Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love

Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love
Pamungkas Wijaya (Polisi Tampan Pengagum Agni)


__ADS_3

Terima kasih sudah baca sampai di episode ini kaka sekalian, jangan lupa vote ya, agar NT bisa rekomendasikan novel ini ke pembaca yang lain, terima kasih. 🙏🙏🙏


Lanjut baca kisahnya 👌


"Wah, sudah lama sekali kita tidak berjumpa ya! Tapi kok tahu kalau saya tinggal di sini?" Agni bertanya pada Pamungkas, polisi tampan yang sudah naksir Agni sejak lama.


"Iya lama banget. Hehehe, radarku mengatakan kamu ada di sini, hehehe!" Pamungkas menjawab Agni, dia agak sedikit kaku, tapi jelas terlihat ketertarikannya pada Agni masih ada, Agni tahu itu.


Tidak kapok-kapok Pamungkas mendekati Agni. Sampai sekarang Pamungkas tidak menikah juga hanya karena Agni. Dia hanya mau menikah kalau dengan Agni saja. Maka ketika Agni tiba-tiba menghilang, dia bingung mau mencari Agni ke mana.


"Apa-apaan, radar segala! Kok bisa sih?" Agni tidak sejutek dulu lagi. Dia lebih ramah.


Pamungkas senang dengan perilaku Agni yang lebih ramah ini walau dia sangat stress ketika dia tahu jika Agni sudah menikah.


"Elisa, dia beberapa minggu yang lalu datang ke kantor polisi, kata teman saya ada perempuan bernama Agni yang hilang, katanya diculik. Ya aku cari tahulah, mendengar nama itu, aku jadi semangat lagi, hehehe!" Pamungkas malah jadi lebih pemalu sekarang, beda dengan dulu.


Pamungkas yang Agni kenal adalah laki-laki yang tegas, strick to the point, nggak bertele-tele.


"Kamu lebih semangat mendengar aku diculik?" Agni memasang muka jutek. Walau bagaimanapun, Agni punya perasaan sebenarnya dengan Pamungkas, hanya dia tidak mau pada Pamungkas karena dia merasa tidak pantas bersanding dengan Pamungkas, anak yang baik, tampan, memiliki masa depan yang cerah, sedangkan dia hanya seorang pel4cur.


"Bukan..." buru-buru Pamungkas menyangkal pernyataan Agni.


"Terus?" Agni melotot.


"Permisi, Mba!" Siska menyodorkan minuman di depan Pamungkas. "Diminum ya mas!" Siska melirik sebentar pada Pamungkas, dia ingin melihat lebih dekat wajah laki-laki tampan itu.


"Terima kasih ya, Siska!" Agni berterima kasih pada Siska agar Siska segera meninggalkan mereka berdua di sana, dia tidak mau ada Siska yang berusaha mendengarkan pembicaraan mereka.


"Iya, Mba!" Siska langsung beranjak dari sana, namun sebentar kemudian dia melihat ke belakang hanya untuk melihat wajah Pamungkas lagi, barang sebentar. Namun Siska buru-buru berbalik lagi karena ternyata Agni melirik ke be belakang, memastikan jika Siska sudah berjalan dan menjauh dari mereka.


"Oh, iya, kamu senang ya aku diculik?" Agni masih ingin mendengar jawaban dari Pamungkas.


"Bukan, aku senang karena akhirnya aku akan bertemu kamu lagi." Pamungkas memberikan senyum yang paling manis pada Agni.


"Hahaha, kamu ya, masih aja gombal! Aku sudah punya suami tahu!" Agni mengingatkan Pamungkas.


"Ya, aku tahu. Itulah mengapa aku sedih. Aku sudah kejar-kejar kamu dari dulu tidak pernah diterima. Aku ke sini sebenarnya mau melihat, setampan apa sih suamimu, apakah memang kalah denganku atau tidak?" Pamungkas memasang muka serius.

__ADS_1


"Garing ah!" Agni menganggap Pamungkas sedang bercanda.


"Hahaha!" Pamungkas memaksa tertawa karena dianggap bercanda sama Agni.


"Suamiku sedang tidak ada di rumah. Kamu gimana, sudah menikah belum?" Agni bertanya pada Pamungkas.


"Belum, aku masih nunggu kamu jadi janda aja!" Pamungkas melihat ke sekelilingnya, takut kalau ada yang mendengar mereka.


"Hush, doamu jelek banget, ah!" Agni mengerutkan keningnya.


"Dengar-dengar kalian tidak terlalu akur ya sama suamimu?" Pamungkas membutuhkan konfirmasi dari informasi yang dikorkenya dari Elisa.


