Cinta Dalam Diamku

Cinta Dalam Diamku
Episode 65


__ADS_3

'Ya Tuhan...' jerit Lika dalam hati. Langkahnya terhenti, kakinya terasa kaku mendengar semua perkataan Bunda Renaya.


"Kamu gak papa?" tanya Ana.


Lika masih mencoba untuk tersenyum di depan Ana walaupun sebenarnya itu sangat menyakiti hatinya.


"It's ok. Let's go!" Lika mempersilahkan Ana masuk terlebih dahulu kedalam lift.


Dalam perjalanan menuju apartemen Lika, Ana tak henti-hentinya mengoceh mengutarakan kerinduan dan kebahagiaannya bertemu dengan Lika. Sesekali Ana juga mengingatkan kenangan-kenangan indah mereka bersama 'Tha Genk' saat masih kuliah.


"Kita udah nyampe nih, yuk naik" ucap Lika setelah memarkirkan mobilnya di parkiran apartemen mewah tersebut.


"Mama! Aku mau digendong Aunty aja," celetuk Aygra dan merentangkan tangannya kepada Lika.


"Uhh...Sini ponakan Aunty," menggendong Aygra, "Biar Mama gendong adek bayinya aja ya!"


Ana pun tersenyum-senyum meraba perutnya yang masih rata. Senang rasanya berita kehamilannya sudah sampai di telinga sahabatnya itu.


"Aunty kemarin bohong kan kalo Mama gak sayang lagi sama Aygra karena dedek bayi?" tanya Aygra polos memandangi wajah Lika.


Lika pun tertawa geli, "Aduhh ponakan Aunty" tertawa lagi, "Aunty becanda kok. Mama dan Papa kamu tetap sayang sama kamu! Kalo nanti mereka gak sayang lagi, kamu tinggal disini aja bareng Aunty. Kamu akan jadi satu-satunya kesayangan Aunty."


"Wah..wah..Ada yang mau ninggalin Mama nih ceritanya" sela Ana. Mereka pun tertawa.


Saat sudah masuk kedalam apartemen, Lika pun melepaskan Aygra dan membiarkan bocah itu berjalan sesukanya. Aygra sudah mulai hafal dengan apartemen itu termasuk dimana mainannya berada.


"Mama! Aunty! Aygra main dulu ya." Tanpa menunggu jawaban, Aygra sudah masuk kedalam kamar tidur Lika.


"Ehh dia masuk kamar kamu Lik!" seru Ana.


"Udah biarin aja Na. Kemarin kami tidur disana makanya mainan Aygra didalam semua."


Ana menganggukkan kepalanya mengerti. Biar bagaimanapun juga Lika juga adalah Tante dari anaknya sendiri, Lika pasti menyayangi Aygra juga.


"Oh iya Na, Kamu kok bisa nikah sama bang Andri? Kapan kalian pacaran?" Kalo dari umur Aygra sepertinya enggak lama setelah aku keluar negeri kalian menikah ya kan?"


Ana tersipu malu. Pasalnya semua sahabatnya juga tak menyangka bahwa dirinya akan secepat itu menikah.


"Kok senyam-senyum sih Na? Ceritain dong!" Lika mengguncang-guncang tubuh Ana layaknya anak kecil.


"Hahaha...Iya deh iya aku ceritain."


"Cepetan dong!" desak Lika tak sabar.


"Sabar atuh neng" kekeh Ana geli.


"Ya abisnya kamu lama-lamain" gerutu Lika.

__ADS_1


"Kami itu dijodohkan Lik."


"Hah!? Kok bisa? Siapa yang jodohin?" Lika menelan salivanya, yang benar saja mereka dijodohkan.


"Iya benaran Lik! Jadi beberapa bulan setelah kamu 'meninggal' itu..."


"Ehh...aku belum meninggal Ana. Ini aku di depan kamu!!!" sela Lika.


Ana terkekeh kecil, "Setelah kamu keluar negeri maksudnya Lik!"


"Terus?"


