
Siska mulai bekerja di rumah mewah milik Victor. Dia sangat menikmati pekerjaannya sebagai pengasuh anak kembar Victor. Walau kadang-kadang Mbo Ratih berbicara sangat ketus padanya, dia tidak ambil hati dengan sikap itu, dia maklum saja karena dia menganggap Mbo Ratih sudah tua dan biasanya semakin tua perempuan akan semakin cerewet, setidaknya itu yang dia tahu dari neneknya di Kampung yang semakin cerewet dari hari ke hari.
Saat Siska memberi makan si kembar, Victor masuk ke dalam kamar itu dan tersenyum melihat kebaikan Siska pada kedua anaknya itu, sudah seperti anak sendiri cara dia mengasuh si kembar.
Siska tahu jika saat itu Victor sedang masuk ke dalam kamar, dia tahu dari bau badan Victor yang bercampur dengan parfume yang pasti mahal itu, namun Siska pura-pura tidak tahu dan fokus pada si kembar.
Victor membuka bajunya dan masuk ke dalam kamar mandi, Siska melirik ke arah Victor yang memasuki kamar mandi. Jantungnya semakin berdegup kencang dan konsentrasinya hilang hingga bubur yang sedang diduapnya ke Abisetya bukannya masuk ke mulut malah dituang di pipi kiri Abisetya yang tembem.
"Aduh maaf Abi...!" Siska setengah teriak saat dia menyadari perbuatannya itu, cepat-cepat dia mengusap pipi tembem Abisetya.
"Siska, jangan macem-macem deh, dia itu bosmu!" Siska mengingatkan dirinya sendiri karena dia tahu kalau dia sudah salah fokus karena kehadiran Victor terutama karena Victor berjalan di depannya tanpa mengenakan baju, dia bisa melihat keindahan tubuh Victor. Tubuh yang selalu dibayang-bayangkannya setiap dia hendak tidur. Maka Siska harus selalu mengingatkan dirinya kalau Victor sudah milik orang lain dan dia harus memutus hasratnya dari bayang-bayang Victor.
Victor tampaknya sangat menikmati mandi sorenya hingga Siska sangat lama menunggu kemunculannya keluar dari kamar mandi. Siska sudah tidak sabar, awalnya dia sudah sengaja memperlambat suapannya pada si kembar karena dia mau curi-curi pandang pada Victor, namun dia harus segera menyudahinya karena Victor tidak kunjung keluar.
Saat dia hendak menyelesaikan suapannya tiba-tiba pintu kamar mandi yang dari tadi dipantau oleh Siska terbuka dan dia pura-pura serius lagi pada si kembar.
Victor keluar hanya mengenakan celana pendek dan handuk di tangan dan sedang mengusap-usap rambutnya dengan handuk itu. Siska makin gugup ingin sekali dia menatap tubuh Victor lama-lama namun dia takut ketangkap Victor.
"Si kembar makannya gimana, Sis?" Victor bertanya pada Siska sambil mendekati mereka bertiga.
"Eh, lahap, pak, mereka tampaknya sangat menikmati makanannya!" Siska menjawab, sedikit gugup.
"Sekali lagi lihat lawan bicaranya kalau sedang ngobrol loh, Sis!" Victor mengingatkan Siska.
"Iya, pak, maaf!" Siska masih gugup tapi dia memberanikan diri menatap Victor, namun dasar Siska bukannya mata Victor yang ditatapnya malah dia menelusuri semua badan Victor yang atletis itu. Cepat-cepat dia menjelajahi semuanya, dia sama sekali tidak mau jika Victor tahu apa yang sedang dirasakannya.
Namun sekuat apapun Siska menutupi apa yang sedang ada di dalam otaknya, Victor tahu jika Siska sangat mengagumi dirinya, hanya belum berani saja.
"Nggak apa-apa, hanya mengingtkan saja. Oh ya, Mbo Ratih gimana? Nggak ketus lagi kan?" Victor mencoba menanyakan kenyamanan Siska terhadap Mbo Ratih yang sudah dianggapnya ibunya sendiri itu.
