
Agni sedang tidak ingin berdebat dengan situasinya saat itu, termasuk pada Mbo Ratih.
"Tidak kok, tidak apa-apa!" Agni menjawab agar Mbo Ratih tidak memperpanjang persoalan itu.
"Jangan kira aku tidak dengar ya!" Mbo Ratih malah merasa dicueki, tidak dianggap oleh Agni karena Agni berusaha mengelak berdialog dengannya.
"Mbo, nggak apa-apa kok. Nggak usah diperpanjang!" Victor berusaha menengahi.
"Kalau nggak apa-apa, kenapa Siska digibahi di belakangnya?" Mbo Ratih tampak terlalu membela habis-habisan Siska saat itu.
Agni semakin yakin jika Mbo Ratih sudah berada di pihak Siska sekarang ini. Dia masih tetap tidak mau berdebat, dia menunduk saja, dan membiarkan Victor yang menjawab pembelaan Mbo Ratih terhadap Siska.
"Bukan gibah, Mbo! Hanya aneh saja, kenapa Siska hanya buatkan sarapan buat saya, emang Agni bukan majikannya di sini? Agni istriku loh Mbo!" Victor mengingatkan Mbo Ratih akan keanehan kecil yang dilakukan Siska.
"Kalau mau kan tinggal minta saja, jangan merasa tidak dianggap terus menuduh Siska aneh pula!" Mbo Ratih masih membela Siska.
"Sudah ah, aku mau berangkat dulu, baik-baik di rumah ya sayang, kalau ada apa-apa minta tolong ke Mbo Ratih atau Siska. Nggak usah mikir aneh-aneh lagi ya!" Victor meraih tasnya dan mencium kening Agni lalu pergi disusul Angni dan meninggalkan Mbo Ratih berdiri sendiri di sana.
Agni diam saja, dia merasa ada kejanggalan di rumah itu sekarang, tapi Agni tidak tahu kejanggalan apa yang dirasakannya itu berasal dari mana atau hanya perasaannya saja.
***
Agni menghirup udara dalam-dalam setelah dia sampai di kamarnya, memandangi wajah Abisetya dan Abiwara. Dia tersenyum mengingat jika kedua anak kembarnya sudah semakin besar. Hanya kedua anak kembarnya kini yang menemani hari-harinya selama Victor tidak ada di rumah.
Agni benar-benar merasakan kejanggalan demi kejanggalan sekarang. Selama Victor tidak ada di rumah, tidak sekalipun Siska mau membantu Agni untuk merawat anak-anaknya, padahal kedatangannya ke sana awalnya hanyalah untuk merawat anak-anak itu.
Kini dia punya alasan untuk tidak merawat si kembar karena sudah membantu Mbo Ratih memasak di dapur.
Akan semua itu, Agni menyimpan perkara itu hanya di dalam hatinya. Dia tidak mau sedikitpun memerintahkan Siska untuk melakukan sesuatu hal, dia mau melihat kesadaran Siska untuk membantunya jika sedang kerepotan menghadapi si kembar.
***
"Sa, apa kabar?" Siang itu Agni menghubungi Elisa setelah si kembar terlelap di kerangjangnya masing-masing.
__ADS_1
"Baik, ada masalah lagi?" Elisa langsung menebak, setiap kali Agni menghubunginya pasti ada saja persoalan yang akan didengarkannya dari Agni, sahabatnya itu.
"Tidak..." Agni jadi ragu untuk bercerita dengan Elisa karena tidak enak harus selalu curhat dan mengeluh pada Elisa dan menghubunginya saat-saat dia memiliki masalah saja.
"Hmm, elu mulai ragu nih cerita ke gue?" Elisa tahu jika Agni sedang memiliki keraguan di sebarang sana.
"Tidak cuman..."
"Tuh, cerita aja, nggak apa-apa kok, ingat itu gunanya sahabat, teman saat suka terutama dalam duka, biar jadi suka lagi, hehehe!" Elisa mencoba menghibur Agni dari seberang.
Kemudian Agni bercerita tentang Siska dan Mbo Ratih yang seolah berkomplot ingin membuat Agni tidak betah di ruamh itu. Dia merasa aneh jika Mbo Ratih akhirnya lebih memihak pada Siska daripada dirinya yang dulu sangat disayangnya, dirisaukannya.
