Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love

Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love
Kerepotan Mulai Terjadi


__ADS_3

Sepeninggal Agni, Mbo Ratih mendekati Victor. Dia hendak menasihati Victor.


“Aku sudah tahu apa yang akan Mbo katakan, dan aku tidak mau mendengarnya kali ini!” Victor menebak apa yang akan dikatakan Mbo Ratih padanya.


“Victor, kau selalau melakukan hal yang tidak pantas kau lakukan, sampai kapan kau terus akan begini?” Mbo Ratih kecewa pada Victor.


“Begini bagaimana?” Victor masuk ke dalam kamar. Dia tidak mau diganggu oleh Mbo Ratih kali ini.


“Victor!” Mbo Ratih mengejarnya ke dalam.


“Mbo bisa keluar nggak?” Victor menaikkan suaranya.


Mbo Ratih keluar, dia tidak mau Victor membentaknya lebih lama, dia tidak tahan dibentak seperti itu, dia tahu jika Victor akan menyesali perbuatannya nanti. Dia keluar dengan perasaan yang sedih, dia merasa gagal mendidik Victor dari kecil.


“Apa salahku mendidik Victor ya Tuhan?” Mbo Ratih menatap ke atas, dia mengadu pada Tuhan yang tidak kelihatan, namun dia tetap percaya jika Dia ada di sana, di suatu tempat, melihat pergumulan hidup mereka.


***


Abiwara menangis saat Victor masih terlelap, Victor merasa malas beranjak dari tempat tidurnya, dia membiarkan Abiwara menangis. Karena tidak ada yang mempedulikannya, Abiwara menangis semakin kencang, Victor merasa terganggu dengan suara itu, dia menutup telinganya dengan bantal untuk menghindari suara itu masuk ke dalam telinganya.


Mendengar Abiwara menangis, Abisetya ikut-ikutan menangis, awalnya sangat pelan, namun air matanya sudah tumpah begitu banyak, namun lama-lama, dia menangis lebih kencang, ada dua orang bayi menangis kencang sekarang. Victor semakin kesal karena kantuknya masih menyerangnya namun suara tangisan kedua bayinya membuatnya tidak bisa memjamkan matanya, dia kesal mengalami keadaan seperti ini.


Victor tidak menyangka jika anak kembarnya sangat kencang tangisannya. Sangan memekakkan telinga yang mendengarnya, sepertinya mereka akan menjadi penyanyi suatu saat. Pikiran itu terlintas di pikiran Victor. Konyol memang, akhirnya dia bangkit dari tidurnya dan mendekati tempat tidur mereka.


“Kalian kenapa? Tadi sudah minum susu kan, mau minum susu lagi?” Victor berbicara bergantian pada mereka berdua. Keduanya seperti tidak peduli dengan apa kata Victor. Mereka masih kompak menangis. Victor bingung.


“Kalian kenapa sih? Nggak bisa tidur saja?” Victor mengusap-usap kepala Abisetya dan Abiwara bergantian, namun tindakannya itu tidak menyelesaikan masalah yang sesungguhnya. Victor kini sadar jika merawat bayi tidak segampang yang dia pikirkan. Bayi atau bayi kembar bukan seputar kelucuan saja yang dia tonton di televisi, ternyata mereka juga mengesalkan kalau sedang nangis, dan terus menangis walau sudah dibujuk untuk diam.


Victor menggendong Abisetya yang tampaknya paling sedih karena suaranya lebih kencang dari Abiwara. Setelah berada di gendongan Victor, Abisetya langsung diam namun Abiwara masih saja menangis. Dia bingung, bagaimana dia bisa menggendong lagi Abiwara sementara dia sedang menggendong Abisetya.


Dipindahnya Abisetya ke tangan kirinya dan mengambil Abiwara dengan tangannya yang kanan, dia mau menggendong Abiwara di sebelah tangannya yang masih kosong.


Berbeda dengan Abisetya yang langsung dia karena digendong oleh papanya, Abiwara masih saja menangis walau sudah di gendongan Victor. Hal itu memancing Abisetya untuk menangis lagi.


