Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love

Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love
Depan, Tengah?


__ADS_3

Elena akhirnya tertidur, sangat pulas karena malamnya sangat bergairah dan penuh dengan peluh. Baru kali ini dia menikmati permainan yang seimbang dari seorang laki-laki.


Sangkin terlelapnya, Elena sampai tidak tahu jika Victor telah meninggalkannya di kamar itu sendirian, tanpa sehelai benangpun, hanya selimut tebal dari hotel yang menyelimuti tubuhnya yang putih lagi mulus itu.


Saat dia terbangun dia terkejut karena matahari sudah berada tepat di atas para petani yang sedang meggarap ladang di ladangnya masing-masing.


Elena sedikit kecewa karena Victor meninggalkannya begitu saja namun dia tetap senang karena akhirnya dia mampu menikmati apa yang selama ini didambanya dari seorang Victor.


***


Victor sudah berada di Jakarta.


Agni datang menjemput Victor ke Bandara bersama Abisetya dan Abiwara sekalian. Karena si kembar ikut, maka Siska ngotot minta ikut juga. Katanya dia khawatir jika salah satu dari keduanya luput dari perhatian Agni.


"Sayang, aku sudah bilang, tidak usah ikut menjemput. Kenapa harus repot-repot sih?" Victor mencium kening Agni.


Kemudian dia melihat Abisetya dan Abiwara di bagian tengah mobil. Diciumnya Abisetya.


"Apa kabar kalian? Kalian nggak nakal kan sama ibu?" Victor menganggap si kembar sudah bisa berbicara.


Abisetya tersenyum melihat Victor. Sepertinya dia sudah rindu dengan bapaknya itu.


Victor melihat Abiwara di gendongan Siska.

__ADS_1


"Abiwara kenapa digendong begitu? Bahaya loh! Kursinya kan ada dua. Dia berbicara pada Agni namun matanya menatap Siska yang jadi sasaran kata-kata Victor.


"Siska tidak mau salah satu dari mereka luput dari perhatianku, dia mau bantu aku katanya!" Agni mengadu pada Victor.


"Iya, tapi bahaya loh. Sekali lagi jangan ya Siska!" Victor mengingatkan Siska.


"Iya, Pak. Maaf, soalnya di kampung ya begini nih. Aku kira tidak terlalu bahaya loh, Pak!" Siska membela diri.


"Siska, siska, jangan lagi ya!" Victor mengingatkan Siska dengan lembut.


Baca juga: Zora's Scandal (Novel Tamat dari Bang Otom, cek di profil saya yak 😉)


Agni mendengar bagaimana Victor berbicara pada Siska. Dia heran karena Victor sangat lembut pada Siska.


Walau hati Agni cukup panas, dia memendamnya sendiri di dalam hatinya, dia belum punya cukup bukti dengan prasangka buruknya itu.


"Sayang mau di depan atau di tengah dengan mereka?" Victor melihat lekat-lekat pada Agni yang seperti sedang berpikir.


"Sayang!" Victor memanggil Agni lagi.


"Eh, iya, apa mas?" Agni kembali dari pikirannya sendiri yang sudah ke mana-mana.


"Mau di sini saja, atau mau pindah ke tengah?" Victor mengulangi pertanyaannya. Victor mau jika dia yang duduk dengan supir sedangkan Agni duduk di tengah bersama si kembar dan Siska.

__ADS_1


"Oh iya, aku ke tengah saja!"


"Kalau kau mau duduk di depan juga nggak masalah loh, sayang!" Victor memberi opsi lagi.


"Ah, jangan terlalu kaku dong, ih. Atau bagaimana jika Siska saja yang ke depan kita di belakang?" Agni memberi tawaran lain lagi.


"Jangan, dia menggendong Wara!" Victor menolak.


"Sama saja, kalau dia di depan atau di tengah, sama-sama gendong Wara kok!" Agni mempertahankan pendapatnya.


"Oh, ya sudah. Siska, kamu ke depan ya, biar saya dan Mba Agni duduk di tengah saja!" Victor menyuruh Siska pindah ke depan.


Baca juga: Zora's Scandal (Novel Tamat dari Bang Otom, cek di profil saya yak 😉)


"Baik, Pak!" Siska keluar dari mobil dan masuk lagi dan duduk di depan dengan Abiwara di gendongannya.


"Pakai seat belt, Siska!" Victor mengingatkan Siska.


"Iya, Pak." Siska menguatkan volumenya dari depan.


"Kali ini kamu bisa menyuruhku sesuka hatimu, lihat aja ntar!" Siska bersungut di dalam hatinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2