
“Jadi siapa nih namanya?” Mbo Ratih masih penasaran. Dia menghampiri Victor dan Agni yang sedang keluar bersama-sama sambil menggendong masing-masing satu bayi mereka.
“Mau tahu atau mau tahu banget, Mbo?” Victor bercanda. Dia menggoda Mob Ratih yang sudah serius.
“Mau tahu banget! Hehehe!” Mbo Ratih terkekeh. Dia senang selera humor Victor sudah mulai muncul.
“Serius?” Agni ikut-ikutan.
“Walah,” Mbo Ratih terbelalak, Agni dan Victor bisa sekompak itu menggoda dia.
“Kenapa? Heran?” Victor tahu apa yang ada di dalam hati Mbo Ratih. Dia juga heran, kenapa mereka berdua sekompak itu. Dia heran terutama pada diri sendiri yang bisa melawan keangkhuhan dirinya sendiri, sudah mau berusaha menerima Agni, apa adanya.
“Nggak, mbo seneng!” Mbo Ratih lupa pada pertanyaannya di awal.
“Kalau mbo seneng, kita sarapan bareng-bareng ya!” Victor mengajak Mbo Ratih turut makan bersama dengan mereka.
“Baik, baik tuan!” Mbo Ratih langsung menyiapkan hidangan di meja makan.
“Mbo, nggak apa-apa ya, kita lagi gendong si kembar nih!” Melihat Mbo Ratih yang mengangkati makanan yang sudah dimasaknya tadi, sementara Agni lalu lalang sambil menggendong bayinya, sambil membantu Mbo Ratih mengangkat apa yang perlu diangkat.
Agni masih tampak kaku, tetapi dia berusaha tampil semaksimal mungkin pagi ini, menunjukkan pada Victor kalau dia adalah perempuan yang bisa mandiri, bekerja sambil menggendong anak. Dia tidak mau anak-anaknya menjadi alasan untuk dia tidak berbuat apa-apa di rumah itu.
“Sayang, nggak usah kerja, biar mbo saja, iya ya mbo, nggak apa-apa kan ya?” Victor melarang Agni ikut membantu Mbo Ratih.
“Nggak apa-apa, sayang, aku bisa kok, nggak banyak kok yang mau diangkat!” Agni kembali berjalan mengambil makanan yang ada di dapur, tidak terlalu jauh dari meja makan mereka.
“Awas si kembar ketumpahan makanan loh!” Victor mengingatkan Agni. Dia khawatir dengan anak yang digendong oleh Agni.
“Iya, jangan khawatir, aman kok!” Agni menenangkan Victor yang tidak bisa tenang itu, matanya bolak-balik mengikuti langkah Agni sedang bayi yang di gendongannya kini mulai menangis.
“Tuh, si adek nangis. Sayang terlalu memperhatikanku hingga lupa dengan si adek yang ada di gendongan sendiri.” Agni meletakkan makanan terakhir di atas meja dan mendekati gendongan Victor.
“Maklum sayang, aku masih kaku untuk mengurus anak!” Victor membela dirinya.
“Mbo, bisa gendong sebentar!” Agni menyerahkan anak yang digendongnya pada Mbo Ratih.
“Bisa dong, hehehe!” Mbo Ratih menerima si abang yang diserahkan oleh Agni padanya.
“Wah, tampan sekali kamu!” Mbo Ratih berbicara pada si abang yang digendongnya sekarang.
Agni mengambil si adek dari gendongan Victor. Saat si adek ada di pelukan Agni, dia langsung diam. Matanya berkaca, tapi kini dia tidak lagi menangis.
__ADS_1
“Kenapa, dedek? Si bapak nakal ya?” Agni bercanda.
“Ih, apaan? Nakal apaan? Nggak kan de?” Victor meminta pembelaan dari anak yang digendong Agni itu.
Anak itu hanya melongo, ari matanya terlihat jelas di dalam matanya itu, sekali berkedip, air itu pasti sudah tumpah.
“Kalau bukan nakal, berarti badannya si bapak berduri ya?” Agni melemparkan senyumnya pada bayi itu.
Bayi itu seakan tahu mereka sedang bercanda. Dia tersenyum, matanya tertutup dan benarlah sekarang, air mata itu tumpah dengan senyuman tergambar di bibirnya.
“Ih, ketawa! Kayak ngerti aja si dedek!?” Victor mencium anak itu.
“Yuk makan! Laper!” Agni mengajak Victor makan.
Kini mereka sudah duduk di kursi masing-masing. Mereka bersantap dengan bayi kembar itu ikut di sana, menyaksikan mereka makan bersama.
“Dedek belum bisa makan ini ya, nanti kalau sudah gede, baru bisa, ya de!” Agni berbicara pada bayi yang ada di gendongannya sambil memasukkan garpu yang ditusuk sosis ke dalam mulutnya.
“Jadi, siapa nih nama mereka?” Mbo Ratih menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, dia melihat Agni dan Victor bergantian.
