Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love

Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love
Kembali ke rumah Victor lagi?


__ADS_3

Victor kesulitan menemukan keberadaan Agni. Namun walau demikian, dia tetap mendoakan yang terbaik bagi keduanya, anak dan ibunya. Sementara dia masih terus uring-uringan dan menyalahkan siapa saja yang dekat dengannya, bahkan dia sendiri juga disalahkannya juga. Dia sangat menyesal telah menyia-nyiakan waktu dan kesempatan untuk mencintai dan menyayangi Agni dan calon bayinya.


Victor menerima panggilan dari salah satu anggota kepercayaannya, dan tampaknya dia membentak-bentak orang itu, dia marah karena laporannya negatif, keberadaan Agni tidak ditemukan di rumah sakit manapun.


“Semuanya kumpul di rumah secepatnya!” Victor teriak pada orang di seberang sana melalui ponselnya.


Dimatikannya ponselnya itu dan wajahnya tampak murung lagi mengamuk, dia masuk lagi ke dalam rumah.


Dia menunggu para bawahannya datang untuk mendapat hukuman. Tidak berapa lagi semua bawahannya sudah berkumpul di luar rumah dan mereka sudah berbaris rapi, salah satu dari mereka masuk ke dalam rumah dan memberitahu jika semuanya sudah berkumpul di luar rumah.


Victor menampar bawahannya yang masuk ke rumah itu, kuat sekali, cap tangan berwarna merah tertempel di pipi kirinya. Dia keluar di belakang Victor dengan mengusap-usap pipinya yang memerah itu.


Semua yang melihat itu semakin takut, entah apa yang akan dilakukan Victor pada mereka satu per satu.


Victor memberi kode pada orang yang diujung belakang kiri untuk maju ke depan. Setelah orang itu berdiri tepat di depan wajah Victor, Victor menamparnya kuat sekali, tidak itu saja, dia juga menendang perut orang itu dengan kuat, orang itu terhuyung-huyung ke belakang.


“Kalau kau berani meringis, aku matikan kau!” Victor berteriak, semua bawahannya yang melihat itu semakin ciut nyalinya. Tidak ada satu orangpun yang berani melawan Victor.


Victor menunjuk lagi orang kedua, setelah orang pertama yang ditampar itu sudah kembali ke barisannya.


Setelah orang itu tepat berada di depan wajah Victor, dia tidak berani menatap mata Victor sedikitpun, mata merah membara Victor membuatnya ketakutan. Victor seperti sedang kesetanan sekarang.


Tiba-tiba “PLAK!” satu tamparan mendarat di pipi kiri orang itu, dia terhuyung ke kanan sangkin kuatnya tamparan itu. Kemudian dia kembali lagi karena Victor menyurunya kembali ketempat, setelah dia kembali ke tempat semula, dia sudah siap-siap untuk ditendang lagi seperti orang pertama tadi, ternyata dia tidak ditendang, dia kena tamparan lagi dari tangan kiri Victor yang mendarat di pipi kanannya, dia terhuyung lagi ke sebelah kiri, kemudian kembali lagi ke tempat semula karena demikianlah Victor memberinya kode untuk dituruti.

__ADS_1


“Kalau ada yang mau mundur, mundurlah sekarang dan jangan kembali lagi!” Victor meminta tiap-tiap orang yang sedang berbaris di sana untuk menyerah dapat siksaan dari Victor dan mengundurkan diri dari pekerjaannya.


“Tidak ada yang mau mundur?” Victor berteriak lagi, dia menendang orang yang masih di depannya itu, kuat sekali, dia jatuh tersungkur ke tanah.


“Tidak ada yang mundur?” Victor mengulangi kata-katanya. Tidak ada yang beranjak dari barisannya.


Victor memanggil orang ketiga. Sebelum dia menamparnya lagi, Mbo Ratih datang menghampiri Victor.


“Kalau kau menghajar semua anggotamu karena kesalahanmu, kau bukan bos yang bijaksana, jangan melampiaskan kekesalanmu senidiri pada orang lain, mereka sudah membantumu, meringankan pekerjaanmu. Mereka sudah bekerja sungguh-sungguh padamu, dan saat kau suruh mereka meninggalkanmu, mereka tidak mau pergi, mereka loyar padamu. Dan kau akan menghajar mereka? Itu pekerjaan yang sia-sia! Kalau…”


“Diam!” Victor teriak pada Mbo Ratih. Dia menghentikan pidato Mbo Ratih, dia tidak suka jika Mbo Ratih menasehatinya di depan para anak buahnya sendiri, seolah dia masih anak kecil saja.


