga sampai dibandara tanpa memperdulikan ada Siska dan Hendra.


Ketika tiba di bandara Lika buru-buru keluar dari mobil dan melihat kesana kemari. Siapapun tahu bahwa gadis itu sedang mencari kekasihnya.


Adi mendekat dan menutup mata Lika dengan kedua tangannya. Walaupun orangtua mereka hadir di tempat itu, Adi tak segan-segan bermesraan dengan Lika.


"Bang Adi kan..." Lika melepaskan tangan Adi dari kedua matanya. Setelah gadis itu berbalik menghadap kearah kekasihnya itu matanya langsung terganggu oleh sosok menyebalkan yaitu Sandra.


Sandra tersenyum menang menatap Lika. Sandra hadir dengan pakaian rapi dan kacamata hitam dengan membawa sebuah koper besar.

__ADS_1


"Sandra kok bawa koper segala?" Lika melirik koper hitam yang dipegang Sandra.


"Gue bakalan pindah kuliah ke New York bareng Kak Andri dan kak Adi. Lagian kan Mami dan Papi juga disana" sahut Sandra.


Hati Lika bagaikan diobrak-abrik. Sudah jatuh tertimpa tangga, begitulah nasib Lika saat itu. Ia akan terpisah jarak yang sangat jauh dengan Adi dan Sandra yang licik bagaikan ular akan bersama dengan Adi sepanjang waktu tanpa pengawasan dari Lika.


"Kamu kenapa?" Adi mengangkat dagu Lika yang menekuk wajahnya.


"Kamu sayang kan sama aku?"


"Sayang banget malah, kalo bisa aku mau nikahin kamu sekarang aja" sahut Adi meyakinkan Lika yang terlihat khawatir.


"Ini aku buatin kamu Nastar keju. Kamu makan ya, ini aku buat sendiri tau!" Lika memberikan sebuah paper bag berwarna pink kepada Adi.


Adi tersenyum melihat paper bag itu. Lika selalu konsisten dengan pilihan warnanya jika menggunakan sesuatu. Ada kebahagiaan tak ternilai harganya didasar hati Adi.


"Beruntung loe bro, gue aja gak boleh nyicipin itu Nastar!" Andri memberitahu Adi sekaligus menyindir Lika. Jelas saja Lika langsung merasa. Sekali dayung dua pulau terlampaui.


Kalah telak, jawaban Adi membuat Andri mati kutu. Entah apa yang merasukinya, sampai sekarang belum ada gadis yang memenangkan hatinya semenjak kecelakaan itu.


"Kita kesana yuk, jangan bareng orang jomblo. Nanti ketularan" ujar Adi dan menuntun Lika. Mereka meninggalkan Sandra yang sedari tadi cemberut karena dikacangin bersama si jomblo Andri. Malangnya nasib Mak Comblang yang tak punya kekasih.


Lika masih menempelkan kepalanya pada bahu Adi seolah-olah direkatkan menggunakan lem. Adi mengajak Lika menuju sudut ruang tunggu yang tidak ada orang agar mereka bisa duduk berduaan.


"Kamu baik-baik ya disini, jangan nakal kamu. Inget kamu udah punya tunangan!"


"Kamu juga jangan genit-genit ya di New York. Awas aja kalo kamu genit!"


Cup.

__ADS_1


Sebuah ciuman mendarat di bibir Lika. Mata gadis itu terbelalak, wajahnya merah merona.


"Ciuman pertama aku! Kamu kok jahat sih!" Lika memukul dada Adi dengan tangannya. Malu bercampur kaget membuat gadis itu salah tingkah.


Ada kebanggaan tersendiri dihati Adi mendengar ucapan tunangannya itu. Setidaknya mereka sama-sama belum pernah melakukannya. Senyuman merekah dibibir Adi, suatu pencapaian yang luar biasa disaat pertama kali pacaran.


"Kamu bakalan rindu itu selama aku di New York!" Adi merangkul Lika, memenangkan gadis impiannya sebelum ia berangkat ke New York sangat membanggakan baginya.


"Kamu jahat!" ucap Lika pelan karena semakin malu karena dilihat oleh banyak orang saat dia berteriak tadi.


Adi tak henti-hentinya menciumi pucuk kepala gadis itu. Nampaknya gadis itu akan menjadi candu yang sangat dirindukan. Ia merogoh kantongnya, mengeluarkan sebuah pita mungil berwarna pink dan menempelkannya pada rambut Lika.


"Aku pergi ya sayang, aku gak mau liat setetes air mata hari ini. Aku gak suka" ujar Adi saat mengelus-elus rambut Lika.


Ia menuntun gadis itu kembali ke tempat mereka semula. Ia melepaskan pelukannya dari Lika walaupun berat. Ia mengambil kopernya dan mencium tangan kedua orang tuanya.


Andri juga demikian, ia pamit pada Siska dan Hendra. Ia memeluk Lika, berat rasanya meninggalkan gadis manja itu.


"Bang Andri, aku gak mau sendirian" Lika memeluk Andri dan terlihat cairan bening mulai membasahi pipinya.


"Baik-baik ya sayangnya bang Andri" Andri menyeka air mata Lika dan melepaskan pelukannya. Ia pun berjalan menjauhi gadis itu.


Siska merangkul putrinya, menenangkan gadis itu dari tangisannya. Ia menatap Adi dan Andri yang sedang check in. Mereka menunggu hingga Andri dan Adi menghilang dari pandangan ditelan keramaian Bandara Adisucipto Yogyakarta.


"Ayo kita pulang sayang!" Siska menuntun Lika keluar dari bandara. Lika masih lesu dan sedih. Ketika perjalanan pulang, ia hanya diam membisu. Entah apa yang dipikirkannya, yang jelas Ia sangat tidak rela melepaskan Adi dan Andri.


Ketika tiba dikediaman Hermawan, terasa sekali sepi. Biasanya Lika dan Siska akan bekerjasama untuk menjahili Andri. Jika Adi berkunjung, Ia akan menjahilinya dan terkadang mereka akan menjadi pasangan paling romantis bagaimana dongeng. Kini Lika hanya tertinggal sendirian tanpa kedua sosok abstrak itu lagi.


"Ma, sepi banget sih dirumah ini. Baru satu jam padahal. Gimana kalo dua tahun ma" Lika membaringkan tubuhnya di atas ranjang Siska.

__ADS_1


Siska dan Hendra menatap Lika dengan heran. Tak biasanya gadis itu mau masuk kedalam kamar mereka, biasanya ia memilih mengurung diri bersama buku-buku dan kucing-kucingnya di dalam kamar.


__ADS_2