
Hari itu, pagi sangat cerah, walau tidak ada kicauan burung seperti saat kita sedang di Kampung, Elisa bangun dengan semangat yang menggebu-gebu.
“Agni, bangun!” Elisa menggoyang-goyangkan tubuh Agni yang masih terlelap.
Agni masih ingin tertidur, matanya sangat berat karena dia tidak bisa tidur lagi sampai pukul 4 sore. Dia hanya memandangi Elisa yang sangat baik padanya. Kalau dia bosan melihat wajah Elisa dia beralih ke wajah kedua anaknya, si Kembar.
“Agni! Bangun Agni! Agni, bangun, Ni, bangun!” Elisa mencoba membangunkan lagi Agni.
“Apa sih?” Agni menggeliat, dikuceknya matanya yang masih terasa berat.
“Anakmu sudah pada bangun, jangan malas, mereka butuh makan!” Elisa mengingatkan Agni, manatahu dia lupa jika dia sudah punya tanggungjawab sekarang.
“Elu sudah seperti Victor,” Agni bangkit, namun matanya masih tertutup.
“Victor terus, elu sudah dipelet oleh Victor sepertinya!” Elisa memegang kedua tangan Agni yang masih mengucek matanya.
“Ah, jangan bahas itu lagi, gw mau kerja hari ini!” Agni menatap mata Elisa, dia ingin kelihatan bersungguh-sungguh sekarang.
“Kerja apa?” Elisa terkejut karena pernyataan Agni. Itu artinya Agni mau menitpkan anaknya pada orang lain.
“Apa saja yang bisa dikerjakan!” Agni mengedipkan matanya pelan, dia masih ngantuk.
“Elu masih bermimpi ya?” Elisa menampar pelan wajah Agni.
“Sakit, jangan menamparku seperti itu, gw sudah benar-benar sadar sekarang” Agni melotot.
“Anakmu?” Elisa menuntuk anak-anak Agni.
“Gw akan menitipnya, gw tidak mau membebani elu sendiri, gw juga harus mencari kerja!” Agni melihat sayu Elisa yang masih kebingungan.
“Yakin?” Elisa masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
__ADS_1
“Ya, yakin!” Agni tersenyum pada Elisa.
Elisa senang karena Agni sudah bisa move on dari persoalan memberi seorang bapak pada kedua anaknya.
“Mau kerja apa sekarang?” Elisa memeringkan kepalanya namun matanya masih menatap Agni.
“Apa saja yang boleh menghasilkan duit!” Agni main mata pada Elisa.
“Hahaha, serius?” Elisa masih tidak percaya.
“Serius dong!”
“Hahaha!” Keduanya tertawa sambil berpelukan.
Di tengah-tengah tawa mereka beruda, ada suara ketukan dari luar. Mereka beruda langsung berhenti tertawa dan kini merasa tegang, karena tidak ada yang pernah mengetuk pintu mereka selama mereka tinggal di sana.
Mereka saling tatap. Tidak ada yang bergerak sama sekali, mata keduanya melihat ke arah pintu. Telinga mereka mendengar ketukan yang semakin nyata.
“Permisi!” kini ada suara laki-laki dari luar.
“Permisi!” Suara itu semakin kencang dan tegas, ketukannya semakin kencang.
“Siapa?” Elisa memberanikan berbicara, bertanya lantang pada pemilik suara di balik pintu itu.
“Saya, bu!” Suara itu berubah lembut.
“Saya siapa?” Suara Elisa membentak.
“Victor!” Laki-laki yang di luar itu mengaku bernama Victor.
“Victor siapa?” Elisa masih berusaha tegas namun jantungnya sudah berdetak kencang, dia takut jika Victor yang di luar itu adalah Victor suami Agni, dan hal itu sudah mendekati 98 persen, karena kemungkinan Victor yang lain yang datang sangat kecil.
__ADS_1
Agni ikut tegang, namun dia juga senang bukan main. Hanya dia ragu, apa maksud kedatangan Victor ke apartemen mereka.
“Apakah dia datang untuk mengambil anak-anakku ini? Apakah dia akan mengajakku pulang ke rumah? Apakah dia menginginkanku? Apakah selama ini dia benar-benar mencariku?” pertanyaa-pertanyaan itu muncul di pikiran Agni.
“Jangan-jangan dia datang mau menghajar kami berempat, apa yang harus kami lakukan?” Agni masih bertanya-tanya di dalam pikirannya sendiri. Agni tidak sadar beranjak mengambil pisau dari lemari di dekat kompor.
“Agni kau ngapain pegang pisau?” Elisa melotot pada Agni.
“Jaga-jaga, manatahu dia mau berbuat jahat pada kita!” Agni memasang kuda-kuda saat Elisa mau membuka pintu.
“Letakkan pisaumu!” Elisa berbisik dan melotot pada Agni.
“Tidak!” Agni masih berlakon bengis, seolah dia akan menghadapi musuh yang paling berbahasa sejagat raya.
“Letakkan!” Elisa masih melotot, digigitnya giginya sendiri dan memperlihatkan itu pada Agni agar sahabatnya itu mau menuruti perintahnya.
“Permisi, aku datang dengan damai, tolong beri aku masuk!” suara itu terdengar memohon.
“Agni, lepas pisaunya,” Elisa masih setengah berbisik, dia tidak mau laki-laki yang mengaku Victor itu melihat ulah Agni saat dia membuka pintu nanti.
Elisa merampas pisau yang dipegang Agni, dan meletakkannya di atas meja.
“Nih, kalau dia macem-macem, ambil dan silakan berbuat apapun semaumu!” Elisa kesal karena aksi Agni yang berlebihan.
Baca juga: Zora's Scandal (Lihat Pada Profil) 🤗
“Agni, aku tahu kau ada di dalam, bukalah, aku mau bicara sebentar!” Laki-laki yang mengaku sebagai Victor itu masih memohon-mohon sambil mengetuk pintu.
“Sebentar!” Elisa berteriak. Dia menarik nafas panjang dan dalam dan memasang muka sangar pada laki-laki yang sebentar lagi bertatapan dengannya itu.
Elisa membuka pintu dan betapa dia tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
Like, komen, vote, share, makasih😃😃😃😃😃
Bersambung…