Cinta Dalam Diamku

Cinta Dalam Diamku
Episode 24. Nginep


__ADS_3

Hati Sandra semakin panas dengan pemandangan tidak mengenakkan tersebut. Ia kemudian memilih meninggalkan rumah itu.


"Udah dong nangisnya" ujar Adi.


"Iya" jawab Lika lirih.


"Liat tuh mata kamu bengkak gitu, sayang kan uang Tante Siska bawa kamu ke salon tiap Minggu kalo mukanya ditekuk gini"


"Dasar gak punya hati" Lika melepaskan pelukan Adi.


Ia lalu beranjak dan duduk di kursi teras kamarnya. Pandangannya kosong seperti sedang memikirkan sesuatu. Ya, kata-kata Sandra masih terngiang-ngiang di telinganya.


Adi pun datang menghampiri lagi. Hidup Adi seperti ada yang kurang jika melihat kemurungan gadis itu. Ia membelai kepala Lika, berusaha menenangkannya.


"Apa sih moduss" ujar Lika sewot.


"F*ck!! Ni orang cepet banget berubah. Gila ya" batin Adi.


"Apa liat-liat?" Lika masih sama menyebalkannya.


"Gila ya...Tadi nangis-nangis, sekarang marah-marah sok galak. Kamu itu gak cocok galak gitu" ledek Adi.


"Udah ahh aku mau keluar" Lika menepis tangan Adi.


"Kamu mau kemana?"


"Mau ke Hongkong!" sahut Lika dan semakin menjauh.


Adi masih bingung dengan sikap Lika yang sedikit moody Dan plin plan. Suara motor berseru dari garasi dan Lika pun keluar dari rumah mewah itu.


"Diajarin naik mobil gak mau, malah naik motor. Nanti kulitmu yang putih mulus itu rusak manis" gumam Adi.


Adi terus menatapi Lika hingga tak terlihat. Ia larut dalam khayalannya sendiri, terbang ke dalam mimpinya siang itu hingga tak menyadari motor Andri memasuki pekarangan.


Andri mengerutkan keningnya melihat Adi berada di loteng rumahnya, tepatnya dilobi kamar Lika adiknya.


Andri langsung naik dan masuk kedalam kamar adiknya itu,


"Hehh kuda Nil! Ngapain loe disini? Adik gue mana?"


Adi tersentak karena perkataan Andri,


"Kapan loe datang?"


"Makanya jangan mikirin cewek mulu otak loe gobl*k. Jadi gak tau kan loe kalo gue dateng. Lagian loe ngapain di kamar adik gue, Lika mana?"


"Mana gue tau" jawab Adi bohong.


"Lahh gimana sih loe, loe ada di kamarnya tapi gak tau dia dimana"


"Tadi dia pergi"


"Kata loe gak tau, gak konsisten loe!"


"Iya ini serius, tadi dia pergi. Dia habis dikerjain sama sepupu loe si Sandra" celetuk Adi.


"Sandra? Dia udah balik dari Jepang?" Andri terheran-heran.


"Buktinya tadi ketemu Lika, terus ditumpahin minyak di tangga. Lika jatuh"


"Hah? Serius loe?"


"Apa untungnya gue bohong sama loe" Adi pun masuk dan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur Lika.


"Jadi gimana tadi?"

__ADS_1


"Lututnya lecet dikit, brengsek tuh si Sandra. Kaki calon istri gue sampe lecet gitu" ucapnya.


"Hehh...Sejak kapan adik gue jadi calon istri loe? Wong Lika juga punya pacar" ucap Andri bohong.


Andri ingin mempermainkan perasaan Adi yang selama ini terobsesi dengan Lika. Andri tau bahwa Lika adalah cinta pertama Adi, pastinya Adi pertama kali merasakan diobrak-abrik cinta.


"Kok bisa? Siapa laki-laki yang berani pacaran sama calon istri gue? Dia gak kenal siapa Adi Prasetya, Putra Gunawan Prasetya" jawab Adi angkuh.


" Ya elah karena kekuatan orang tua aja loe bangga Kuda Nil. Loe kira si Lika tertarik sama orang kaya dari lahir?" celetuk Andri semakin memanaskan hati Adi.


Wajah Adi memerah mendengar ucapan Andri, serasa ditampar seribu kali sakitnya. Andri dan Adi memang orang yang sudah terlahir dengan keadaan kaya raya. Orang tua mereka bergelimang harta.


Hal tersebut berbanding terbalik dengan Lika. Lika terlahir dikeluarga yang sederhana dan hanya tinggal disebuah desa terpencil. Untuk kuliah ke Yogyakarta saja ia hanya mengandalkan beasiswa. Bahkan untuk berangkat ke kota itu, orang tua Lika harus menggadaikan tanah mereka.


Beruntung setelah mengenal keluarga Andri, Mama Siska langsung bergerak cepat melunasi semua utang-piutang itu berikut bunga-bunganya.


Tringgg....


Ponsel Andri berbunyi tanda pesan masuk.


"Bang, Lika hari ini nginap di kost aja ya. Lika mau tidur bareng teman-teman" pesan dari Lika.


Setelah membaca pesan itu, Andri langsung menghubungi Lika.


"Hallo bang Andri"


"Kamu pulang sekarang, kalo teman kamu mau nginap ya di rumah aja, gak usah ke kost. Kamar kamu kan besar, pasti muat untuk kalian semua dibandingkan di kost" Andri menutup panggilannya tanpa menunggu Lika menjawab.


