Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love

Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love
Siska Yang Berubah


__ADS_3

Agni dan Siska berangkat ke pasar dihantar oleh supir mereka, sepulang menghantar Victor ke Bandara.


Hari itu Siska sangat kooperatif pada Agni. Agni melihat Siska berubah beratus-ratus derajat dari awal mereka ketemu di rumah.


Karena perubahan itu Agni berencana akan menghubungi Elisa sahabatnya, dia ingin memberi kabar padanya perihal perubahan sikap Siska padanya.


"Sa, angkat dong!" Agni berharap agar Elisa mengangkat panggilannya.


Agni mencoba terus menghubungi Elisa, namun Elisa tidak menjawab.


Agni tidak tahu harus bercerita ke siapa lagi. Kemudian dia ingat jika Victor mungkin sudah sampai di Makassar. Tetapi diurungkannya niatnya itu karena tidak mau menganggu pekerjaan Victor di sana.


Dia mulai lagi menghubungi Elisa.


"Haloo!" Elisa menjawab dari seberang sana.


"Elu ke mana saja sih?"


"Tadi lagi di kamar mandi, mandi. Gue dengar kok panggilan masuk, makanya kau buru-buru nih!" Elisa menjawab dari seberang sana.


Agni mendengar ada suara laki-laki di sebarang sana.


"Elu lagi di mana, Sa?" Agni bertanya, dia heran karena ada suara laki-laki di sebarang sana.


"Di kamar. Kenapa?" Elisa memberikan kode pada Jay untuk diam sebentar.

__ADS_1


Baca juga: Zora's Scandal (Novel Tamat, lihat pada profil saya)


"Kamu bawa pelanggan lagi ke kamar?" Agni menaikkan suaranya.


"Bukan, Jay ada di sini!" Elisa menjawab santai. Dia tidak mau menutup-nutupi pada Agni jika Jaylah yang ada di sana, toh Agni juga sudah menikah, dia tidak akan pernah cemburu dengannya, lagi, Agni tidak pernah suka dengan Jay, Jay-lah yang mengejar-ngejar Agni.


"Oh, Jay. Sejak kapan?" Agni kaget dengan kabar yang didengarnya dari Elisa.


"Iya, kami ketemu kok dengan Victor. Oh, iya, gimana kemarin dengan Victor mengenai gelang itu, elu nggak minggat lagi kan?" Elisa mengejek Agni.


"Nggak, nah itu tuh yang gue mau cerita!"


"Gimana?" Elisa tidak sabar ingin mendengar cerita dari Agni.


"Iya, kan, gue juga bilang begitu dari awal. Terus gimana?" Elisa bertanya lagi, dia mau Agni cerita lebih jauh lagi.


"Nah, entah mengapa juga, gue seperti bukan diri gue sendiri. Gue bisa tiba-tiba kepikiran minta maaf pada Siska karena sebelumnya gue marah ke dia perihal gelang itu. Tapi iya sih, gue salah, tapi entahlah gue nggak ngerti, makanya gue nelpon nih. Gimana menurut lu?" Agni meminta pertimbangan dari Elisa.


"Elu harus kuat doa deh kayaknya, takutnya ada apa-apa dengan Siska. Bulu kuduk gue merinding gile, hahahaha!" Elisa tiba-tiba ketawa.


Dia merasa lucu dengan isi kepalanya sendiri.


"Sa. bisa serius nggak sih?" Agni kesal karena Elisa menertawakannya.


"Iya, tapi gue serius loh, elu kudu banyak doa. Gue sih nggak percaya hal-hal mistis ya, tapi in case itu beneran ada, siapa tahu loh. Elu harus jaga-jaga." Elisa akhirnya bisa serius.

__ADS_1


"Iya, gue juga mikirnya begitu. Gue doa kok biar keluarga kecil gue nggak kenapa-kenapa, tapi aneh nggak sih, gue kayak takut pada sesuatu hal yang belum pasti."


"Ya, nggak apa-apa juga. Yang penting tetap hati-hati aja."


"Tapi dia tiba-tiba baik banget loh, sekarang." Agni masih ingin bicara dengan Elisa.


"Iya, bersikap biasa aja dengan Siska dan Mbo Ratih, mana tahu juga kan sebenarnya tidak ada terjadi apa-apa." Elisa mengingatkan Agni lagi.


"Ok, deh. Jay, ngapain di sana?" Agni bertanya lagi cepat-cepat agar dia tidak lupa bertanya.


"Biasa, ntar deh gue cerita lagi, kami mau makan nih. Laper!" Elisa tidak mau cerita lebih jauh tentang Jay dan rencana Jay yang inign menikahinya.


"Ok, deh. Sukses ya rencananya!" Agni seolah sudah tahu dengan rencana Jay dan Elisa.


Baca juga: Zora's Scandal (Novel Tamat, lihat pada profil saya)


"Rencana apaan?" Elisa bertanya, ada senyum di bibirnya.


"Ya, rencana apa aja sih. Elu yang tahu apa rencana elu. Udah deh, makan gi sono. Makasih ya sudah mau angkat telpon. Sekali lagi jangan kelamaan ngangkat telpon. Awas lu. Bye!"


"Bye!" Elisa mengakhiri panggilan Agni.


Agni memiliki rencana tersendiri yang hanya dia yang tahu. Mungkin si kembar tahu, karena Agni selalu mengajak si kembar berdiskusi walau si kembar hanya senyum-senyum saja menimpali semua curhatan Agni.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2