Cinta Dalam Diamku

Cinta Dalam Diamku
Episode 38


__ADS_3

Suhu malam itu semakin turun sehingga Adi sangat kedinginan. Ia menarik selimut dan menggulung seperti kepompong. Lika tiba-tiba terbangun karena merasa dingin juga.


"Astagaaa...Kok dia tidur disini sih" gumam gadis itu.


Kemudian timbullah niat jahit dibenak gadis itu. Ia menarik hidung Adi hingga Adi kesulitan untuk bernafas.


"Apaan sih?" ujarnya saat dia terbangun dan melihat Lika.


"Kamu ngapain tidur di kamar aku? Kamu tuh tidurnya bareng Steven!" Lika menarik daun telinga Adi.


"Kan aku duluan yang disini, berarti yang salah kamu ya" sahut Adi.


"Hah? Kamu duluan? Gak salah kamu? Aku disini saat kamu itu masih bareng bapak diluar!" terang Lika sambil menarik sebuah selimut dari tangan Adi.


Rina pun masuk kedalam ruangan itu karena mendengar suara berisik dari dalam.


"Kalian kenapa berisik? Ini sudah larut malam!" ujar Rina.


"Liat ma, masa tadi kami tidur berdua!" Lika menarik semua selimut yang dikenakan Adi.


"Tapi Tan, tadi Adi masuk gak ada orang kok" Adi membela diri.


"Jelas-jelas aku tidur disini dari tadi" timpal Lika.


"Sssttt...Kalian berisik sekali. Sekarang Adi tidurnya ke kamar Steven aja ya nak, ayo Tante anterin" Rina menuntun Adi.


"Dibilangin juga dari tadi huuu" ledek Lika.


"Ehhhh kalian ini berisik sekali, nanti bapakmu bangun Lika!" lerai Rina.


"Wekkkk" Adi menjulurkan lidahnya meledek Lika.


"Kok bisa sih dia tidur disini? Masa dia gak tau aku udah tidur disini sih, aneh banget. Jangan-jangan mau modus itu orang" batin Lika. Gadis itu memperbaiki selimut-selimut yang bertumpuk dan kembali beristirahat. Kepalanya dipenuhi tanda tanya mengapa Ia bisa tidur dengan Adi.


***


Pagi hari Lika bangun dan membantu Rina beres-beres. Lika juga sudah membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya layaknya gadis desa seperti yang lainnya. Ia mencepol rambutnya agar tidak menggangu kegiatannya.


"Hai gadis manis" sapa Adi saat Lika sedang menyapu halaman rumah.


"Udah bangun aja" sindir Lika.


"Biasa aja atuh neng, dingin!" sahutnya sambil merapatkan tangannya didada.


"Mandi gih, udah jam delapan juga. Liat tuh matahari udah panas" katanya menunjuk matahari.


Pagi itu matahari bersinar sangat cerah. Langit terang berwarna biru tanpa awan sangat menawan.


"Tetap aja dingin walaupun ada matahari" jawab Adi.


Tak habis-habisnya akal gadis itu. Ia mendekati keran air dan menyambungkan selang panjang yang biasa digunakan untuk mencuci motor oleh bapaknya.


Byurrr....


Lika menyemprotkan air ke arah Adi hingga membuatnya terkejut. Adi basah kuyup dari kepala hingga kaki. Lika benar-benar jahil.

__ADS_1


"Lika!!! Kamu ngapain?" Adi mengamuk.


Lika tak memperdulikan ucapan Adi, Ia terus menyemprotkan air pada Adi sambil berlari dari menjauhi Adi.


Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, demikianlah dikatakan antara Lika dan Steven. Steven mengambil ember dan ikut menyirami Adi. Fikss Adi mandi tanpa kamar mandi.


Orang-orang yang berlalu hendak menuju ladang pun menatap Adi. Benar saja, sehari Adi didesa itu dirinya sudah dipermasalahkan gadis ini ditambah lagi satu tuyul pengikutnya.


"Hehhh... Kalian berdua ini ngapain? Kok disiram begitu?" ujar Anton setiba ia dipintu.


"Abang ini belum mandi pak" sahut Steven dan terus menyirami Adi. Sementara Lika menggulung selangnya dan kabur diam-diam dari samping rumah.


"Ayo ganti bajumu!" titah Anton.


Seketika Adi sudah tidak punya muka dihadapan Anton. Adi kehilangan wibawanya karena ulah Lika dan Steven. Setelah mandi dan berganti pakaian, Adi menuju dapur mencari Lika. Adi masih kesal dan ingin memberi Lika pelajaran.


"Sudah segar nak?" sapa Rina.


"Sudah Tante, Lika dimana Tante?" sahut Adi.