"Aduhh kapan sih aku bisa selesai ceritanya kalo kamu potong terus, bete nih!"


"Ahahaha...Duhh Bumil sensi amat sih."


"Diem! Dengerin aja!" mata ana membelalak mengancam Lika agar tidak memotong perkataannya lagi. Hal itu hanya dibalas anggukan kecil dari Lika.


(Serem juga nih bumil๐Ÿ˜…)


"Jadi beberapa bulan setelah kamu ke luar negeri, Mama aku jodohin aku sama anak sahabatnya waktu kuliah. Jadi Mama ajak aku makan malem sekalian ketemu orang yang mau dijodohin sama aku. Aku kaget banget saat itu, ternyata yang mau dijodohkan sama aku itu Kak Andri. Ya karena udah lumayan tau sifat Kak Andri ya aku terima-terima aja kan, ternyata kak Andri juga nerima perjodohan itu. Jadi sebulan kemudian kami nikah deh!" terang Ana.


"Padahal yang tunangan itu kan aku, kok yang nikah kamu!?" goda Lika.


"Lika Mey! Itu bukan salah aku ya sayang. Kamu ngapain sok-sok gak balik ke Indonesia!" sahut Ana cetus.


Ana mendekatkan tubuhnya hingga menyentuh Lika, "Kamu beneran mau nikah sama pria itu? Aku lihat dia agak kasar Lik, bukannya kamu gak suka ya laki-laki yang punya perangai yang kasar?" Ana mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Lika.


Lika memundurkan kepalanya dengan mata yang melotot, lalu mendorong wajah Ana menjauh.


"Dia itu baik kok Na, serius deh!"


"Hmm...Aku kurang begitu yakin. Jangan buru-buru deh Lik. Kalo kamu masih cinta pada Kak Adi, semua belum terlambat kok. Kak Adi juga masih sangat mencintai kamu!!!" menggenggam tangan Lika erat.


Lika tersenyum penuh arti. Bukan sudah tidak mencintai Adi, namun kesalahan di masa lalu masih membekas dalam ingatan wanita itu. Terkadang suatu kata maaf memang mudah terucap dari mulut, namun luka yang membekas belum tentu sembuh oleh waktu.


"Aku sudah tidak mencintainya lagi!" ucap Lika sangat pelan namun masih terdengar jelas di telinga Ana.


Lika tak pernah berfikir berhenti mencintai Adi atau bahkan sampai mengucapkan kalimat itu. Namun sekarang kondisinya berbeda, sudah lima tahun berlalu dan alangkah tidak baik jika seorang wanita sudah bertunangan tapi masih memikirkan orang lain dalam hatinya.


Perlahan namun pasti Lika mencoba membuka hatinya untuk Leonard. Posisi Adi sangat dalam di hatinya, pria itu punya posisi khusus yang tidak bisa tergantikan bahkan lekang oleh waktu. Biar bagaimanapun juga walaupun sebenarnya bertentangan dengan kata hatinya, Lika masih ingin melanjutkan perjalanan hidupnya dan tidak ingin terkekang masalalu. Ia memilih berdamai dengan masalalu dan menjalani masa depannya dengan baik.


***


Dalam hati Adi tidak berbeda jauh dengan Lika. Gadis mungil dan istimewa itu masih menempati posisi paling besar dan tidak tergantikan dalam hatinya.


Adi duduk termenung memandangi salju yang turun berjatuhan diluar jendela. Adi merasa semua ini mimpi, bertemu dengan Lika adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Kenyataan ini sangat kejam, bertemu dengan cinta pertama yang tak pernah terlupakan walau satu menit pun namun sangat disayangkan. Gadis yang dahulu sangat mencintainya, gadis yang selalu malu-malu, gadis yang selalu bawel dan perhatian kini berubah drastis. Penderitaannya ditambah dengan kebencian dimata bundanya saat melihat Lika. Nampaknya keadaan sudah mengharuskan perpisahan.

__ADS_1


Adi masih tak percaya Lika memperlakukan dirinya seperti orang asing. Tatapan Lika begitu asing saat melihatnya, bahkan sekedar menyapa saja gadis itu nampaknya enggan.


