
Pagi yang cerah, burung-burung berkicau di taman kecil rumah Victor namun keceriaan itu tidak membuat Victor lantas ceria, dia merasa sepi karena tidak ada Agni di rumah itu.
Dia memebatalkan beberapa pertemuan dengan para kliennya. Diutusnya anggotanya ke beberapa pertemuan yang dirasanya tidak terlalu memaksanya untuk hadir langsung.
Victor bergegas ke kontrakan Elisa. Dia mengira kalau Agni ada di sana. Dia berangkat sendiri ke sana tanpa ditemani oleh anggotanya seorangpun. Dia benar-benar ingin bertemu dengan Agni.
“Kenapa aku sebodoh ini ya? Kenapa pula aku harus perduli dengan wanita ini!” Victor bersungun di dalam hatinya, sungutnya sambil membayangkan wajah polos nan menyebalkan khas Agni.
“Apa yang terjadi padaku ya?” Victor bertanya-tanya pada dirinya, tidak pernah ada dalam sejarah hidupnya kalau dia tergila-gila pada wanita kecuali ingin memuaskan ***** birahinya saja.
Namun untuk Agni, perasaan itu beda. Dia tidak menyangka kalau dia terlalu khawatir pada Agni, terutama sekarang ini. Kini dia akan sampai di rumah kontrakan sahabat Agni.
Victor memamarkirkan mobilnya dan mulai berjalan menuju rumah kontrakan Elisa. Dia melihat ada tulisan “Dikontrakkan” pada pintu rumah itu.
“Elisa tidak di sini lagi, kemana mereka pergi? Di mana Agni sekarang? Pada siapa lagi aku harus bertanya tentang keberadaan Agni?” Victor mulai cemas akan keberadaan Agni, istri yang sudah disia-siakannya.
Victor mengetuk pintu tetangga Elisa, seorang nenek-nenek membuka pintu dan melihat Victor dengan mata penuh kecurigaan.
“Ada apa ya?” nenek itu bersuara lantang.
“Nek, perempuan yang mengontrak du rumah sebelah di mana ya?”
__ADS_1
“Bukan urasanku, tanya yang lain!” nenek itu entah memandang ke mana, membuat Victor jadi bingung.
“Kenapa jadi ngegas pula ni nenek penyok!” Victor mengutuk di dalam hatinya.
“Kau mengejekku ya, dasar anak zaman sekarang, tidak tahu tata krama!”
“Tata krama bagaimana? Aku tidak pernah mengejekmu!” Victor membela diri.
“Masalahmu adalah, kau selalu melawan kata hatimu, kau tidak mau tunduk padanya sesekali, akhirnya apa yang kau cintai pergi meninggalkanmu!”
“Eh, kita belum berkenalan, bagaimana nenek mengatakan seperti itu padaku?”
“Aku tahu penyesalanmu sangat besar, namun jika kebiasaanmu masih tetap sama dengan lokasi yang berbeda, kau tidak akan pernah menemukannya lagi, dia tidak akan kembali lagi ke rumah itu dengan sukarela. Kau telah menyakiti hatinya begitu dalam!” nenek itu memberikan nasihat pada Victor.
“Nenek tahu semua tentangku, tahu dari mana?” Victor bertanya karena keheranan pada semua yang dikatakan nenek itu.
“Kau tidak perlu tahu tentang itu, bukan urusanmu!” nenek itu murka pada Victor.
“Tapi…”
“Pulanglah ke rumah, untuk hari ini dan selanjutnya, jangan pernah mencari dia lagi, percuma, dia masih muda, dia bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik darimu!” Nenek itu menyuruh Victor pulang,
__ADS_1
“Tapi aku akan berubah, aku sudah janji dengan diri sendiri, nenek tahu mereka ada di mana?” Victor bertanya pada nenek itu.
“Samapai kau benar-benar berubah, dia akan datang sendiri padamu, pulanglah, hari ini, kau belum bisa menemukan dia!” nenek itu masih ngotot menyuruh Victor pulang dari sana dan tidak mencari Agni lagi.
“Aku sudah bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan-kesalahanku lagi!” Victor sangat yakin pada nenek itu dan tidak berdaya di hadapannya.
“Kau belum berubah, dalam beberapa hari ke depan, kau akan mencari kepuasan lagi, sementara dia sedang hamil tua.”
“Tidak akan ada lagi wanita lain di dalam rumah selain dia, aku berjanji, bisakah nenek mencari keberadaannya sekarang?”
“Maaf, aku tidak bisa membantumu untuk saat ini.”
“Loh, loh, mengapa saya masih bertahan di sini? Mengapa aku jadi memohon pada nenek ini. Aku sudah sinting, aku harus segera sadar, sadar Victor!” Victor dengan serius memikirkan hal itu.
“Kau bisa percaya pada perkataanku ataupun mengabaikannya saja, tidak ada yang merasa dirugikan kalau kau tidak percaya padaku. Aku tidak bisa mengontrol apa yang ada di luar kuasaku!” nenek tua itu benar-benar tahu apa yang ada di dalam pikiran Victor.
“Ti, tidak bermakusd demikian, maafkan aku!
“Maka pulanglah, ada banyak orang yang perlu denganku hari ini!” nenek iu mengusir Victor.
Jangan lupa like, komen, favorite, dan share 🙏
__ADS_1