
Agni balas memandang pada Victor yang memandangnya tajam, dia tidak tahan dengan pandangan itu, benar-benar tidak tahan, dia berusaha melihat ke lain arah, namun Victor memaksanya untuk memandangnya terus.
Sejurus kemudian Victor sudah menempelkan bibirnya yang hangat ke bibir Agni.
Agni merasakan hangat yang menghujam bibirnya yang dari tadi kedinginan, kontras itu membuat matanya terbelalak.
Victor tahu jika Agni sedang menikmati kecupannya itu, dia tidak mau melepas begitu saja, dia memagut dan memagut bibir itu lebih hangat lagi. Agni sampai kelabakan. Agni belum ada membalas sedikitpun, dia masih tertegun.
Victor menambah frekwensi, didorongnya Agni hingga terduduk di pinggir tempat tidur itu.
Melihat Agni yang masih bengong, Victor menarik kepala Agni, dia mau Agni memainkan mulutnya di sana.
Agni kelabakan dia harus beraksi sekarang kalau tidak mau tersiksa sendiri. Agni mulai memandang mata Victor yang sedari tadi memandangnya dari atas.
"Ini hukuman untukmu, dan kamu harus terima sayang, kau yang buat peraturan. Sekarang terimalah dengan ikhlas hukuman ini!"
Saat Agni sudah mulai menikmatinya, Victor mendorongnya lagi sampai tertidur di atas tempat tidur itu sementara dia masih berdiri tegap di sana.
Agni terbelalak. "Apa yang akan dilakukannya sekarang?" Agni berbisik pada dirinya sendiri, dia bangkit dan ingin duduk lagi.
Victor tahu jika Agni ingin mempermainkan pedang yang masih bersarung itu, dia tidak memberikan kesempatan itu pada Agni, didorongnya kembali tubuh Agni hingga telentang kembali. Dia sepertinya tidak sudi jika Agni mempermainkannya sekarang.
Agni tidak tahan diperlakukan seperti itu, Victor seperti ingin mengejeknya saja. Dia bangkit lagi dan ingin mengambil alih permainan. Lagi-lagi Victor mendorongnya kembali ke atas kasur dan mulai maju dan kini dia ada di atas kepala Agni.
Agni melihat dari jarak terdekat. Dia sampai bisa menicum aroma bercampur hangat dari celana itu. Kini Agni benar-benar berhasrat ingin mengambil alih permainan. Victor benar-benar ingin menyiksanya dan siksaan itu sungguh membuatnya tidak tahan lagi.
Saat kepala Agni hendak bergerak ke atas, Victor bangkit lagi dan menghindar dari serangan Agni. Dia benar-benar ingin menyiksa Agni sekarang.
Agni membuka bajunya, dia ingin Victor segera menerkamnya. Dia melihat Victor yang sedang bersandar di atas tempat tidur dengan ****** ******** yang putih bersih itu.
Mata Agni selalu terarah ke sana. Victor tahu Agni sudah dikuasai birahinya sendiri.
__ADS_1
Saat ini Agni hanya mengenakan pakaian dalam saja. Dia berusaha menggoda Victor untuk segera memberikan sentuhan-sentuhan hangat padanya.
Victor tersenyum padanya. Dia merasa telah memberikan hukuman yang baik pada Agni.
Saat Agni sudah dekat padanya, Victor membalikkan badan Agni hingga sekarang posisi mereka terbalik. Victor sudah berada di atas tubuh Agni yang tidak berdaya itu.
Victor menempatkan tangannya di atas wajah, bibir, dan dada Agni yang padat. Dia tidak menyentuhnya, tangannya seolah sensor penjaga keamanan di Bandara, benar-benar tidak menyentuh sedikitpun tapi jaraknya sangat dekat hingga hawa hangat dari tangan Victor itu benar-benar terasa di kulit Agni yang putih mulus.
Agni menatap Victor nanar, dia tidak menyangka hukuman Victor sekejam itu, ini sudah berubah jadi siksaan yang berat bagi Agni.
Agni memainkan kakinya. Dia berusaha menyentuh anunya Victor.
Saat Victor meraskan sentuhan itu, Victor langsung menghindar dan menggeser badannya ke depan lagi. Tangnanya memegang kedua tangan Agni hingga Agni tidak berdaya ingin melakukan apa.
Kini Agni hanya pasrah saja, menanti hukuman itu selesai, nafasnya mulai putus, dia menghirup udara segar agar otaknya bisa berfungsi lebih baik lagi.