__ADS_1
"Ah, Mbo Ratih aku maklumi kok, biasa sih begitu. Semakin tua perempuan akan semkin cerewet, jangankan perempuan. laki-laki juga begitu kok, Pak!" Siska menyampaikan apa yang ada di pikirannya agar Victor tidak terlalu mengkhawatirkannya. Bukannya Siska tidak mau diperhatikan dan dikhawatirkan oleh Victor namun dia harus sadar jika dia hanya pembantu di rumah itu, tidak lebih.
"Oh begitu ya. Baiklah kalau Siska sudah bisa memakluminya. Aku tidak enak jika Siska tidak nyaman di rumah ini. Anggap rumah sendiri saja ya, jangan sungkan-sungkan, kalau ada keluhan bisa langsung disampaikan ya, Sis!" Victor dengan suara lembut mengingatkan Siska untuk tidak sungkan-sungkan lagi.
"Iya, Pak. Terima kasih, Pak!" Siska menatap sebentar mata elang Victor, sangat tajam. Siska sudah seperti kelinci yang ketakutan sekarang hanya karena tatapan itu, tajam sekali. Walau ada senyum di bibir Victor, tetap saja Siska sangat tidak nyaman dengan perasaannya sendiri.
"Baik, lanjut saja, aku siap-siap keluar dulu!" Victor permisi dari hadapan Siska, dia hendak memakai baju dan siap-siap keluar lagi dari rumah.
"Baik, pak!" Siska mengangguk dan tidak lupa melukis senyum di wajahnya.
Victor beranjak, dia memakai baju sementara Siska curi-curi pandang padanya.
***
Siska akhirnya lega sendiri karena Victor akhirnya keluar dari kamar itu. Dia kini menunggu si kembar tidur barulah dia beranjak dari kamar itu.
Dia kembali melamun membayangkan wajah Victor. Di Kampung dia tidak pernah melihat rupa seperti wajah Victor, terlalu tampan, rupa seperti itu hanya dilihatnya di layar televisi saja. Kini sehari-hari dia bisa melihat wajah itu, wajah seperti aktor korea.
"Dasar katrok!" Siska mengutuk dirinya sendiri.
***
Tidak terlau jauh dari rumah Victor, di sebuah kamar apartemen, Agni dan Elisa sedang membuat perencanaan yang matang tentang usaha yang akan mulai dirintis Agni.
Tiba-tiba ada panggilan dari nomor tidak dikenal di ponsel Elisa.
Elisa melihat layar ponselnya. Dia tahu itu pasti pelanggan, tapi dia sedang tidak mau menerima tamu sekarang, dia mau fokus membantu Agni dulu malam ini.
Melihat Elisa mengabaikan berkali-kali ponselnya, Agni melirik Elisa, memberi kode dengan matanya, menyuruh Elisa mengangkatnya.
__ADS_1
"Kok gak diangkat?" Akhirnya Agni mengeluarkan suara karena Elisa tidak kunjung mengangkat panggilan di ponselnya.
"Biarin!" Elisa memandang sekilas ponselnya dan kemudian mengabaikannya.
"Ih, angkat dong!" Agni memaksa.
"Biarin!" Elisa masih cuek.
"Angkat, mana tahu penting?" Agni masih memaksa Elisa untuk menjawab panggilan di ponselny itu.
"Penting apaan? Biarin ah, kita selesaikan dulu ini." Elisa masih menolak.
"Biar gue saja!" Agni tidak mau hanya karena dia, pekerjaan Elisa jadi terbengkalai.
"Biar gue bantu!" Elisa masih ngotot tidak mau mengangkat.
"Jangan dong, kali aja penting, angkat dulu aja!" Agni melotot pada Elisa.
Baca juga: Zora's Scandal (sudah tamat hanya di NT dan MT)
Elisa tidak mau ribut, dia mengangkat, belum sempat dia bilang halo suara di seberang sana sudah mengejutkannya.
"Selamat malam bu Elisa, ini dari kepolisian, sedang ada penyelidikan, ibu dipanggil ke kantor untuk menghadap!"
"Polisi? Menghadap? Sekarang? Ada apa ya pak?" Elisa terkejut karena dapat panggilan dari kantor polisi.
"Iya bu, sekarang, ditunggu ya!" polisi yang di seberang sana menegaskan kalau Elisa harus datang sekarang juga.
"Sekarang, di kantor yang mana ya?"
__ADS_1
Bersambung...