
"Hi, sayang," Victor langsung menjawab panggilan dari Agni.
"Kamu beli gelang, nggak bilang-bilang. Mau kasih ke siapa?" Agni bernada tinggi.
"Wah, pagi-pagi sudah kena semprot nih." Victor menjawab Agni dengan tenang.
"Kamu ya, masih bisa sesantai itu jawabnya." Agni semakin kesal.
"Iya, aku beli gelang. Kemarin. Sudah aku kasih ke Siska. Dia ulang tahun kemarin."
***
Flashback on
Mobil Victor memasuki halaman rumah. Dari kejauhan Siska sudah melihat mobil Victor masuk. Dia siap-siap menyambut Victor.
"Selamat sore, Pak!" Siska menyapa Victor yang mau masuk ke dalam rumah.
"Selamat sore, Sis. Ada apa? Sepertinya ada sesuatu yang hendak kau sampaikan." Victor bertanya pada Siska.
"Iya, pak. Bapak kan janji beli hadiah buat saya. Emmm." Siska malu-malu mau menagih hadian dari Victor.
"Iya, kamu mau aku kasih sekarang?" Victor bertanya pada Siska.
"Iya, pak. Aku nggak mau Mba Agni melihat bapak memberiku hadiah, aku takut Mba Agni marah padaku." Siska takut-takut dengan kata-katanya.
"Emang kamu pernah diapain sama Mba Agni?" Victor bertanya melihat Siska yang kini menunduk, persis seperti pertama kali Siska memasuki rumah itu.
"Nggak diapa-apain sih, pak. Cuman saya nggak mau Mba Agni mikir macem-macem hanya karena bapak kasih hadiah ke saya." Siska melirik sebentar pada wajah Victor kemudian menunduk lagi.
"Ya sudah, kalau kamu mau sekarang." Victor merogoh celananya dan mengeluarkan kotak kecil berisi gelang yang sudah dibelinya tadi.
"Nih, aku hanya bisa kasih ini, semoga kamu senang ya. Selamat ulang tahun ya, Sis." Victor meraih tubuh Siska dan memeluknya.
"Terima kasih, pak!" Siska sangat senang karena baru kali ini dia mendapat hadiah di hari ulang tahunnya.
Terlebih, Siska sangat tidak menyangka jika Victor akan memeluknya demikian. Dia menikmati pelukan itu dengan sepenuh hati.
"Padahal aku tadi mau kasih itu saat kita makan malam nanti." Victor melanjutkan perkataannya sambil melepas pelukannya dari Siska.
"Oh, jangan pak, jangan, aku nggak biasa dirayakan seperti ini. Biar hanya bapak saja yang tahu. Yang lain tidak usah."
"Loh, kenapa?" Victor heran.
"Nggak usah, pak. Aku sudah terbiasa tidak merayakan ulang tahun, kalau dirayakan dengan yang lain malah aku jadi kaku ntar. Biarin ya pak, pliss!" Siska memohon pada Victor.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau itu maumu. Aku akan pura-pura tidak tahu jika kamu sedang ulang tahun. Tapi kamu sudah masak yang enak kan? Jangan lupa loh makan makanan kesukaanmu. Buat harimu lebih indah hari ini, karena ini adalah hari ulang tahunmu. Ya sudah, aku masuk dulu ya."
"Baik, Pak." Siska mengangguk.
Baca juga: Zora's Scandal (Novel Tamat, lihat pada profil saya.)
Sebelum Victor melangkah lebih jauh Siska sedikit meninggikan suaranya.
"Bapak, mau susu coklat?" Siska bertanya.
"Tidak usah, Sis. Biar aku minta Agni saja yang buat." Victor melanjutakan masuk ke dalam rumah.
Siska sangat senang, ingin rasanya dia berteriak. Dia mengikuti langkah Victor masuk ke dalam. Victor ke kamarnya menemui si kembar dan Agni, Siska masuk ke kamarnya sendiri.
Siska langsung membuka hadiah yang diberikan Victor itu padanya.
Matanya berbinar karena baru kali itu dia melihat gelang secantik itu. "Pasti ini harganya mahal sekali. Ya, ampun, pak Victor baik sekali." Mata siska melotot melihat gelang yang ada di tangannya sekarang. Dia langsung memakaikannya.
Flashback off
***
"Kamu kasih hadiah ke dia tanpa cerita denganku?" Agni merasa tidak dilibatkan di dalam rumah tangga mereka.
"Sayang..." Victor hendak membujuk Agni.
"Jangan ngomong gitu ah. Sebentar aku balik nih. Kita bisa bicarakan ini dengan kepala dingin. Nggak enak bertengkar lewat telpon. Sebentar ya, aku balik nih." Victor menenangkan Agni. Dia tidak mau Agni salah paham lagi dengan sikapnya.