Keduanya menangis bersahut-sahutan, membuat telinga Victor sakit karena suara mereka yang melengking. Victor tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dia menggendong keluar bayi-bayi itu dan mencari Mbo Ratih.


Mbo Ratih yang dari tadi menguping kegaduhan yang ada di dalam kamar Victor langsung lari menuju kamarnya, dia pura-pura tidur siang.


Dia menduga jika Victor akan mencarinya. Dan benar saja, ada ketukan dari luar kamarnya. Mbo Ratih pura-pura tidak dengar.

__ADS_1


“Mbo!” Suara Victor terdengar sayup karena suara si kembar lebih kencang dari suara papanya itu.


Mbo Ratih pura-pura tidak mendengar. Dia mau menghajar Victor yang semena-mena dengan Agni. Dia mau memberi pelajaran pada Victor bawha merawat anak itu tidak gampang.


“Mbo! Lagi tidur ya?” Victor bertanya, suaranya lebih kencang lagi, karena dia sadar jika suara si kembar lebih kencang dari suaranya di awal.


“Kalau sedang tidur, mana bisa menjawab! Goblok!” Mbo Ratih terkekeh mendengar pertanyaan Victor yang sembarangan.


“Mbo! Banung Mbo!” Victor mengencangkan suaranya.


Mbo Ratih tetap tidak peduli dengan kerepotan yang dialami oleh Victor.


Karena Mbo Ratih tidak menjawabnya, Victor pergi ke lagi ke kamar, meletakkan Abisetya dan Abiwara yang masih menangis. Meninggalkan mereka di sana dan pergi ke dapur hendak mebuatkan susu buat mereka berdua, “kali aja mereka sedang kehausan!” Victor berbisik di dalam hatinya.


Victor sebenarnya tidak tega meninggalkan bayi kembarnya menangis sejadi-jadinya di dalam kamar. Tapi dia tidak tahu harus berbuat apa, hanya membuat susu yang terlintas di kepala Victor saat itu, dan dia harus meninggalkan sebentar kedua anak itu walau dalam keadaan menangis histeris.


Victor meracik susu yang akan diberikan kepada kedua anaknya. Karena dia buru-buru, dia tidak foksu dan menyenggol botol susu yang sudah berisi susu dan air panas yang sudah dibuatnya untuk Abisetya, hal itu terjadi saat dia mulai membuat susu di botol Abiwara.


“Sialan!” Victor mengutuk dirinya sendiri yang tidak hati-hati itu.


Dia tidak peduli dengan botol yang jatuh itu, air susu mengalir ke mana-mana, dia tidak peduli. Yang dia pikirkan sekarang adalah, bagaimana dia bisa dengan secepat mungkin memberikan susu pada kedua anak itu.


Dia tinggalkan lantai itu berantakan, dia membawa satu botol berisi susu yang masih panas untuk diberikan pada bayi kembarnya, “biarlah mereka kongsi saja!” Victor berbisik pada dirinya sendiri.


Air susu di dalam botol itu masih panas. Victor tahu jika dia memberikan itu, mulut mereka bisa melepuh, dia meniup-niup susu itu agar lekas dingin.


“Sabar ya, Abi, masih panas nih!” Victor menunjukkan botol susu itu pada kedua anak kembarnya namun anak-anak itu tidak peduli dengan bujukan Victor tetap saja mereka menangis sejadi-jadinya.


***


Mbo Ratih diam-diam keluar dari kamar, dia melihat dapur yang berantakan karena botol susu si kembar jatuh di lantai dan air susu membasahi lantai putih itu.


Dia tahu jika Victor berusaha membuat susu untuk anak-anaknya. Mbo Ratih memungut botol itu, mencucinya dan mulai membuat susu lagi, tidak seperti Victor, Mbo Ratih menuang seperempat botol air panas setelah susunya ada di dalam, mengacaunya dan menambah air yang dingin. Susu itu siap diminum oleh si kembar.