Kini Victor menggeser tubuh Agni dan kini bersandar di atas tempat tidur. Agni mulai merasa siksaan ini akan semakin memuncak.
Dan benar saja, tangannya diikat satu persatu dengan tali. Tidak terlalu kencang hingga Agni tidak merasa sakit sama sekali. Hanya Kaki Agni yang bebeas bergerak sekarang.
Agni ingin sekali mengecup dada Victor yang penuh berotot itu, namun apa daya Victor seolah tidak mau hal itu terjadi.
Kemudian Victor mendekatkan wajahnya pada wajah Agni.
Agni menatap mata Victor, matanya sangat sayu, seolah dia bermohon agar Victor segera menuntaskan hukumannya itu, sungguh menyiksa Agni.
Agni menelan ludahnya sendiri. Saat kepala Victor mulai diserongkan ke kiri, Agni tahu jika kini akan ada kecupan dari Victor. Namun harapannya itu sia-sia saja. Bibir seksi itu tidak pernah mendarat di bibirnya yang tipis.
Agni memajukan kepalanya, tapi sial, Victor memundurkan kepalanya sambil menatap tajam mata Agni yang mengiba.
"Hukuman ini belum selesai, saya tinggal sebentar, dan nikmati hukuman ini untuk sejenak, aku akan kembali dengan hukuman yang lebih sadis lagi!"
__ADS_1
Victor sebenarnya tidak tega dengan apa yang dia lakukan ini, namun dia harus karena ingin bertemu dengan Elena.
Dia mau menyelesaikan persoalannya dengan Elena malam ini.
"Victor, mau ke mana?" Agni mengiba.
Baca juga: Zora's scandal (novel tamat, lihat di profil saya)
"Sebentar, ini adalah bagian dari hukuman itu, kau akan aku tinggalkan sebentar untuk menerima hukuman ini. Aku tahu ini berat, namun kau sudah berjanji untuk menerima semua hukkumannya kan?" Victor tersenyum, getir di dalam Victor bisa ditutupinya dari Agni agar Agni tidak curiga sedikitpun padanya.
"Lepaskan aku!"
"Tidak, hanya sebentar saja, bertahanlah untuk sejenak saja. Kau pasti sanggup, sayang. Aku tahu itu." Victor tersenyum pada Agni.
Dia bangkit berdiri memakai baju dan celananya kembali.
"Bagaimana kalau si kembar terbangun dan kau belum kembali?" Agni mengiba pada Victor, dia merasa hukuman itu terlalu berlebihan. Victor tidak mungkin sekejam itu.
"Tenang saja, tidak akan terbangun kalau kau tidak mengeluarkan suaramu, aku tidak lama, bersabarlah untuk sementara. Kita akan tuntaskan malam ini dengan keringat dan peluh, aku berjanji." Victor main mata pada Agni, dia berusah menenangkan Agni.
Namun perasaan Agni tidak bisa ditutup begitu saja. Pasti ada yang tidak beres. Victor sedang menutupi sesuatu darinya.
"Victor, lepaskan aku!" Agni berusaha melepaskan diri dari ikatan itu.
"Ingat, kau sudah berjanji untuk menerima semua hukumand dariku kan? Jangan cengeng, ikuti saja hukuman ini. Tidak akan lama kok. Aku hanya keluar sebentar." Victor memakia sepatunya.
Sebelum dia benar-benar keluar, dia mendekatkan diri pada Agni. Dia menunduk untuk bisa menjangkau bibir Agni. Dikecupnya mesra bibir itu. Agni benar-benar menikmatinya dan berusaha berpikir positif dengan kemungkinan apa yang dilakukan Victor di luar. "Sepertinya Victor akan beli minuman dulu, ya Victor pasti beli sesuatu untuk merayakan malam ini!" Agni berusaha membayangkan sesuatu yang positif di pikirannya sendiri.
Baca juga: Zora's scandal (novel tamat, lihat di profil saya)
Dia menatap Victor yang keluar dari kamar itu. Sebelum Victor benar-benar hilang dari pandangan Agni, Victor main mata padanya, dan segera menuju pintu kamar dan menghilang.
__ADS_1
Agni melihat sekelilingnya, dia tidak berdaya, mau tidur pun dia tidak bisa dengan posisi sepeti itu.
"Dasar gila, kau benar-benar sudah gila, Victor. Awas kau nanti, aku akan balas semua ini!" Agni memaki Victor di dalam hatinya. Dia melihat si kembar, masih terlelap tidur.