
Pagi-pagi sekali Lika sudah turun kebawah untuk sarapan. Lika juga sudah berpakaian rapi dan cantik.
"Eh...tumben tuan putri pagi-pagi gini bangun pagi, biasanya kalo aku belum telpon pasti belum bangun" ledek Adi.
"Hehehe...semua orang berhak menjadi lebih baik" ucap Lika sombong.
"Siap, siap! Tapi kamu pasti mau pergi kan makanya udah rapi gini, wangi lagi" ucap Adi mencium pipi Lika.
"Temenin aku ziarah ke makam Mama Siska dan Papa Hendra yuk!" pinta Lika.
"Gak bareng Andri sama Ana?" tanya Adi memastikan.
"Gak udah, lagian ini masih jam enam kan, pasti mereka masih tidur. Ayuk!" ucap Lika dan diangguki oleh Adi.
Setelah menghabiskan sarapannya mereka pun pergi.
"Pak, kalo ada yang nanya kami ke mana bilang aja ziarah ke makam Mama dan Papa ya..." pesan Lika pada pengurus garasi.
"Iya Nona Muda" sahut pengurus garasi.
Sebelum ke makam Lika dan Adi pergi mencari bunga dan air mawar. Karena masih pagi sekali mereka sedikit kesulitan mencari toko bunga yang sudah buka. Beruntung di tak jauh dari pemakaman ada sebuah toko bunga yang sudah buka. Setelah mencari bunga mereka langsung menuju pemakaman.
"Sayang, itu makam kamu!" ledek Adi menunjukkan sebuah makam dengan nisan bertuliskan Lika.
"Ya ampun...nanti aku urus supaya makamnya di bongkar aja" ucap Lika menggelengkan kepalanya.
Mereka pun terus berjalan hingga tiba di tiga buah makam berdampingan.
"Ini Om Hendra dan Tante Siska, dan itu kamu tau kan, itu makam Andini" ucap Adi.
Dengan raut wajah sendu Lika pun meletakkan bunga pada vas keramik dan menabur bunga tabur diatas makam sementara Adi menuangkan air mawar.
"Mama, Papa, ini Lika. Lika udah pulang ma, pa. Kenapa kalian pergi secepat ini?" ucap Lika dengan air mata yang tak terbendung lagi.
Adi hanya diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia mengelus pundak Lika untuk memberikan ketenangan pad gadis itu.
"Ma, Pa, Lika bentar lagi mau nikah sama bang Adi. Ternyata bang Adi selama ini gak salah ma, pa. Dia orang yang baik, sayang banget sama Lika" Isak Lika.
"Om Hendra, Tante Siska, ini Adi. Adi kesini mau minta restu kalian Om, Tante, Adi akan menikahi putri kecil kalian. Adi janji Om, Tante, Adi akan berusaha untuk memberikan kebahagian untuk Lika" ucap Adi dengan tangan yang tak lepas dari pundak Lika.
"Mama, Papa, Restuin kita ya..." ucap Lika lagi.
"Sudah sayang, ikhlaskan Tante Siska dan Om Hendra, mereka pasti udah tenang disana" ucap Adi dan mengecup pucuk kepala Lika. Lika mengangguk pelan sambil memandangi pusaran Siska.
"Kita pulang ya, kamu jangan nangis terus, nanti kamu sakit" ucap Adi mengelus-elus rambut Lika.
"He'em, bentar!" ucap Lika lalu beralih ke pusaran Andini.
Lika meletakkan bunga di vas, menabur bunga taburnya dan menuangkan air mawar.
"Andini, kamu pasti udah ketemu Mama dan Papa kan? Semoga kalian berbahagia ya..." ucap Lika.
"Ayo sayang..." Adi mengulurkan tangannya untuk Lika.
__ADS_1
Gadis itu bangkit dan meraih tangan Adi. Mereka berjalan bergandengan keluar dari pemakaman itu.
"Kamu jelek tau kalo nangis gitu!" ucap Adi meledek Lika.
"Biarin! Kan aku udah mau nikah" ucap Lika memeluk pinggang Adi.
"Dasar kamu, sekarang kita mau kemana?" tanya Adi sembari membukakan pintu mobil untuk Lika.
"Kita ke rumah sakit aja ya, kita jengukin Sandra. Ayah sama Bunda juga masih disana kan..." ucap Lika dan diangguki oleh Adi.
Hampir satu jam perjalanan mereka dari pemakaman menuju rumah sakit tempat Sandra dirawat karena kemacetan, kebetulan itu adalah jam menuju masuk kantor jadi wajar lalu Lintas sangat padat.
"Selamat pagi Bunda, Sandra..." ucap Lika ketika masuk kedalam ruangan rawat Sandra.
"Hai sayang, uhh..anak Tante cantik banget pagi ini. Loh? Kok matanya sembab? Kamu nangis?" ucap Renaya memegang pipi Lika.
"Kami abis ziarah ke makam Om Hendra dan Tante Siska Bun.." ucap Adi sebelum Renaya mengkambing hitamkan dirinya sebagai penyebab air mata Lika.
Renaya pun manggut-manggut dan tersenyum ke arah Lika.
"Kamu gimana keadaannya San?" ucap Lika.
