Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love

Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love
Victor Mencari Agni, Bagaimanapun, Agni adalah istrinya!


__ADS_3

Setelah Elisa pergi dari rumah Victor, tampak wajah Victor tidak bersahabat. Dia mengamuk pada Agni yang tidak bisa menjaga diri sendiri. “Sudah meninggalkan anak-anak, kini bisa hilang juga, diculik siapa dia? Dasar ceroboh!” Victor bersungut-sungut.


“Kenapa, pak?” Siska yang selalu memperhatikan Victor secara mendetail tahu jika Victor sedang tidak enak hatinya, pasti ada yang di smpannya di dalam hati.


“Tidak ada apa-apa, Sis!” Victor tidak melirik sedikitpun pada Siska.


Wajah Victor yang sedang galau!



“Kenapa dia kini tidak mau melirikku ya? Apa aku kurang cantik?” Siska berbisik pada diri sendiri, selama ini dia sudah terlalu percaya diri jika Victor tertarik padanya.


Siska pura-pura menggendong Abisetya, diambilnya dari tempat tidur anak itu, Abiwara yang melihat saudaranya itu digendong menangis dan ingin digendong juga.


“Lah, Wara, kok malah nangis?” Siska menguatkan suaranya agar mendapat perhatian dari Victor yang sedang duduk di tepi tempat tidur sedang mengutak-atik ponselnya, entah siapa yang sedang di-chat-nya.


Siska melihat Victor tidak terpengaruh sedikitpun dengan tangisan Wara dan suara Siska.


Suara Abiwara semakin kencang, Victor mendekati mereka. Memasukkan ponsel ke dalam saku celananya dan menggendong Wara tanpa melirik pada Siska sedikitpun.


Siska semakin tidak puas dengan sikap Victor itu, tetapi dia harus memakluminya, mungkin Victor sedang ada masalah.


“Apakaha perempuan yang baru pulang tadi adalah sumber masalahnya?” Siska berpikir-pikir. “Ah, bukan urusanku, urusanku ke sini adalah merawat bayi kembar Victor, titik!” Siska mengingatkan dirinya sendiri lagi tentang apa yang harus dilakukannya di Jakarta.


***


Victor mencoba segala upayanya untuk mencari keberadaan Agni. Dia mencari ke beberapa tempat yang mungkin bisa menemukan Agni, namun tentu saja bukan di Jakarta. Beberapa teman-temannya memberikan rekomendasi tempat untuk mendapatkan perempuan penghibur mulai dari kelas bawah sampai kelas atas.


Victor tentu saja tidak berjalan sendirian untuk mencari keberadaan Agni, dia mengutus beberapa anak buahnya untuk mencari juga. Mereka sudah mengenal Agni sebelumnya, bahkan dia juga memberikan foto-foto Agni pada koleganya yang mungkin belum sempat mengenal Agni, istrinya itu.


Victor kehilangan ide, hendak mencari Agni ke mana lagi. Kalau harus mencari ke luar negeri, dia pasti tidak sanggup, terlalu banyak cost yang harus dikeluarkan untuk itu, namun mau tidak mau, karena bagaimanapun, Agni adalah istrinya, istri sahnya.


Baca juga: Zora's Scandal (Baru tamat, lihat pada profil saya di noveltoon/mangatoon.

__ADS_1


***


“Kamu kenapa, Victor?” Mbo Ratih bertanya pada Victor yang kini wajahnya semakin kusam. “Apa yang membuatmu uring-uringan seperti ini?” Mbo Ratih mendekati Victor dan memegang pundaknya dari belakang, kala itu Victor sedang duduk di kursi, di meja makan.


Siska yang baru saja dibentak itu, pamit masuk ke dalam kamar, menemui bayi kembar Victor.


“Aku sedang kesal, Mbo!” Victor menjawab, pelan sambil memegang keningnya.



“Kesal karena Siska?” Mbo Ratih bertanya lagi, dia duduk di samping Victor sekarang.


“Bukan!” Victor menjawab singkat.


“Kalau bukan, kenapa Siska yang dibentak?” Mbo Ratih penasaran lagi.


“Ah, aku pusing!” Victor masih belum mau menceritakan apa yang sedang terjadi.


“Ceritalah, manatahu Mbo bisa membantu!” Mbo Ratih mengelus lengan Victor.


Mbo Ratih terkejut demi mendengar ucapan Victor itu. Dia tidak pernah membayangkan Victor harus memerlukan tenaga psikiater.


“Untuk apa?” Mbo Ratih membelalakkan matanya.


“Aku, aku bingung dengan diriku sendiri, Mbo!” Victor melihat mata Mbo Ratih, sayu.


“Kenapa, kenapa bingung? Emosimu sedang tidak stabil, kalau sedang begini, bernafaslah lebih dalam lagi, tenangkan pikiran kamu!” Mbo Ratih melihat lekat-lekat wajah Victor yang memang tampaknya sedang frustrasi dan bingung dengan dirinya sendiri, seperti masih mencari jati dirinya sendiri.


