
Tidak menunggu begitu lama, akhirnya baby sitter yang akan merawat Abisetya dan Awibawara sudah sampai di rumah. Victor dan Mbo Ratih menyambutnya.
Setelah berada di depan Victor dan Mbo Ratih, satpam yang merupakan sepupu dari calon baby sitter itu pamit dari hadapan mereka dan meninggalkan sepupunya di sana.
“Hai, silakan duduk!” Victor mempersilakan perempuan cantik itu duduk di depannya. Sementara Mbo Ratih masih terdiam di tempat, entah apa yang ada di pikirannya.
“Terima kasih, Pak!” perempuan muda itu tersenyum sambil duduk, sedikit gugup karena senyum Victor yang maut itu.
“Namanya siapa?” Victor bertanya setelah perempuan itu sukses menempelkan bokongnya di kursi itu.
“Siska, pak!” Perempuan itu menunjukkan wajah malu-malunya pada Victor, dia tidak tahan dipandangi begitu oleh Victor, dia tidak terbiasa dengan tatapan seorang laki-laki, apalagi laki-laki seganteng dan sudah barang tentu kaya, seperti Victor.
Siska sudah membayang-bayangkan wajah Victor saat sepupunya yang sudah jadi satpam di rumah ini cerita jika Victor emang pemain perempuan, satpam itu juga keceplosan cerita jika calon majikannya itu penakluk perempuan, karena memang tampan.
Karena disebut penkaluk perempuan, maka Siska semakin penasaran. Kini setelah dia melihat langsung Victor, dia malah meleleh sendiri. Siska bahakan tidak tahan bertatap-tatapan begitu lama dengan Victor.
“Kenapa malu-malu seperti itu?” Victor tahu jika Siska malu. Tapi dia mau Siska melihat wajahnya saat berbicara. “Bisa dikira orang nggak sopan loh kalau ngomong tapi nggak lihat ke lawan bicaranya!” Victor melanjutkan kata-katanya.
“Maaf, Pak. Bukannya nggak sopan…em…” Siska semakin gugup.
“Nggak apa-apa, coba angkat wajahnya, lihat saya!” Victor menyuruh Siska mengangkat wajahnya, menatapnya.
Mbo Ratih yang ada di sana sudah muak, dia tahu apa yang ada di otak Victor dan Siska kali ini.
Siska mengangkat wajahnya, ditatapnya malu-malu wajah Victor. Lalu cepat-cepat dia menunduk kembali, dia pandangi tangannya yang kini gemetaran.
“Nah, gitu dong, jangan taku sama saya dong! Kalau kamu takut begitu, gimana mau mengurus anak-anakku? Jangan takut!” Victor memberikan semangat pada Siska.
“Nggak nyambung, itu bukan takut, tapi pura-pura malu!” Mbo Ratih mengumpat di dalam hatinya.
“Ya sudah, Siska…, ini Mbo Ratih, sudah aku anggap sebagai ibuku, dia akan membimbingmu selama di sini, kalau ada apa-apa langsung bertanya ke Mbo Ratih saja ya!” Victor mulai berdiri. Dia hendak keluar.
Siska mengangguk-angguk, dia melihat Mbo Ratih yang sepertinya tidak menyukai dirinya itu. Tapi dibuangnya jauh-jauh perasaannya itu dia memberikan senyum termanisnya pada Mbo Ratih.
“Mari ikut aku, aku tunjukkan kamar tidurmu dulu, letakkan semua barang-barang di sana dulu ya!” Mbo Ratih mengajak Siska menuju kamarnya.
__ADS_1
Saat Siska dan Mbo Ratih meninggalkan Victor yang sudah berdiri dari tadi, dia melihat gerak ragu-ragu dari Siska, matanya melihat ke berbagai penjuru seperti orang yang baru pertama kali masuk rumah besar dan mewah.
***
Tiba di kamar Siska, Mbo Ratih menyalakan lampu agar mereka bisa melihat isi dalam kamar karena hanya ventilasi kecil yang ada di atas kamar Siska. Namun demikian Siska akan merasa nyaman, ada AC di dalamnya, tidak akan merasakan panas seperti yang dibayangkannya di Kampung tentang Jakarta yang panas.
Hawa dingin dari AC langsung menyentuh kulit Siska, kesejukan masuk ke dalam tubuhnya, dia senyum akhirnya dia bisa tinggal di kamar ber-AC.
“Siska!” Mbo Ratih memanggil namanya, membuyarkan lamunannya.
“Eh, iya Mbo gimana?” Siska terkejut namun langusng bisa menguasai dirinya sendiri.