"Ohh, itu, gue juga sudah merasakan hal yang sama sih. Tapi gue belum pasti seratus persen karena bisa saja penilaiannku salah karena baru pertama kali bertemu dengan mereka kan. Tapi emang aneh sih!" Elisa mengingat-ingat lagi saat dia diajak makan malam bersama oleh Victor.
"Tuh kan, gue juga ngerasa sih saat itu!" Agni mengingat kembali saat Mbo Ratih sungguh membangga-banggakan Siska di depan mereka saat itu.
"Nggak apa-apa Ni, elu mesti bertahan dulu, selama Victor masih ada di pihakmu tidak akan jadi soal. Coba amati lagi mengapa hal-hal itu bisa terjadi. Dan berusahalah bersikap sangat alami seperti tidak ada masalah apa-apa dengan mereka!" Elisa mengingatkan Agni.
Baca juga: Zora's scandal (sudah tamat)
"Baik, jangan segan-segan untuk cerita sekali lagi! Bye!" Elisa langsung memutus panggilan karena dia juga sedang ada berasama pelanggannya.
***
"Sebentar!" Agni berteriak, setelah memastikan kalau sambungan dengan Elisa sudah terputus dia berlarian kecil menuju pintu.
Agni membuka pintu melihat ada Siska di sana.
"Ada apa, Sis?" Agni berusaha sekuat mungkin untuk tidak menunjukkan wajah kesalnya pada Siska.
"Ada tamu yang mencari Mba, ada di ruang tamu sedang menunggu!" Siska melirik sebentar ke dalam kamar, entah apa yang ingin dilihatnya di dalam.
Agni pura-pura tidak tahu jika Siska melirik ke dalam.
__ADS_1
"Siapa ya?" Agni bertanya lagi, sambil merapikan ikat rambutnya.
"Nggak tahu, Mba!" Siska masih curi-curi pandang ke dalam kamar Agni dan Victor.
"Kenapa seperti mencuri-curi pandang ke dalam kamar, Sis?" Agni tidak tahan untuk menegur Siska saat itu juga.
"Eh, nggak apa-apa kok, Mba. Hanya mau melihat si kembar, rindu mereka!" Siska menjawab cepat pertanyaan Agni. Dia juga pura-pura dan tidak menanggapi berlebihan pertanyaan Agni.
"Aku ke depan dulu. Tolong buatkan ari minum buat tamu kita ya!" Agni menatap tepat di mata Siska.
"Eh, baik, Mba!" Siska masih berusaha seprofesional mungkin, dia tidak mau melawan pada Agni.
Agni berjalan sebentar lalu berhenti dan berbalik melihat Siska masih berdiri di sana.
"Sis, buatkan minum buat tamu kita!" Agni mengulangi perintah yang sudah diperintahkannya tadi sambil menahan kejengkelan dirinya pada Siska karena Siska terkesan melawan padanya.
"Eh, baik, Mba!" Siska langsung berbalik dan menuju dapur untuk mengambil minum pada tamunya.
Siska bersungut-sungut di dalam hatinya. "Sekarang aku tidak bisa melihat bahkan ke dalam kamar Victor, apa-apaan sih?" Siska merungut di dalam hatinya.
Dia membuatkan teh manis putih untuk tamu Agni. Dia berhenti sebentar dan kembali berjalan menuju ruang tamu.
Siska melihat tamu Agni itu senyum-senyum dan seperti malu-malu menghadapi Agni. Siska tahu jika laki-laki itu sepertinya kagum dengan Agni, dari tatapan matanya, Siska bisa tahu jika ada ketertarikan yang tidak biasa terhadap Agni.
Baca juga: Zora's scandal (sudah tamat)
Siska betanya-tanya di dalam hatinya, siapa gerangan laki-laki yang sedang berkunjung ke rumah Agni itu. Dan entah mengapa, Siska merasa laki-laki itu memiliki daya pikat yang lumayan, di atas rata-rata laki-laki pada umumnya, mirip-mirip Victor. Tapi dia bingung memutuskan siapa yang lebih memikat antar Victor dan laki-laki itu.
Siska benar-benar gembira mengingat laki-laki yang dijumpainya di Jakarta mirip-mirip artis semua, cakep-cakep.
"Sepertinya laki-laki di Jakarta cakep semua, kayak aktor-aktor film yang sering aku tonton di layar kaca saat di kampung. Hihihi..." Siska cekikikan di dalam hatinya.
Bersambung...
__ADS_1