
Elisa pulang dengan seorang laki-laki, sudah sangat larut saat itu. Agni membuka pintu dengan mata sipit, dikuceknya matanya yang terasa gatal, kantuk masih merajainya.
Agni terbelalak, untuk sesaat dia belum bisa menerima kenyataan apa yang dilihatnya. "Elisa, kau bawa siapa ini?" Agni berbisik pada Elisa yang sedang mempersilakan laki-laki itu duduk.
"Tenang, dia tidak menggigit!" Elisa membalas bisikan Agni dengan bisikan juga, kemudian dia tersenyum pada laki-laki itu.
"Kau tidak bisa membawa langganmu ke sini!" Agni protes.
"Nggak apa-apa, sekali ini saja!" Elisa menenangkan Agni yang kini panil karena ulah Elisa.
"Sekali dulu baru dua kali, baru tiga kali dan begitu sampai seterusnya..."
"Ssst, tenang dulu, jangan panik, rileks!" Elisa menenangkan Agni.
"Dia pacarmu?" Agni mengubah persepsinya.
"Bukan!"
"Kalau bukan, kenapa bawa ke sini?" Agni panik lagi.
"Sekali ini saja, tidak akan terulang lagi."
Mereka berdua masih berdebat ditonton oleh laki-laki itu.
"Kalau saya menganggu, saya bisa pulang sekarang!" Laki-laki itu hendak beranjak dari kursinya.
Elisa menahannya, dia langsung mencium laki-laki itu, Elisa membelakangi Agni maka mata laki-laki itu bisa leluasa memandang Agni yang kebingungan di depannya.
"Elisa memang sinting!" Agni berbisik pada dirinya sendiri. Matanya sesekali menatap mata laki-laki itu namun Agni memalingkan wajahnya setiap laki-laki itu memperhatikan wajah Agni atau saat mereka saling tatap-tatapan.
Tidak lama memudian Elisa semakin menjadi-jadi. Dia membuka baju laki-laki itu dan berusaha memuaskan laki-laki itu.
Setelah kembali memakai bajunya, laki-laki itu memberikan sebuah amplop cokelat yang berisi uang tunai.
"Terima kasih, gw cabut dulu!" Diciumnya sekali lagi Elisa namun matanya masih menatap Agni.
__ADS_1
Setelah laki-laki itu keluar, Agni mendekati Elisa yang sedang menghitung uang pendapatannya malam itu.
"Kok bisa?" Agni menatap Elise.
Baca juga: Zora's Scandal (Lihat pada profil)
"Dia mau bayar lebih kalau ada 2 perempuan di dalam satu kamar!" Elisa santai.
"Aku juga termasuk objeknya dong?" Agni menaikkan suaranya. "Pantes dari tadi dia memandangiku terus!"
"Bener banget, nih bagianmu!" Elisa member sejumlah uang pada Agni.
"Kenapa bagianku lebih sedikit?" Agni protes.
"Karena kau tidak melakukan apa-apa, mukamu jutek selama pemainan!"
"Ah. alasan saja!"
"Eh, elu beneren mau uang ini?" Elisa menggoda Agni.
"Ya maulah, gile aje lu!" Agni merampas uang yang masih ada di tangan Elisa.
"Elu ya, bisa aja dapat laki-laki sinting kayak gitu!"
"Gw juga nggak tahu, tiba-tiba saja dia pengen begitu. Selama tidak mengganggu kenyamanan gw, gw pasti maulah!"
"Tapi gw yang nggak nyaman, anjir!" Agni memukul lengan Elisa.
"Makanya elu dapat bayaran, atas ketidaknyamananmu tadi!"
"Hahahaha," mereka berdua tertawa bersama lagi.
"Tapi, gw nggak mau ya, elu bawa laki-laki lagi ke kamr ini, nyewa penginapan lah!"
"Iya, iya!"
__ADS_1
"Gw serius, terlalu berisiko!"
"Iya, iya..."
"Sa, gw serius! Ada si kembar di sini, elu ingat kan?!"
"Iye, gw ingat kok! Sekali ini saja, dan tidak terulang lagi!" Elisa menyilangkan jari tengah dan telunjuknya ke atas.
"Ok, semoga tidak terulang lagi, eh, menutut elu, kita harus pindahkah dari sini?"
"Kenapa?" Elisa melotot.
"Karena sudah ada orang luar yang tahu tempat kita tinggal!" Agni lebih melotot lagi.
"Ah, nggak kok, dia nggak ada hubungannya dengan Victor, santai saja!"
"Kau sudah teliti semua pergaulannya? Gw nggak yakin deh sama elu!" Agni curiga lagi, dia sebenarnya lebih senang jika laki-laki tadi adalah anak buah Victor. Kalau Victor memang berniat mencari mereka, Victor akan segera datang menui mereka.
"Ya enggaklah, gile lu! Nggak, nggak mungkin dia anak buah Victor, yakin deh!" Elise menenangkan Agni yang tampak cemas.
"Eh, bukannya elu senang jika Victor tahu keberadaan kita?" Elisa kembali menatap Agni.
"Senang-senang saja, tapi gw mau ikuti apa kata elu aja, hehehe!" Agni tertawa pelan, tawanya dipaksakan.
"Ok kita besok pindah kamar!" Elisa mengusulkan agar mereka pindah kamar.
"Gimana kalau pindah apartemen saja? Kalau tetap di sini, kita akan dengan mudah ditemukan kalau benar laki-laki tadi adalah bawahan Victor!" Agni mengusulkan apa yang tidak diduga oleh Elisa sebelumnya.
"Elu kenapa tiba-tiba jadi mendukung ideku?"
"Hmmm, gw yakin, Victor tidak benar-benar sedang mencariku, kalau dia memang niat, gw kira, dia akan dengan gampang menemukan keberadaan kita, ingat kan, dia itu kepala preman, dia punya banyak relasi dari kalangan bawah sampai ke atas!" Agni menatap Elisa sungguh-sungguh.
"Berarti kita nggak usah pindah kamar, kita tetap di sini saja. Aku mau tidur dulu, ngantuk!" Elise merebahkan diri di kasur empuk satu-satunya yang ada di kamar itu.
"Ok, good night!" Agni lirih melihat Elisa sudah terkapar karena kantuk.
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, komen dan share ke teman yang lain yak, biar rame aja.🤗
Bersambung...