Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love

Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love
Bau Parfume Siapa?


__ADS_3

Sore itu Agni dan Siska kemudian beberapa kenalan, termasuk kenalan Victor. Semuanya dimintai memberikan testimoni dan ajakan mengikuti sosial media 'dapur si kembar'.


Hampir semua mengatakan cake buatan Agni sangat enak dan sangat layak untuk dijual. Beberapa mempertimbangkan harga yang dipatok Agni untuk satu jar-nya.


"Biaya produksinya tidak terlalu jauh dengan harga jual, kita hanya mengambil untung sedikit dari setiap jar. Memang harus lebih mahal dari harga cake yang lain karena kita memakai jar. Tapi aku yakin jika cake ini bakalan laris, karena kita sangat menjaga kebersihan, rasa dan akan lebih tahan lama karena cakenya ada di dalam jar kaca. Lebih mahal sedikit tidak akan menjadi masalah buat sebagian orang. Kita sasar pasar kalangan menengah atas." Agni menerangkan panjang lebar pada Siska.


Siska sebenarnya bodo amat, yang penting gajinya dibayar, dia nggak keluar biaya, malah dia akan dikasih gaji tambahan oleh Victor, belum lagi, mungkin Agni akan memberikan bonus juga dari hasil penjualan cake buatan mereka karena dia ikut membantu.


***


Dari hari ke hari, dapur si kembar semakin banyak saja pelanggannya sampai dari luar kota juga mau memesan cake buatan Agni.


Secara bertahap Agni menambah menu yang akan dijualnya. Dan tidak satupun jarnya sempat menganggur di rumah. Kini Agni juga harus memikirkan untuk menambah orang untuk membantunya dalam usaha dapur si kembar ini.


Agni mendekati Mbo Ratih.


"Mbo, mau cobai resep baru kita?" Agni tidak sedikitpun canggung, dia lebih berpikiran positif pada Mbo Ratih sekarang, dia tidak ada waktu lagi untuk berpikiran negatif di rumah itu, dia terlalu sibuk memikirkan usaha rintisannya.


"Mau, mana?" Mbo Ratih tidak sedikitpun menolak.


Mbo Ratih mencicipi, dia terdiam sebentar untuk merasakan cake baru ciptaan Agni.


"Hmm, enak. Manisnya pas, nggak buat enek. Enak-enak." Mbo Ratih sumringah. Dia menyodorkan sisa cake yang ada di dalam jar pada Agni.


"Dihabisin dong, Mbo!"


"Serius? Siapa takut?!" Mbo Ratih melahap semua cake yang ada di dalam jar.


"Kalau kamu ada permintaan khusus, kamu bisa katakan sekarang." Mbo Ratih tahu jika Agni ingin sesuatu dari dia.


"Wah, Mbo Ratih udah tahu duluan. Iya Mbo, minta mbo Ratih untuk bantu-bantu kita urus dapur si kembar ya!"


"Oh, itu. Apa yang bisa aku lakukan?" Dia bertanya, matanya menatap Agni.


"Apa saja yang Mbo bisa deh, Mbo pasti sudah lebih paham. Hehehe!" Agni segan, seolah dia akan memerintahkan Mbo Ratih yang dianggap sebagai ibu dari suaminya sendiri. Dia tidak mau memberi perintah pada Mbo Ratih.


"Ya sudah kalau begitu, tapi saya digaji kan? Hehehe!"


"Hahaha, pasti dong. Semuanya akan dapat gaji. Gaji akan dimasukkan dalam biaya produksi makanya gaji adalah hak bagi siapa saja yang bekerja di dapur si kembar. Hehehe!" Agni menjadi lebih bersemangat karena Mbo Ratih akhirnya mau bercanda lagi dengannya.


Dia merasa Mbo Ratih sudah kembali lagi.


***


Victor juga sudah semakin sibuk. Dia selalu keluar kota untuk mengurus perusahaan barunya. Di dunia premanisme, dia sudah memiliki tangan kanan untuk menggantikan posisinya, dia kini lebih sibuk untuk mengembangkan usahanya sendiri.


Pagi itu dia baru pulang dari Makassar. Dia mencium Agni yang sedang mengocok adonan.


"Resep baru lagi sayang?" Victor menyapa.

__ADS_1


"Iya, mas." Agni menyambut ciuman Victor, dia memberi keningnya yang telah dilapnya sebentar dari keringat yang menempel di sana untuk dicium.


"Asem, hahaha!" Victor menggoda Agni.


"Maaf, mas!" Agni hanya bisa mengatakan itu sambil melanjutkan mengocok adonan.


Sekilas dia mencium ada aroma yang berbeda dari baju Victor. Namun dia mengabaikannya.


***


Sore itu Agni teringat dengan aroma parfume itu. Dia mencium benar-benar aroma parfume Victor. Sangat berbeda dengan aroma yang dia cium tadi.


Agni memastikan lagi penciumannya, dia mengambil kemeja yang dikenakan Victor tadi. Dia yakin jika ada parfume wanita di sana.


Tiba-tiba Victor keluar dari kamar mandi.


"Sayang, kenapa pegang-pegang baju saya, kotor itu!"