“Ok, aku akan diam asal kau tidak memukuli anak buahmu lagi. Victor, kau tidak bisa memeperlakukan anak buahmu begitu, bukan salah mereka jika mereka tidak bisa menemukan Agni. Berpikirlah lebih jernih, semua ini sia-sia saja, waktumu untuk memukuli mereka ini bisa dipakai untuk memantau puskesmas yang ada untuk mengetahui keberadaan Agni!” Mbo Ratih lebih tegas lagi mengatakan pendapatnya.


“Mbo, jangan mengguruiku!”


Victor meninggalkan semuanya dan masuk ke dalam rumah, dia masuk ke dalam kamar, kemudian ke kamar mandi, dan dia mengguyur badannya yang kini polos di bawah shower.


Baca juga: Zora's Scandal (Lihat pada profil)


Mbo Ratih mengambil alih komando.


“Kalian coba lihat lagi puskesmas, praktik-praktik bidan dan tanyakan pada semuanya perihal Agni, ya! Sekarang, bergegaslah!” Mbo Ratih memerintahkan mereka untuk segera bergegas melihat semua tempat yang memungkinkan bagi seorang perempuan untuk bersalin.

__ADS_1


Mbo Ratih ingin menemui Victor di dalam, dia tidak menemukan dia ada di sana, dia tahu, kini Victor sedang mandi di dalam kamar mandi. Dia selalu menenangkan diri dan emosinya di sana.


***


“Akhirnya mereka nggak punya bapak juga!” Agni menangis, ada senyum getir di bibirnya.


“Nggak apa-apa, kita besarkan sama-sama anak-anak ini, jangan ragu, kita bisa membesarkannya dengan baik! Percayalah pada dirimu sendiri!” Elisa menenangkan Agni.


“Terima kasih sudah mendukungku terus, Sa, tidak bisa kubalas semua jasa-jasamu padaku!”


“Jangan ngomong begitu, kita sudah sahabatan dari SMA, jangan membuat hal-hal kecil begini jadi besar, seolah kita tidak pernah jatuh dan bangkit bersama.” Elisa mengingatkan kisah jatuh dan bangkitnya mereka dari keterpurukan karena masalah finansial.


“Apa gw sebaiknya mengatakan pada Victor kalau anaknya sudah lahir?” Agni pelan-pelan, dia tidak mau Elisa tersinggung dan marah lagi karena keinginannya yang selalu ingin pulang dan memberi sosok ayah pada anaknya. Dari dulu jauh sebelum anak-anak itu lahir.


“Agni, bukannya gw mau memisah-misahkan kalian, keluarga kalian, tapi elu sendiri yang sudah merasakan sakitnya tinggal di sana, maka elu harus buktikan bahwa elu bisa berdikari tanpa bantuannya, kalau dia benar-benar sayang dengan kalian, biarlah dia sendiri yang mencari, jangan menyerah begitu, kalau elu menyerah lagi, dia semakin memandangmu rendah, jangan, jangan mau dipandang rendah oleh laki-laki manapun, sekalipun itu suamimu sendiri!” Elisa mengusap-usap tangan Agni, matanya tertuju pada kedua anak itu bergantian.


Elisa juga merasakan ngeri yang dirasakan Agni, sebagai anak yang datang dari keluarga yang tidak beres, karena bapak dan ibunya yang berpisah dan dia ditelantarkan, dia seharusnya mendukung usaha Agni kembali lagi ke rumah Victor, namun dia tidak bisa membayangkan sakit yang akan dirasakan sahabtnya itu sekiranya dia kembali lagi ke sana. Belum tentu juga Victor akan berubah seperti keyakinan Agni pada Victor.


“Ternyata elu masih memikirkan Victor juga, elu sangat mencintainya, tapi tahanlah dulu, tunggulah waktu yang tepat!” Elisa menasehati Agni lagi.


Agni bergeming mendengarkan semua penuturan Elisa. Dia menganggap semua yang dilakukan Elisa ini benar adanya, dia yakin jika Elisa benar-benar ingin Agni merasakan kegemiraan saja, tanpa memikirkan suaminya yang kurang ajar itu, yang tidak berperasaan itu.


“Sekali elu sudah meninggalkan rumah, buatlah itu komitmenmu untuk mengubah Victor, biarkan dia merenung jika benar-benar mencintaimu. Kalau elu datang sekarang, bisa jadi dia masih menyangkal keberadaanmu, bisa saja dia akan menganggap elu sebagai beban, elu nggak mau kan dianggap sebagai beban?” Elisa kini merangkul Agni, hangat.

__ADS_1


Like, komen,favorite agar tidak ketinggalan ceritanya, vote juga kalau masih ada kupon votenya, makasih 🙏


Bersambung…


__ADS_2