
Setelah di depan rumah, Victor mengangkat koper mereka ke dalam rumah. Dia pura-pura menjadi suami yang baik lagi di depan Mbo Ratih. Dia tidak mau jika Mbo Ratih melihat dia dan Agni sedang berantam. Dia harus pura-pura baik di depan Mbo Ratih.
Agni heran dengan perubahan Victor yang tiba-tiba itu. Seketika dia sadar setelah melihat Mbo Ratih tergopoh-gopoh menyambut kedatangan mereka dengan seorang bayi di gendongannya.
“Hai, kalian sudah sampai. Kalian tega ya meninggalkan anak-anak begitu lama!” Mbo Ratih senyum kemudian murung lagi, dia ingin menunjukkan kekesalannya karena Agni dan Victor pergi tanpa membawa anak-anak mereka terutama tidak membawanya serta.
“Ya, mbo, baru juga seminggu, rindunya sudah begitu aja!” Victor tersenyum pada Mbo Ratih sambil mengambil alih anak yang ada digendongan Mbo Ratih.
“Seminggu, ya lama!” Mbo Ratih menyerahkan anak itu.
“Ini si Abang atau si Adek?” Victor bertanya pada Mbo Ratih.
Mbo Ratih diam sebentar. Kemudian menunjuk ke baju yang dikenakan anak itu, ada kain yang dijahitkan di baju itu.
“Baca sendiri di situ, ada nama mereka aku buat di baju mereka!”
“Abisetya?” Victor heran, dia mengerutkan keningnya. “Mbo kasih nama mereka ya?” Victor melongo.
“Iya, habis, mereka menangis terus, dan aku pikir karena mereka tidak terima jika namanya sesederhana Abang dan Adek.” Mbo Ratih menyampaikan spekulasinya. Dia menatap anak itu.
“Sejak nama mereka aku ganti, mereka jadi anteng, nggak nangis lagi, iya kan Abi?” Mbo Ratih berbicara pada Abisetya.
“Walah, kok si Mbo nggak bilang-bilang kalau mau ganti nama mereka?” Victor bertanya lagi, dia melihat ke arah Agni yang seolah tidak peduli sedikitpun dengan apa yang sudah diperbuat oleh Mbo Ratih pada anak-anak mereka.
“Aku nggak mau mengganggu kalian. Aku panik saat itu, mereka menangis terus. Aku pikir, biar kalian pulang dulu baru aku kasih tahu.” Mbo Ratih menerangkan apa yang sebenarnya telah terjadi dengan kedua anak itu sepeninggal Agni dan Victor.
“Sayang, bagaimana ini?” Victor bertanya pada Agni.
__ADS_1
“Jangan pura-pura manis ya, kita harus bicara setelah ini!” Agni bersungut di dalam hatinya. Dia sangat geram dengan kelakukan Victor.
“Sayang!” Victor mengguncang tangan Agni yang masih tampak tidak memiliki ekspresi.
“Agni!” Mbo Ratih memanggil Agni.
Agni terkesiap. “Iya, gimana?”
“Kamu nggak keberatan kan kalau nama anak-anakmu diganti jadi Abisetya dan Abiwara? Nama yang bagus kok, aku sampai mencarinya di daftar nama anak yang paling bagus di mesin pencarian internet!” Mbo Ratih meminta dukungan dari Agni.
“Oh, bagus kok, nggak apa-apa, terima kasih sudah memberi nama yang bagus buat anak-anak kita, Mbo!” Agni benar-benar tidak peduli dengan semua yang sedang mereka bahas kali itu. Ada hal yang lebih urgen yang harus dibahasnya dengan Victor sekarang.
Agni mengambil koper yang diletakkan Victor karena harus menggendong Abisetya, dan berjalan menuju kamar mereka.
“Agni, kamu beneran nggak apa-apa kan?” Mbo Ratih jadi merasa bersalah karena sikap Agni yang tampak ketus itu.
“Apa Agni marah ya, karena aku mengganti nama anak-anak mereka?” Mbo Ratih bertanya di dalam hatinya saat dia sudah tertinggal di tempat sedangkan Victor berjalan mengikuti langkah Agni dengan Abisetya di gendongannya.
“Aku ingin bicara serius denganmu sekarang!” Agni meninggikan volume suaranya sedikit agar apa yang disampaikannya benar-benar sampai dengan baik ke telinga Victor.
Victor meletakkan Abisetya di samping Abiwara, kemudian menatap Agni dengan pandangan yang kurang mengenakkan.
“Kau mau apa lagi?” Victor menatap Agni.