Entah apa yang terjadi pada Lika, ini begitu menyakitkan. Lika mengacuhkannya, Lika bertunangan dengan pria lain dan Lika tidak mencintainya lagi. Kepala Adi sangat mumet, mimpi buruk ini sangat menyakiti hatinya. Ingin Ia bangun dan mendapati Lika disampingnya, memeluk dan menenangkannya, berkata bahwa Ia tak akan pergi untuk selamanya. Sayangnya ini bukan mimpi, ini dunia nyata Adi! Ini dunia nyata!


Batin bergejolak hebat. Ketidakmampuan untuk berjuang untuk mendapatkan cintanya. Kata hati meronta-ronta, memaksa berjuang untuk cinta. Apalah daya hati? Keadaan sudah tidak memihak lagi.


"Awas loe kesambet!" Kehadiran Andri mengejutkan Adi. Adi hanya tersenyum kecut. Ia hidup namun nyawanya mati.


"Gue tau apa yang loe pikirin. Gue ngerti perasaan loe sekarang."


"Gue baik-baik aja. Gue cuman berharap dia akan hidup bahagia. Mungkin takdir sedang berusaha menegur gue kalo dia bukan jodoh yang sudah dipersiapkan untuk gue!" Suara Adi sangat parau, keputusasaan menyelimutinya.


Andri menepuk-nepuk pundak sahabatnya, biar bagaimanapun juga Adi sangat mencintai Lika. Andri tak bisa mengalahkan siapapun disini, ketidaktahuan Lika atas kesalahpahaman itu yang mendasari ini semua.


"Kita akan usahakan semuanya agar kembali seperti semula!" ucap Andri sembari meninggalkan Adi yang masih menatap salju yang turun.


"Kamu masih memikirkan wanita itu?" ujar Renaya yang entah sejak kapan sudah duduk ditepi ranjang memandanginya.


"Siapa lagi yang pantas Adi pikirkan selain dia Bunda?" sahutnya tanpa menoleh sedikitpun.


"Apa kamu sudah tidak memakai otakmu dengan benar? Apa wanita itu sangat sempurna di matamu? Dia sudah membohongi kamu selama ini!" Renaya semakin marah.


"Dia tidak bersalah bunda. Kami dijebak dalam kesalahpahaman ini!"


"Kalau dia mencintai kamu, tidak mungkin dia tidak mau mendengarkan penjelasan kamu dulu. Dia pasti akan mengerti!" Renaya sudah tidak tahan lagi. Darahnya mendidih melihat anaknya masih membela wanita yang jelas-jelas telah berbohong padanya.


"Jika Bunda hanya ingin membicarakan hal ini aku sedang tidak ingin bicara. Aku ingin sendiri Bunda."


"Besok kita pulang ke Indonesia. Bunda akan menjodohkan kami dengan putri rekan bisnis Ayah."


"Bunda!"


"Bunda tidak menerima penolakan!" tegas Renaya sembari meninggalkan Adi yang menatapnya serius. Adi menghela nafasnya, tidak ada alasan untuk menolak permintaan Bundanya.


๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป


TEMAN-TEMAN READERS-KU TERSAYANG ๐Ÿ˜


TERIMAKASIH YA UDAH SETIA IKUTIN SETIAP EPISODE CINTA DALAM DIAMKU๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


PLEASE LIKE, KOMEN & FOLLOW AKU DONG๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜Œ


JANGAN LUPA VOTE JUGA YA ๐Ÿ˜‡KARENA SETIAP PARTISIPASI KALIAN BAIK DALAM LIKE, KOMEN & FOLLOW SANGAT MEMPENGARUHI MOOD AKU DALAM MENULIS๐Ÿ’Œ๐Ÿ˜ป


Jangan Lupa gabung di grup aku juga ya, supaya kalian gak ketinggalan info Up Novel aku.


THANK YOU๐ŸŒˆ

__ADS_1


Anne Chellycaโœ๏ธ


__ADS_2