"Apa? Udah mandi?" tukas Lika dari belakang Adi sambil membawa makanan yang baru dimasaknya.


"Ayo makan supaya kalian kekebun!" titah Rina.


"Mama mau kemana?" tanya Steven setibanya didapur.


"Kami mau ke nikahan keluarga di kampung bibimu" sahut Rina.


"Aku ikut, gak mau tinggal" Steven memegangi tangan mamanya itu.


"Gak mau tau pokoknya aku ikut!" Steven semakin ngeyel.


"Iya iya" jawab Rina kesal.


"Nanti kalian naik gereta saja ke kebun Lik" ujar Anton.


"Emang kerbaunya masih inget sama aku, nanti ngamuk pula saat bapak gak ada" ujar Lika sambil menyantam makanannya.


"Banyak alasan!" sahut Steven.


"Udah udah! Ribut terus" ujar Rina kesal.


Setelah mereka selesai makan, mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Hanya Adi yang duduk tidak tau harus berbuat apa. Lika pun mempersiapkan segala sesuatunya untuk dibawa ke kebun.


"Yok berangkat" ujar Lika.


"Ayok" sahut Adi.


Lika memperhatikan penampilan Adi dari atas sampai bawah. Ia memegang pelipisnya frustasi dengan lelaki itu.


"Kamu kenapa?" tanya Adi khawatir.


"Kenapa kamu bilang? Kamu itu mau ke kebun dengan penampilan seperi ini? Mana pake sepatu kets lagi, kita ini ke kebun bukan ke mall" tukas Lika kesal.


"Terus aku harus gimana?" tanya Adi polos.

__ADS_1


"Di kadang itu banyak lumpur, pakaian kamu bisa kotor dan gak bisa dibersihkan lagi" Lika semakin frustasi. Menyesal rasanya membawa anak sultan ini kedesanya.


Lika pun masuk kembali dan membewakan pakaian kepada Adi. Lika juga memberikan sebuah sandal jepit. Setelah Adi mengganti pakaiannya, Lika tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Adi yang tidak nyaman dengan pakaian yang dikenakannya tampak kesal.


"Kamu tuh lagi mempermainkan aku ya?" tanya Adi curiga.


"Enggak kok" Lika menghentikan tawanya.


"Terus kok kamu tertawa gitu?" Adi memanyunkan bibirnya kesal.


"Kamu ternyata jelek kalo gak kaya raya" Lika tertawa lagi karena sangat geli dengan penampilan Adi.


BOM!!!


Bom meledak. Adi sangat geram dengan pernyataan Lika. Ia mendekati wajah Lika dan menarik hidung gadis itu sekeras mungkin.


"****** loe" batinnya.


"Aaauuu!!!" Sakit banget!" rintih gadis itu.


"Yok berangkat" sahut Adi dengan santainya. Puas sekali rasanya balas dendam pada gadis itu hari ini. Sejak bangun Adi sudah dijahili oleh Lika, sangat lega rasanya bisa balas dendam.


"Kuda Nil!!!" teriak Lika geram.


Saat Lika sudah naik dikursi kusir gereta itu, Adi naik kedalam gerobak.


Lika tampak lihai memandu kerbau itu untuk tetap membawa mereka ke tujuan.


"Lelet banget ya" Adi tampak bosan.


"Baru pertama kali ya?" ledek Lika.


"Iya. Kenapa kita gak pake motor aja sih?".


"Kan motor mau dibawa kondangan sama bapak" jawab gadis itu.


Adi menikmati alam pedesaan yang sangat sejuk. Terlihat para petani sedang membajak sawahnya dengan kerbau dan diikuti anak-anak yang berenang di kolam ikan. Adi terlihat geli melihat anak-anak itu.


"Itu ibu-ibu pada ngapain?" Adi menunjuk sekelompok perempuan.


"Itu lagi mandi o*n, ngapain kamu liatin" Lika tertawa melihat kekonyolan Adi.


"Shit! Kok mandi gak pake kamar mandi sih, Kenapa harus ditempat terbuka gini" batinnya.


"Kamu juga gitu dulu?" tanyanya.


"Aku waktu bocah suka mandi sungai, tapi semenjak SMP kan udah ada kamar mandi dirumah. Jadi mandinya dikamar mandi.


"Seru juga ya jadi anak desa, apa anak-anak itu nanti gak sakit main lumpur gak pake baju gitu" tanyanya lagi. Fikss kali ini Adi sangat bawel.


"Enggak, udah biasa" jawab Lika singkat.


Adi mengambil beberapa gambar pemandangan sawah itu menggunakan ponselnya.


"Walaupun tak ada jaringan, setidaknya ada gunanya" ledek Lika.

__ADS_1


"Hemm" sahut Adi malas.


__ADS_2