“Apa sebenarnya yang memicumu untuk berpikir harus ke psikiater?” Mbo Ratih kembali bertanya, karena Victor masih belum mau cerita tentang apa yang sedang terjadi padanya.


“Agni diculik, dan sampai sekarang belum ketemu, semua usaha sudah aku lakukan, Mbo!”


Mbo Ratih ikut bingung dengan apa yang sedang diucapkan Victor itu. “Dia mencari Agni yang diculik?” Batinnya.

__ADS_1


“Agni diculik?” Mbo Ratih histeris.


“Iya, Mbo, dan itu salahku sendiri! Aku membiarkan Agni pergi dari rumah ini, dan kini dia diculik karenaku!” Victor melihat Mbo Ratih dengan mata berair.


“Victor, kamu kenapa bisa begini? Kalau kamu memeng benar sayang pada Agni, kamu bisa tunjukkan rasa sayang itu padanya, bukan menutup rasa itu rapat-rapat. Kenapa, apa yang kamu pikirkan sebenarnya?” Mbo Ratih benar-benar tidak memiliki clue untuk persoalan Victor yang rumit ini.


“Aku tidak tahu, Mbo, makanya aku ingin pergi ke psikiater!”


“Jangan dulu, coba pikir-pikir dulu, apa yang mungkin membuatmu bisa sampai bingung harus menyayangi Agni atau tidak. Mengapa saat Agni hilang, justeru kamu mencari-carinya, seolah tidak mau terjadi apa-apa pada Agni?”


“Aku tidak tahu, Mbo, aku bingung!” Victor menjawab Mbo Ratih dengan tatapan sendu.


“Kalau begitu, pergilah ke psikater, apa perlu aku temani?” Mbo Ratih menawarkan jasa untuk menemani Victor ke psikiater untuk konsultasi dan menemukan akar persoalan yang sesungguhnya terjadi pada diri Victor yang temperamen dan bingung menentukan sikap tegas pada pasangan hidupnya, pada Agni.


Untuk hal-hal pekerjaan, misalnya, Victor sangat cepat dan lugas dalam mengambil keputusan. Tidak pernah keputusan yang diambilnya merugikan dirinya sendiri, entah mengapa masalah hati, masalah cinta, dia tidak setegas dan selugas itu, Victor menyadari hal itu setelah Elisa pulang dari rumah memberitahukan jika Agni diculik, dan tiba-tiba dia panik walau tidak menunjukkan kepanikan itu di hadapan Elisa.


***


Victor masuk ke dalam kamar, dia hendak bersiap-siap pergi ke psikiater, dia mau tahu juga mengapa dia bersikap kontradis ketika berurusan dengan asmara.


Dia melihat Siska yang ketakutan walau Siska berusaha menutupi ketakutannya pada Victor.


“Siska, maafkan saya, saya seharusnya tidak membentak kamu tadi!” Victor mendekati Siska, dan memegang pundak Siska.


“Eh, tidak apa-apa, Pak. Aku yang salah!” Siska malah menyalahkan dirinya sendiri, entah apa yang ada di otaknya sekarang. Dia terkejut ketika tangan Victor tiba-tiba berada di pundak Siska, Siska tidak bisa melukiskan apa yang sedang dirasakannya sekarang. “Siska sadarlah!” Siska mengingatkan dirinya kembali agar tidak berpikir macam-macam terhadap perlakuan Victor itu.


“Tidak, aku yang salah, aku tidak seharusnya melampiaskan kekesalanku padamu! Kamu mau kan memaafkan aku!” Victor memohon, membuat Siska semakin bingung.


“I, iya, Pak, dimaafkan!” hanya itu yang keluar dari mulut Siska, dia menelan ludah saat wajah Victor mendekat ke wajahnya, dia bisa melihat tatapan beringas Victor yang menggairahkan itu dari sudut-sudut mata malu-malu Siska.


Victor senang, akhirnya Siska mau memaafkannya. Dia sedang tidak baik-baik saja sekarang, dan dia sadar itu, dan tidak seharusnya dia melampiaskan kekesalannya pada orang lain. Semoga Siska benar-benar tidak takut dan malah pulang kampung karena bentakannya.


Baca juga: Zora's Scandal (Baru tamat, lihat pada profil saya di noveltoon/mangatoon.

__ADS_1


Akhirnya Victor mengambil jaketnya yang digantung dekat tempat tidur dan pergi meninggalkan Siska yang sedang kebingungan dengan apa yang dirasakannya, otaknya melarangnya untuk kagum pada Victor tetapi hatinya mengatakan yang lain. Siska kasmaran, sedang Victor sedang bingung dengan kehidupan asmaranya.


Bersambung…


__ADS_2