Mbo Ratih mendekati kamar Victor, melihat Victor sedang meniup-niup botol berisi air susu itu. Saat Victor hendak memberi susu itu pada si kembar, Mbo Ratih teriak.


“Jangan dikasih, pasti masih panas!” Mbo Ratih menahan Victor.


Victor terkejut sekaligus lega karena akhirnya Mbo Ratih terbangun juga. Dia melihat ada botol susu yang digepang oleh Mbo Ratih.

__ADS_1


“Nih, kasih yang ini saja, sudah bisa langsung diminum!” Mbo Ratih memberi botol susu yang ada di tangannya pada Victor dan mengambil botol susu yang masih panas, yang ada di tangan Victor itu.


“Terima kasih, Mbo!” Victor memberikan susu itu pada Abisetya dulu. Abisetya langsung terdiam, kemudian Victor menarik botol itu dari Abisetya dan berniat memberikannya pada Abiwara.


Abisetya tidak menangis lagi. Mbo Ratih menggendongnya. Kini Victor memberi susu itu pada Abiwara. Abiwara menyambutnya namun dia masih saja menangis.


“Nangis sambil minum susu? Kok bisa?” Victor heran dengan tingkah Abiwara itu.


“Seperti bapaknya dulu waktu masih bayi, nakal!” Mbo Ratih menimpali.


“Yeeee!” Victor mencabut botol susu dari mulut Abiwara, suara Abiwara semakin kencang.


“Coba cek celananya, kali aja dia sedang kencing atau berak, biasanya bayi akan nangis jika pampers-nya sudah tidak nyaman lagi dipakai!” Mbo Ratih menyuruh Victor memeriksa celana Abiwara.


Victor tanpa banyak protes mengikuti apa yang disuruh Mbo Ratih. Dia membuka celana Abiwara dan benar saja, Abiwara sudah buang air besar. Baunya menyeruak, menyengat hidung Victor.


Victor tidak tahan, langsung meletakkan kembali Abiwara yang masih menangis itu.


“Lah, jangan diletakkan lagi, dibersihkan dong!” Mbo Ratih menyuruh Victor membersihkan Abiwara.


“Mbo aja ah!” Victor menyuruh Mbo Ratih.


“Nggak, dia kan anakmu, tanggungjawab dong!” Mbo Ratih tidak mau menuruti permintaan Victor, dia mau Victor melakukannya sendiri.


“Mbo saja ya, aku nggak ngerti membersihkan ee bayi!” Victor mengelak.


“Jangan dibayangkan membersihkan ee bayi itu dengan teknik yang rumit, cukup pikirkan, bagaimana caranya semua ee yang menempel di situ bersih dan tidak bersisa, itu saja! Sudah bersihkan, ntar dia nangis terus loh!” Mbo Ratih menyuruh Victor melakukannya sendiri, dia bertahan untuk tidak mau melakukannya.


Baca juga: Zora's Scandal (Baru tamat, lihat pada profil saya di noveltoon/mangatoon)


Victor tahu jika Mbo Ratih tidak akan mau memberishkan Abiwara, dia membawa Abiwara ke kamar mandi dan membersihkan Abiwara di sana. Mbo Ratih yang melihatnya tersenyum sendiri, dia duduk di tepian tempat tidur Victor dengan Abisetya di tangan.


Victor muncul lagi dengan Abiwara di gendongannya, lengkap pakai handuk.


“Loh, kenapa pakai handuk?” Mbo Ratih heran.


“Dia aku mandikan sekaligus!” Victor memasang muka kesal karena tidak terampil membersihkan bayi yang sedang berak.


Kerepotan mulai terjadi di rumah itu. Victor kesal.

__ADS_1


Jangan lupa kasih dukungannya ya ka, vote, like, komen dan share novel ini agar semakin banyak pengunjungnya, masih sepi banget nih! Hehehe, terima kasih kaka-kaka semuanya!


Bersambung…


__ADS_2