“Kamu ya, jangan pura-pura malu. Aku tahu kau sengaja melakukannya agar Victor memberi perhatian padamu kan?” Mbo Ratih langsung menyampaikan apa yang dirasakannya tadi, saat bersama dengan Victor.
“Eh, bagaimana maksudnya, Mbo?” Siska bingung.
“Jangan pura-pura bingung ya, kau itu ya, banyak pura-puranya!” Mbo Ratih tidak senang karena Siska selalu pura-pura.
“Saya nggak pura-pura Mbo, apa yang harus aku pura-purakan?” Siska membela diri.
“Eh, nggak akan bu, sumpah!” Siska mengangkat dua jarinya ke atas, memberi tanda pada Mbo Ratih.
“Nggak usah pakai sumpah-sumpah segala! Awas kalau ketahuan kau menggoda Victor ya!” Mbo Ratih mengingatkan Siska.
“Mbo suka ya dengan Pak Victor?” Siska ingin tahu, dia penasaran mengapa Mbo Ratih menuduhnya aneh-aneh barusan.
“Ihh, kamu ini ya, kamu nggak dengar tadi Victor bilang apa? Aku ini sudah dianggap sebagai ibunya dia, paham sampai di sini?” Mbo Ratih geram menghadapi kepolosan Siska yang dianggapnya hanya pura-pura saja.
“Paham bu, paham!” Siska mengikuti apa kata Mbo Ratih, dia tidak mau ribut dengan Mbo Ratih yang tampaknya tidak mau kalah itu.
“Apa coba yang kamu paham?” Mbo Ratih mau menguji Siska.
“Mbo nggak suka dengan Victor, iya kan?” Siska salah fokus.
“Alamak, kamu ini ya, bukan itu intinya. Pokoknya kamu tuh nggak bisa goda-goda Victor, dia sudah punya anak, paham ya sekarang!” Mbo Ratih semakin melebar.
__ADS_1
“Iya, iya mba, tapi saya akan jagain anak-anaknya Victor kan yah?” Siska entah ngomong apa, dia sendiri tidak paham apa yang sedang diomongkannya.
“Woi, sedang ngomongin saya ya?” Victor tiba-tiba muncul di depan pintu.
“Eh, nggak kok, Pak!” tiba-tiba ******** Siska muncul. Ini yang Mbo Ratih tidak suka dari Siska, pura-pura malunya itu loh.
“Ini, tasmu kan? Tadi kamu lupa bawa, ada di meja depan!” Victor memberikan tas kecil milik Siska yang sering ditentengnya itu.
“Oh iya, makasih, Pak.” Siska menerima tas itu dengan malu-malu, dia masih menunduk.
“Jangan terlalu merunduk, nanti cepat bungkuk loh, kayak orang tua!” Victor mengingatkan Siska.
“Iya pak, nggak apa-apa!” Siska masih menunduk.
“Siska, jangan menunduk, berdiri yang tegap, jangan pura-pura malu di hadapan Victor!” Mbo Ratih menaikkan suaranya sedikit.
“Mbo, jangan marah-marah gitu dong!” Victor mengingatkan Mbo Ratih yang mulai tidak sabar dengan perilaku Siska yang tiba-tiba sopan sekali di hadapan Victor.
“Bukannya marah, tapi dia tidak bisa dibilangi sih, sudah dibilang jangan tunduk-tunduk terus, masiiiih aja tunduk, etah apa yang mau dilihatnya di bawah sana!” Mbo Ratih kesal. Suaranya ketus sekali.
Siska merasa serba salah di antara Mbo Ratih dan Victor yang berusaha membelanya.
“Ya nggak apa-apa juga toh Mbo? Perlu dibiasakan kalau hal-hal begini, di Kampung mungkin harus seperti ni, semuanya harus dipelajari pelan-pelan kan Mbo, nggak bisa sekali jadi begitu!” Victor berusaha membela Siska.
“Terserah dah!” Mbo Ratih meninggalkan mereka berdua di sana.
Saat Mbo Ratih sudah lumayan jauh, Victor mendekatkan dirinya pada Siska.
“Jangan masukkan ke dalam hati ya, Sis. Mbo Ratih aslinya baik kok, percaya deh!” Victor menghibur Siska.
Baca juga: Zora's Scandal (Baru tamat, lihat pada profil saya di noveltoon/mangatoon.
“Iya pak, nggak bakalan masukin ke dalam hati kok! Terima kasih, pak!” Siska masih menunduk sambil berbicara, dia benar-benar tidak tahan jika harus memandang wajah Victor yang tampan itu.
Jangan lupa kasih dukungannya ya ka, vote, like, komen dan share novel ini agar semakin banyak pengunjungnya, masih sepi banget nih! Hehehe, terima kasih kaka-kaka semuanya!
__ADS_1
Bersambung…