“Aku mau tahu, apa yang sudah kau lakukan malam tadi sehingga kau uring-uringan sampai sanggup menyinggung masa laluku di pesawat tadi?” Agni geram dengan sikap sok manis Victro di hadapan Mbo Ratih tadi.
“Bukan urusanmu kataku, aku tidak suka dengan perempuan yang sok mau tahu semua urusan laki-laki!” Victor tidak mau berterus terang pada Agni.
__ADS_1
Jawaban Victor membuat Agni semakin berang. Dia bangkit dari duduknya dan menghampiri Victor.
“Aku tidak suka dengan laki-laki yang merasa perempuan harus selalu di bawah laki-laki, dan tidak bisa tahu apa yang dilakukan suaminya sendiri sampai tega meninggalkan istrinya di penginapan saat mereka sedang berbulan madu! Pasti ada sesuatu yang sedang memabukkanmu, iya kan? Jujur saja!” Agni mengeluarkan praduganya.
“Kau terlalu banyak menghayal, kau mengada-ada!” Victor mengelak dari tatapan Agni. Dia tidak berkutik di hadapan Agni, karena Agni benar-benar memiliki firasat yang tajam akan apa yang telah dilakukannya.
“Kau tidak perlu mengelak, dan heran, mengapa aku bisa tahu apa yang sedang kau sembunyikan dariku, aku seorang istri, Victor, aku punya firasat, mungkin kau tidak akan mempercayainya, tapi aku benar-benar yakin dengan apa yang tengah terjadi dengan suamiku!” Agni menebak lagi apa yang ada di dalam pikiran Victor.
“Kau terlalu percaya diri dengan firasatmu itu!” Victor masih mengelak, dia pura-pura bermain-main dengan anak-anaknya.
“Memang benar, dan sikapmu yang aneh ini, semakin meyakinkanku jika kau sedang menutupi sesuatu padaku, sesuatu yang mungkin bisa mengecewakanku, iya kan?” Agni menarik tangan Victor agar Victor mau menatap matanya, dia tidak suka jika Victor membelakanginya sementara dia sedang berbicara.
“Plaaak!” Victor menampar keras wajah Agni. Agni tergeser ke kanan, dia benar-benar tidak menyangka jika Victor sudah mau lalu tangan dengannya.
“Kau!” Agni terbata, dia menangis, dia benar-benar percaya denga napa yang sedang dialaminya saat itu. Seketika harapannya untuk hidup bahagia dengan Victor selamanya sirna, menguap begitu saja.
“Jangan sesekali memaksaku untuk berbicara, bukan hakmu memaksaku berbicara atau menuruti semua apa yang kau mau! Kau bukan siapa-siapa di rumah ini, hanya pelacur yang tidak tahu diri!” Victor emosi, dia tidak bisa mengendalikan emosinya saat itu. Rasa kasihan melihat Agni terisak kalah dengan emosinya yang memuncak.
“Kau benar-benar egois, kau hidup penuh kepura-puraan, untuk apa kau pura-pura manis di hadapan Mbo Ratih, sementara aku kau perlakukan seperti ini saat tidak seorangpun yang melihat tingkahmu? Aku lagi-lagi telah salah menilaimu, aku jatuh di lubang yang sama berkali-kali, terlalu percaya akan perubahan orang lain. Aku tidak mau terkurung di rumah yang tidak menerimaku apa adanya ini, nikmati hidupmu sendiri, dan kau tidak akan dapat gangguan lagi dariku, selamanya!” Agni memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam koper kecilnya dan dia berniat pergi meninggalkan Victor dan anak-anaknya.
Agni mencium Abisetya dan Abiwara bergantian, dia mengambil gambar keduanya dan pergi meninggalkan mereka bertiga di dalam kamar.
Victor tidak mau menahan Agni, dia yakin jika Agni hanya marah untuk waktu yang tidak akan lama, dia pasti kembali lagi ke rumah itu. Dia pasti tidak bisa hidup tanpa kedua anak kembarnya.
Baca juga: Zora's Scandal (Baru tamat, lihat pada profil saya di noveltoon/mangatoon)
Victor menyeringai di belakang Agni yang berjalan keluar dari kamar, dia tersenyum melihat tingkah Agni yang dinilainya lebih kekanak-kanakan daripada tuduhan yang dialamatkan Agni padanya.
__ADS_1
Jangan lupa kasih dukungannya ya ka, vote, like, komen dan share novel ini agar semakin banyak pengunjungnya, masih sepi banget nih! Hehehe, terima kasih kaka-kaka semuanya!
Bersambung…