“Mau tahu banget ya?” Agni dan Victor berbarengan.
“Hahaha, kok bisa kompak ya?” Agni tertawa disusul tawa Victor. Sedangkan Mbo Ratih masih menunggu jawaban yang serius dari mereka berdua.
“Kami mengalami jalan buntu, Agni bersikeras dengan nama pilihannya, aku bersikeras dengan pilihanku, deadlock, maka kami putuskan bersama nama mereka si Adek dan si Abang!” Victor menerangkan.
“Tapi, bukannya Agni nggak kasih nama karena ingin menunggumu memberi nama ya?” Mbo Ratih heran.
“Kok Mbo tahu apa yang kami bicarakan di kamar? Mbo nguping ya?” Agni melongo.
“Bukan kok, aku tahu aja. Dinding di rumah ini akan menceritakan semua hal padaku! Hehehe!” Kini Mbo Ratih yang akan membuat mereka berdua kesal.
“Ih, nggak sopan loh mbo, jangan nguping pembicaraan orang lain!” Victor tidak terima kalau apa yang sedang mereka bicarakan di kamar Mbo Ratih tahu semua.
“Iya, iya, nggak lagi deh, tapi kenapa bisa….!” Mbo Ratih masih penasaran.
“Tahu sendiri, dia, keras kepala, katanya mau kasih kesempata saya nentukan nama mereka tapi akhir-akhirnya tidak jadi. Dia tiba-tiba ingin menunjukkan powernya di rumah ini.” Victor mengeluh pada Mbo Ratih.
“Kemudian kalian berkelahi di kamar mandi?” Mbo Ratih memandang keduanya.
“Mboooooo!” Agni dan Victor teriak pada Mbo Ratih.
__ADS_1
“Ih, Mbo Ratih, nggak bisa gitu dong Mbo!” Agni ngeri, kenapa Mbo Ratih semua tahu apa yang dia lakukan dengan Victor semalam, sementara dia tidak tahu nama yang telah diberikan pada kedua bayi itu.
“Iya, Adek dan Abang itu bukan nama!” Mbo Ratih keberatan dengan nama itu.
“Kok jadi si Mbo yang keberatan? Kami sepakat-sepakat saja kok!” Victor tidak senang karena Mbo Ratih protes denga napa yang sudah mereka putuskan bersama.
“Aku tidak keberatan, cuma kalau nama mereka Adek dan Abang kasihan mereka nanti, diejek sama yang lain karena nama itu!” Mbo Ratih masih keberatan.
Agni heran dengan sikap Mbo Ratih yang menurutnya sedikit berlebihan, dia berargumen seperti seorang nenek pada bayi-bayinya.
“Kok diejek?” Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Agni.
“Iya, dari sekian banyaknya nama yang bisa diberikan, kalian hanya bisa memberi mereka nama yang standar itu!” Mbo Ratih masih dengan nada keberatan.
“Kita sudah sepakat loh, mbo. Udah ah, makan, makan, nama mereka bukan untuk diperdebatkan, nama itu sudah final. Jangan diganggu gugat lagi!” Victor tidak mau berlama-lama memberi ruang pada Mbo Ratih untuk protes masalah nama itu.
“Ya sudah, itu hak kalian kok, bukan urusan saya! Tugas saya hanya masak dan koordinir para pesuruh di rumah ini!” Mbo Ratih datar. Dia menikmati sarapannya dengan lahap.
***
“Kalian panik ya, panik ya? Hehehehe!” Tiba-tiba Mbo Ratih teriak.
“Apaan sih?” Victor bingung dengan tingkah Mbo Ratih
“Candaan begitu nggak kena ke kita-kita, mbo. Hehehehe!” Agni terkekeh. Dia tahu jika dari tadi hanya bercanda dan akting semata.
Kini dia jadi mikir, jika semua yang dikatakan Mbo Ratih itu hanya ilusi yang diciptakannya sendiri. Tetapi karena ketepatan apa yang diucapkannya benar maka seolah Mbo Ratih memiliki ilmu mendengar yang kuat.
“Tapi, sudah beberapa kali Mbo Ratih tahu hal-hal yang dia tidak mungkin tahu, tapi kenyataannya dia tahu! Benarkah dia punya kekuatan it?” Agni berbisik di dalam hatinya sendiri.
“Punya!” Mbo Ratih mengencangkan suaranya. Agni kaget.
“Ih, si mbo, tiba-tiba ngomong sendiri. Jangan buat terkejut dong mbo!” Victor mengingatkan Mbo Ratih.
Baca juga: Zora’s Scandal (baru tamat, lihat pada profil saya)
“Ok, jadi namanya Abang dan yang kau gendong si Adek, ok, sip!” Mbo Ratih mengalihkan perhatian Agni. Dia tersenyum pada Agni. Dan senyum itu membuat Agni semakin tidak nyaman.
Bersambung….
__ADS_1