"Pasti dia kurang nyaman sama Sandra" ujar Andri menghela nafas.


"Ya iyalah, Sandra tadi menghina Lika sampe Lika nangis-nangis dua jam" jawab Adi melebih-lebihkan.


"Serius loe? Sandra ngomong apa aja?" tanya Andri panik.


"Tanya aja entar sama adik loe!"


"Gue tebak sih dia ngiri" sahut Adi.


Adi sibuk melihat-lihat kamar Lika, menatap setiap foto-foto yang dipajang Lika di dinding kamarnya. Adi sendiri tidak mengenali orang-orang di foto itu kecuali keluarga Andri dan sahabat-sahabatnya Lika di kampus.


"Itu keluarganya Lika di Medan?" tanya Adi menunjuk sebuah foto keluarga ditepi danau.


"Iya itu keluarganya" sahut Andri cuek karena masih memikirkan perasaan Lika.


"Gila men!! Mamanya Lika cantik. Mirip banget sama dia" celetuk Adi.


"Namanya anaknya, gimana sih loe" jawab Andri.


Sementara di kost Lika...


"Gaess..Bang Andri marah nih kayaknya. Kita nginepnya harus di rumah" ujar Lika lemas.


"Wahhh bagus dong, mau lah tinggal di istana terus jadi Princess satu hari" celetuk Adel.


"Gue sih cuman mau makan enak" sahut Ria lagi.


"Jadi kalian gak papa kalo kita nginepnya di rumah?" tanya Lika memastikan.


"Gak papa lah, Slow ae neng. Sering-sering juga gapapa" sahut Widia nyengir.


"Huuuuuuuuuuuuuu" mereka menyoraki Widia.


"Yaudah yang gak ada motor aku pesenin taxi online ya, aku yang bayar" ujar Lika.


"Langsung beda memang yang udah sultan itu" sahut Mia menyenggol lengan Lika.

__ADS_1


"Iya kan...Make duit kayak make udara" lanjut Widia.


"Halahh ribut banget sih kalian tinggal enak aja pun" geram Lia.


"Setuju! Betul! Hidup mahasiswa!" Rossa tak ingin kalah.


"Duhhh apaan sih kalian hahaha... Udah nih, taxinya udah di depan. Yukss lahhh" Lika pun mematikan AC dan lampu ruangan itu agar teman-temennya beranjak"


Walaupun Lika sudah tinggal di rumah Andri, Lika tetap sering mampir ke kost itu. Dengan uang saku yang sangat banyak diberikan Mama Siska, Lika sudah melunasi kamar kost itu hingga dua tahun kedepannya. Bahkan tidak jarang Lika membawa Mbak Lily untuk membersihkannya sementara Lika belajar di kampus.


Sesampai di rumah, Lika memarkirkan motornya didepan rumah dan diberikannya kepada salah seorang pengurus rumah itu.


Teman-teman Lika yang notabenenya mempunyai latar belakang sama dengan Lika takjub dengan rumah baru Lika.


"The real istana Princess" ujar Adel takjubnya.


"Udah ahh yuk masuk" sahut Lika.


"Gede banget cuy, mau juga lah tinggal disini" Rossa melihat setiap sudut rumah itu.


"Hei hei hei... Banyak sekali anak gadis" mereka dikejutkan oleh seorang laki-laki berjas hitam dengan kumis tebal.


"Papa udah pulang?" ujar Lika mendekati Papa Hendra.


"Iya nak, Papa baru duduk. Ini teman-teman kamu?"


"Iya pa, mereka boleh kan nginep disini malam ini?" jawab Lika.


"Seminggu juga gapapa supaya kamu ada temennya. Oiya silahkan duduk" seru Papa Hendra.


Mereka pun duduk dengan kaku.


"Biasa aja dong nak, Om gak makan orang kok" Papa Hendra bercanda mencairkan suasana.


"Makanya kumisnya dicukur aja" sahut Lika.


"Ehhh...Sejak kapan anak papa ikut-ikutan anak si Gunawan itu" Papa Hendra tertawa.


Mereka tertawa mendengar ucapan Papa Hendra.


"Pa, kami ke kamar ya" ucap Lika


"Cepet banget"


"Iya pa hehehe"


" Ya sudah kalo gitu, tapi buatin Papa kopi dulu ya. Mama kamu lagi ke Korea kata pengurus tadi" pinta Papa.


"Iya pa, Mama berangkat tadi pagi" sahut Lika beranjak dari tempat duduknya.


Lika membuatkan kopi untuk Papa Hendra dan mereka langsung naik ke kamar Lika.


"Bang Andri, Bang Adi! Ngapain di kamar Lika. Ini kamar cewek tau, ngapain kalian nongkrong disini?" Lika meringis.


"Rame banget udah kayak mau demo" ujar Adi.


"Heh Kuda Nil, loe udah salah pake ngomong gitu lagi. Bisa-bisa dia ngegantung kita berdua Gobl*k" bisik Andri.


"Bang Andri ngapain bisik-bisik? Lika denger tau" Lika mulai kesal.


"Iya iya bawel, kami keluar deh tuan putri" jawab Andri dan langsung mengajak Adi keluar.


"Colek dikit ahh" Adi menggelitik pinggang Lika.


"Bang Adiiiiiiiiii"

__ADS_1


Andri dan Adi langsung kabur sambil tertawa dan masuk kedalam kamar Andri.


__ADS_2