"Ih, bukan urusanmu. Itu urusan rumah tanggaku, Pamungkas!" Agni melotot, dia tidak terlalu senang ditanyai begitu.


"Itu urusanku jika kau tidak bahagia di dunia ini, Agni. Kau..."


"Stop! Jangan dilanjutkan, cukup gomablanmu yang nggak masuk akal itu!" Agni memotong kalimat Pamungkas.


"Agni, kalau kau...."


"Aku sangat bahagia dengan pernikahanku sekarang!" Agni memotong lagi.


Baca juga: Zora's Scandal (Sudah tamat, cek di profil saya ya kakak!)


"Ya boleh dong. Bagaimanapun, kau kan temanku!" Agni kambali memasang senyum di wajahnya yang cantik itu. Dia membuka nomornya dan memberikan nomornya pada Pamungkas.


Pamungkas mengambil ponselnya dan menyimpan nomor Agni di sana.


"Wah terima kasih. Aku kira kau sudah tidak mau berteman denganku lagi, Agni!" Pamungkas kesenangan, seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah permen dari gurunya.


"Ya kali!" Agni masih dengan senyumnya yang manis.


"Ok deh, kamu jaga kesehatan ya. Aku hanya mampir sebentar saja, aku harus ke kantor lagi nih!" Pamungkas hendak pamit pulang.


"Lah, ini belum diminum!" Agni mengingatkan Pamungkas jika minuman yang dihantar oleh Siska tadi belum disentuh sama sekali.


"Oh iya lupa!" Pamungkas duduk lagi.

__ADS_1


"Kamu kok buru-buru amat sih? Aku masih kangen loh!" Agni mencoba menggoda Pamungkas.


"Kamu mulai menggodaku, dan selalu begitu, padahal kamu tidak pernah serius. Jangan buat anak orang mati baper ya!" Pamungkas melotot pada Agni.


"Hahaha, makanya cari pacar dong, jangan nunggu perempuan yang nggak punya perasaan sedikitpun padamu. Banyak perempuan di luar sana yang menunggu tembakannmu." Agni memberikan ceramah singkat pada Pamungkas.


Pamungkas mendekatkan wajahnya pada Agni "Aku sudah berjanji pada diriku sendiri jika kau tidak akan menikah jika bukan bersamamu!" Pamungkas memasang wajah yang serius.


"Bodoh sekali. Berjanji yang tidak-tidak pada diri sendiri!" Agni menjauhkan wajahnya dari wajah Pamungkas yang sudah terlalu dekat menurutnya.


"Nggak apa-apa. Asalkan kau bahagia, aku tidak akan pernah memaksa, kok!" Pamungkas meneguk semua minuman yang ada di dalam gelas itu dan berdiri.


Agni ikut berdiri.


"Aku pamit dulu ya. Kalau ada apa-apa, boleh hubungi aku. Jangan sombong!" Pamungkas mengingatkan Agni.


"Iya, iya, kapan-kapan aku kenalkan dengan suamiku ya!" Agni mengikuti langkah kaki Pamungkas menuju pintu keluar.


"Ok, tapi ingat. Jangan sampai kamu sedih ya, jangan. Aku tidak akan tenang jika kamu sedih." Pamungkas berbalik melihat Agni yang berjalan di belakangnya.


"Walah, gombalmu. Gombal perempuan lain, jangan isteri orang!" Agni menahan tawa.


"Sudah, aku pamit!" Pamungkas main mata pada Agni.


Agni melambaikan tangannya. Dia masih memasang wajah senyum karena perilaku Pamungkas itu.


Pamungkas hanya tidak tahu saja jika Agni juga ada hati dengannya namun Agni sangat pandai menutupi perasaannya.


Di dalam hati Agni sangat senang karena di tengah kesepiannya di rumah karena Victor sedang di luar kota dan dua orang perempuan yang ada di rumah itu tidak ramah padanya dan akhirnya bisa kembali bertemu dengan Pamungkas, laki-laki yang tidak pernah lelah memberikan perhatian padanya walau Pamungkas tahu latar belakang dan pekerjaan sehari-hari Agni.


Baca juga: Zora's Scandal (Sudah tamat, cek di profil saya ya kakak!)


Agni kembali ke kamar, saat dia berjalan menuju kamarnya, dia melihat Siska hendak masuk ke dapur.


"Siska, gelas yang di depan diambil ya!" Agni pura-pura berperilaku seperti biasa, seperti tidak ada gejolak yang timbul di hatinya.


"Baik, Mba!" Siska menunduk namun di dalam hatinya entah siapa yang tahu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2