Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love

Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love
Uji Coba


__ADS_3

"Sis, kita mau buat cake in jar dulu ya, kamu bantu ya, ini bahan-bahan dan takaran yang dibutuhkan untuk membuat 10 jar. Kira-kira kita coba buat berapa jar dulu nih?" Agni bertanya pada Siska, dia mau Siska benar-benar terlibat dengan usaha kecil-kecilannya ini.


"Berapa ya, aku nggak ngerti Mba, biar mba saja yang putuskan."


"Hmm, menurutmu berapa?" Agni masih ingin Siska menyebut angka yang terlintas di otaknya.


"Gimana kalau 20 saja bu." Siska akhirnya menyebutkan angka.


"20 ya, baik kalau begitu kita buat 20 jar dulu." Agni sepakat.


"Iya segitu aja dulu, Mba." Siska mengulangi.


"Sebelumnya kita buat 4 jar dulu, nanti kita minta pendapat Mbo Ratih dan Victor, kita berdua juga perlu cicip sebelum kita benar-benar yakin rasanya itu sudah pas.


"Sep, siap, mba. Coba aku buatkan dulu ya."


"Eh, Sis. Buat 10 jar aja deh sekalian. Aku yakin kok kalau cake-nya pasti enak." Agni memberikan senyum optimis pada Siska.


"Siap, Mba." Siska membuat gerakan menghormat pada Agni. Dia senang karena akhirnya Agni bisa mempercayainya.


"Ok, Sis. Sementara kita buat cake-nya, aku akan rekam untuk bahan promosi di sosial media ya."


"Cocok, Mba."


"Kalau begitu, yuk langsung kerja."


Mereka berdua pergi ke dapur untuk membuat cake-nya.


***


Sementara di Makassar.


Semua urusan yang perlu diselesaikan oleh Victor sudah selesai. Tidak ada urusan yang terlalu rumit yang bisa diselesaikan oleh Victor.


Malam itu dia berencana untuk segera kembali ke Jakarta.


Salah satu sekretaris di perusahaan barunya disuruhnya untuk memesan tiket pesawat hari itu juga.


"Maaf, Pak. Tiketnya full booked semua. Kalau besok subuh baru ada, Pak."

__ADS_1


"Ya sudah, ambil itu saja. Aku sudah tidak sabar lagi ketemu dengan istriku."


"Wah beruntung sekali isteri Bapak punya suami yang baik seperti Bapak." Sekretaris muda itu menimpali Victor.


Sekretaris muda itu berani menimpali begitu karena Victor juga tidak canggung menyebut isterinya di hadapan perempuan muda itu.


"Hahaha, aku yang beruntung punya isteri seperti dia."


"Pasti isterinya Bapak cantik dan baik banget ya, Pak?!"


"Pasti dong, hehehe. Ya sudah kalau kamu sudah dapat tiketnya, langsung check in dan kirim ke saya ya."


"Baik, Pak. Segera saya kirimkan." Sekretaris muda itu melemparkan senyum termanisnya pada Victor.


Victor berencana akan menginap di hotel dekat Bandara saja hari itu, maka dia berencana check ini siang itu juga.


Dia meminta supir perusahaan menghantarnya ke sana.


***


Malam itu seperti biasanya, Victor tidak bisa tidur. Selain dia juga tidak mau ketiduran dan ketinggalan pesawat.


"Oh begitu, nggak apa-apa, Mas. Aku tunggu ya."


"Nggak usah ditungguin. Kamu tidur saja ya. Pintu jangan dikunci." Victor mengingatkan Agni.


"Oh, iya, kami sudah buatkan cake untuk mas cicipi tadi siang. Ada di kulkas. Kalau mau dimakan boleh mas, manatahu nanti aku ketiduran."


"Oh, itu sampel cake yang akan kalian jual ya?" Victor antusias.


"Iya, sebelum benar-benar di jual, semua orang di rumah ini harus sepekat dulu kalau cake-nya itu benar-benar enak dan layak untuk dijual, heheheh!"


"Hmm, pasti enak. Aku yakin seratus persen." Victor meyakinkan Agni.


"Coba dulu, jangan ke-pede-an!"


"Harus pede dong!" Victor menyemangati Agni.


"Siaaap, gimana urusan di Makassar, mas?"

__ADS_1


"Aman, semua masih terkendali. Harusnya aku sudah sampai di Makassar nih, tapi tiket pesawat adanya besok subuh."


"Oh, begitu. Nggak apa-apa. Hati-hati di jalan ya, mas!"


"Iya, pasti. Terima kasih sayang. Gimana si kembar?"


"Mereka sepertinya sudah rindu dengan papanya." Agni membuka kamera agar Victor bisa melihat si kembar yang sedang tidur.


"Wah, si kembar makin hari makin tembem saja."


"Iya, mas. Heheh."


"Aku semakin tidak sabar untuk pulang ke rumah!"


"Jangan lebay!" Agni menggoda Victor.


"Lebay apaan? Nggaklah, kamu nggak suka kalau aku lebih rindu pada si kembar dari padamu ya?" Victor balik menggoda Agni.


"Ye, apaan!?" Agni merasa Victor bisa membaca pikirannya.


"Bilang saja, iya!" Victor masih menggoda Agni.


"Iya, iya, harusnya aku juga dirindukan dong!"


"Pasti dong, sayang. Aku selalu rindu berada di sampingmu!"


"Gombal, udah ah. Kamu istirahat dulu di sana!" Agni berencana hendak mengakhiri panggilan.


"Jangan dulu dong, aku masih mau melihat wajahmu yang cantik itu!" Victor masih berusaha menggombal.


"Jangan, nanti kamu cepat bosan. Simpan rindumu sampai besok ya! Bye."


"Bye. Sampai jumpa besok, sayang!"


"Sampai jumpa besok, mas! Hati-hati di jalan!" Agni mengingatkan Victor.


"Sep!" Victor memberikan jempolnya pada Agni lewat kamera.


Agni melambaikan tangannya pada Victor.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2