"Nggak usah, jawab di sini saja." Agni ngotot agar Victor menjawab pertanyaannya saat itu juga.
"Sebentar, kamu itu terlalu emosian. Kamu akan tetap tidak puas jikapun aku sampaikan semuanya di sini. Aku matikan dulu ya, sampai jumpa di rumah." Victor memutus panggilan Agni dan segera balik ke rumah.
***
Sebelum Victor sampai ke rumah, Agni mendekati Siska.
"Sis, kamu kemarin ulang tahun ya? Kok nggak bilang-bilang?" Agni bertanya pada Siska.
"Iya, bu. Kok tahu?" Siska bingung, dia tahu sedang ada yang tidak beres sekarang.
"Pasti karena gelang ini!" Siska bersungut di dalam hatinya sambil memegang gelang yang baru diterimanya dari Victor.
"Kenapa kamu tutupi gelangnya?" Bukannya menjawab pertanyaan Siska, Agni malah bertanya balik dan lebih fokus ke gelang yang dipakai Siska.
"Anu, nggak kok mba. Pak Victor ngasih ini kemarin, katanya kado ulang tahun untukku." Siska menjawab hal yang tidak ditanyakan Agni padanya.
__ADS_1
"Kamu suka ya dengan pak Victor?" Agni meninggikan suaranya.
"Loh, kok mba jadi ngomong begitu?" Siska menundukkan kepalanya.
"Aku sudah perhatikan gerak-gerikmu yang aneh itu sejak aku masuk ke rumah ini lagi." Suara Agni meninggi.
Siska masih menunduk.
Saat itu Victor sudah masuk ke dalam rumah.
"Loh, ada apa ini?" Victor mendekati mereka berdua.
Mbo Ratih juga datang karena mendengar suara Agni yang meninggi.
"Oh untung kamu juga sudah datang. Kamu suka juga ya dengan Siska?" Agni bertanya pada Victor yang sampai dengan muka kebingungan.
"Denger dulu, Agni. Tahan emosinya dong. Ini bukan seperti yang kamu kira kok!" Victor memeluk Agni dan memberikan kode pada Siska dan Mbo Ratih untuk tenang juga.
Victor membawa Agni masuk ke dalam kamar.
"Sayang, jangan kasar gitu ah. Agni yang aku kenal bukan yang kasar begini loh." Victor membujuk Agni.
"Memang, aku bukan Agni yang dulu, sejak kau selalu menyakitiku. Jangan sampai tiga kali Victor!" Agni menatap Victor lekat-lekat.
"Tenang dulu, aku bisa jelaskan semuanya." Victor mengusap rambut Agni sambil menicumnya.
"Jangan cium-cium, jelaskan saja dulu!" Agni melepaskan tangan Victor yang memegang kepalanya.
"Dengar, kemarin, Siska kasih tahu jika hari ini adalah hari ulang tahunnya. Jadi aku belikan saja dia gelang, biar dia betah di rumah ini membantu kita."
"Biar betah bagaimana? Kalau dia tidak betah ya sudah ngapain dipertahankan?"
"Sayang, bukan begitu juga. Bagaimanapun aku harus bertanggung jawab atas Siska, aku yang memanggilnya ke rumah ini untuk membantu kita di sini. Intinya, dia itu orang susah di kampung, kalau dia bertingkah agak aneh, dimaklumi saja. Dia masih butuh beradaptasai kayaknya dengan kamu. Kemarin aku niatnya ngasih kadonya saat kita makan malam, tapi Siska nggak mau dirayakan ulang tahunnya, karena dia tidak terbiasa katanya. Jadi aku kasih di depan rumah kok, bukan di belakang-belakang." Victor menatap mata Agni.
"Terus kenapa nggak kasih tahu aku kalau kamu mau kasih hadiah ke Siska?" Agni mulai tenang.
Baca juga: Zora's Scandal (Novel Tamat, lihat pada profil saya.)
"Maaf kalau itu. Bukannya mau membela diri, tapi waktunya mepet banget, aku beli sepulang kerja kemarin terus langsung aku kasih saja. Aku lupa ngasih tahu ke kamu, maaf ya sayang!" Victor masih mengusap-usap pundak Agni.
"Aku jadi merasa bersalah dengan Siska." Agni berkata pelan, hampir tidak terdengar Victor.
"Kamu berhak curiga kok, tapi jangan seperti tadi dong, Kasihan Siska!" Victor menatap mata Agni. Dia melayangkan senyumnya pada Agni sebelum dia mencium lembut bibir Agni yang menggoda itu.
Bersambung...
__ADS_1
Hmm, benarkah Agni merasa bersalah? Nantikan episode selanjutnya ya readers!