"Iya, ini mau dicuci." Agni berbohong. Dia tidak pernah diizinkan mencuci oleh Victor.


"Loh, sayang, biar Siska saja yang cuci. Letakkan saja, nanti saya hantar ke kamar cucian." Victor melarang Agni mencuci.


"Hmm, apakah aku perlu bertanya tentang bau parfume itu. Apakah aku terlalu curiga? Kalaulah Victor benar-benar main perempuan lagi, haruskah aku melarang dia untuk pergi ke mana-mana, atau aku harus ikut dengan dia?" Agni bertanya-tanya di dalam hatinya. Dia bingung harus berbuat apa, sedang Victor tampaknya sangat menyayanginya sekarang.


"Sayang, kenapa?" Victor heran karena tiba-tiba Agni bengong di hadapannya sambil memegang bajunya.


"Agni, kenapa?" Victor mengguncang bahu Agni.


"Eh, iya, mas!" Agni tergagap.


"Mikirin apa sih?" Victor melihat baju yang dipegangnya.


"Kamu main perempuan lagi ya?" Agni akhirnya bertanya, dia memutuskan untuk bertanya.


Baca juga: Zora's scandal (Novel tamat, lihat pada profil)


"Loh, kok bisa mikir begitu sih?" Victor tidak sedikitpun marah dengan tuduhan itu. Dia memeluk Agni dan mencium keningnya lagi.


"Ini bau parfume siapa?" Agni menunjuk baju yang dia pegang.


"Parfume?" Victor mencium baju bekasnya.


Agni mengamati Victor yang sedang mencium bajunya sendiri dan dia mau melihat bagaimana ekpsresinya sendiri ketika ketahuan sudah bermain perempuan lagi dari bau parfume perempuan yang ada di bajunya.


"Ya sayang, aku tidak mencium bau parfume lain kok." Victor meyakinkan Agni kalau dia benar-benar tidak mencium bau yang dicium oleh Agni.


"Kamu tidak usah berbohong lagi, mas. Kalaupun kamu mau bermain perempuan lagi, aku ikhlas kok. Yang penting kamu terus terang saja. Aku tidak akan marah!" Agni sedih harus mengatakan itu semua.


"Nggak ada sayang." Victor masih bersikeras.

__ADS_1


"Ngaku saja, aku tidak akan marah." Agni menatap mata Victor.


Tiba-tiba Victor ingat sesuatu.


"Ohhhhhhhhh!"


"Oh, apa?" Agni heran dan ingin tahu mengapa Victor tiba-tiba teriak.


Kini dia lebih heran lagi, Victor sekarang tertawa terbahak-bahak.


"Kamu kenapa, mas?" Sekarang Agni semakin heran.


Handuk yang dililitkan di pinggang Victor hampir terlepas karena Victor tertawa terbahak-bahak.


"Aku baru ingat, hahahahahaha!"


"Ingat apa? Jangan pura-pura mengalihkan persoalan, mas!" Agni masih serius.


"Kamu sepertinya terlalu capek sayang!" Victor tiba-tiba memegang pipi Agni.


"Heh? Cape? Apa hubungannya. Kalau kamu mau mengaku saya sudah tidak menarik lagi dan harus mencari perempuan lain, aku bisa apa. Tinggal bilang saja!" Agni geram bukan kepalang, mulut dan otaknya tidak berjalan di koridor yang sama. Yang dia katakan dengan apa yang dia pikirkan jelas-jelas berbeda.


Victor mengambil lagi baju bekasnya.


"Kamu mau tahu ini bau parfume siapa?"


Agni diam, dia ingin mendengar pengakuan Victor sekarang. Dia sudah siap mendengar nama perempuan lain disebutkan oleh Victor.


"Kamu nggak ingat? Benar-benar nggak ingat?" Victor bertanya lagi.


Agni membayangkan beberapa wajah perempuan yang pernah bersama Victor.


"Kamu tidak ingat, astaga sayang. Fix kita harus liburan. Persetan dengan dapur si kembar yang membuatmu akan semakin tua di waktu yang belum tepat!" Victor kini berusaha lebih serius namun mulutnya masih ingin tertawa sejadi-jadinya.


Agni masih menunggu.


"Ini bau parfume-mu sendiri, sayang. Ingat, parfume-ku habis dan aku belum sempat beli. Aku meminjamnya darimu sayang!" Victor mengingatkan Agni.


Baca juga: Zora's scandal (Novel tamat, lihat pada profil)


Agni malu dan kesal karena dia benar-benar lupa dan merasa konyol sendiri sekarang, namun di sisi yang lain dia senang, ternyata Victor tidak bermain perempuan di luar sana.


***


Sementara di kamar sebelah, Siska tidak tenang. Dia tahu jika ikatan cinta Victor dan Agni sudah semakin membesar dan tumbuh subur.


Dia memandang bonekanya dengan marah, ingin sekali dia mencabik-cabik boneka itu, namun dia ingat kalau boneka itu adalah satu-satunya teman yang dia miliki, teman yang paling setia sejak dia masih kecil. Kemudian dia mengelus-elus pipi boneka itu lagi lalu menyimpannya ke dalam tasnya kembali.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2