"Aku udah boleh pulang hari ini Lik, bentar lagi suster datang bukain ini" ucap Sandra menunjukkan infus di tangannya.
"Baguslah kalo gitu, jaga kesehatan loh abis ini ke klinik kecantikan supaya cantik lagi" ucap Lika bercanda.
"Harus dong, supaya ada yang mau sama aku" sahut Sandra sambil tertawa.
"Ayah kamu kan ngantor nak, kemarin dia pulang ke rumah. Biar bunda aja yang jagain Sandra disini, sekalian ayah kamu ngurus lamaran kalian" tutur Renaya.
"Hah? Lamaran?" ucap Lika kaget.
"Loh? Kok kaget? Kan kalian mau nikah, bunda gak mau lama-lama tau, bunda mau nimang cucu!" ucap Renaya sewot.
"Kok gak ngabarin kita Bun?" tanya Adi tak kalah shock.
"Ngapain? Kan orang tua Lika juga udah di Jogja. Kemarin kami udah bicara dan sepakat kalian akan nikah di Jogja!" ucap Renaya mantap.
Lika dan Adi saling menatap, heran dengan sikap orangtuanya yang bertindak tanpa aba-aba padahal kan yang nikah mereka.
"Udah deh gak usah lebay kalian berdua, daripada kalian disini bikin Bunda sakit mata mending kalian keliling deh nyari gaun pengantin, souvernir, foto prewedding, cetak undangan dan paling penting kalian maunya nikah di hotel mana? Satu lagi paling penting, bulan madu kalian mau kemana?" ucap Renaya cerewet.
"Kok kita nikahnya kayak di kejar-kejar setan sih Bun, gak gini juga lah..." ucap Adi.
"Bawel deh kamu, kamu (menunjuk Adi) umur udah 29 dan kamu (menunjuk Lika) umur udah 26, kalian mau nikah nunggu kepala tiga?" ucap Renaya ngegas membuat nyali Adi dan Lika menciut.
Sandra pun tertawa melihat kekonyolan itu.
"Heehh...kamu ketawa lagi, kamu udah 27 tahun, kapan mau nikah? Udah ada pacar?" ucap Renaya skakmat.
"****** Lo!" ledek Adi balas dendam ditambah tawa kecil Lika membuat Sandra tambah malu.
"Tante...aku kan lagi sakit, jangan dimarahin dong" ucap Sandra manja.
__ADS_1
"Yang sakit itu kulit kamu bukan hati kamu, cepetan nikah! Ini Tante ngewakilin Mami sama Papi kamu!" tambah Renaya hingga Adi dan Lika semakin keras tertawa.
"Kalian berdua ngapain masih ketawa-ketawi disini, gak denger tadi bunda nyuruh kalian ngapain?" Renaya menatap tajam kearah Lika dan Adi.
"Duhh Bun... Ini itu masih pagi dan kita itu baru nyampe, masa disuruh pergi lagi" keluh Adi.
Renaya menatapnya tajam membuat Lika bergidik ngeri. Diam-diam Lika keluar dari ruangan itu meninggalkan Adi takut terkena amukan Renaya. Benar saja, Renaya langsung meraih telinga Adi dan menariknya kencang.
"Apa!? Mau protes lagi?" ucap Renaya ngegas.
"Eng..enggak Bun... Iya-iya, Adi pergi Bun, lepas Bun..." ucap Adi, sementara Lika sudah tertawa diluar melihat calon suaminya masih diperlukan seperti anak kecil oleh Bundanya.
"Jahat ya, malah ninggalin aku" ucap Adi setelah keluar dari ruangan Sandra.
"Kamu sih masih protes-protes, dihajar kan..." ucap Lika cekikikan.
"Terus kita mau kemana?" tanya Adi menggaruk-garuk kepalanya.
"Sebenarnya aku juga bingung, gimana kalo kita cari WO aja. Untuk semua yang diminta Bunda tadi kita serahin semua ke WO aja supaya nanti kita tinggal pilih, gimana?"
"Pinter juga calon istri aku, gak salah pilih aku" ucap Adi merangkul Lika.
"Udah ahh jangan peluk-peluk, malu tau dilihatin orang, kita belum halal" protes Lika karena Adi terus nempel-nempel seperti perangko.
"Yaudah kita nikah hari ini aja yuk!" sahut Adi licik.
"Gila!" ucap Lika dan mencubit pinggang Adi.
"Gimana? Mau gak? Supaya aku bilangin Bunda nih sekarang" ucap Adi menggoda Lika.
"Nikah noh sama kebo!" sahut Lika kesal.
"Tapi mau halal, gimana? Mau gak?" tanya Adi lagi.
"Sekali lagi kamu bilang gitu lamaran kamu sama orang tua aku bakalan aku tolak!" ancam Lika.
"Waduh, waduh. Galak ya, serem..." ucap Adi masih dengan nada meledek.
"Bodo amat!"
*****
Holaaa...
Adi & Lika mau nikah nih, kalian mau konsep pernikahan yang gimana buat mereka?
Yang mau request komen dibawah ya😉
*****
Jangan lupa tinggalkan jejak juga 🤗
Singgah di novel baruku judulnya Allea ❤️
__ADS_1