
“Hai, Sa! Terima kasih sudah mau datang!” Agni tahu kalau Elisa berat untuk datang ke sana. Victor sudah cerita bagaimana dia memperlakukan Elisa ketika dia melaporkan tentang penculikan Agni.
“Hai!” Elisa datar. Dia masih tidak mau percaya seratus persen akan perubahan sikap Victor.
“Mari masuk!” Agni mempersilakan Elisa masuk ke dalam rumah setelah dia menjemputnya di gerbang tadi.
Mereka duduk di ruang tamu yang sangat besar dan mewah. Ini kali kedua Elisa masuk ke dalam rumah itu, dan dia masih terus terkagum-kagum dengan kemewahan yang dimiliki Victor, entah sampai kapan nanti dia bisa memiliki rumah yang seperti itu, atau minimal punya rumahlah.
“Sis…!” Agni memanggil seseorang. Membuyarkan lamunan Elisa tentang rumah.
“Gila, bisa pula gue mikir tentang rumah saat pertama kali bertemu dengan Agni setelah penculikan itu!” Elisa berbisik di dalam hatinya.
“Iya mba!” Siska mendekati Agni dan Elisa.
“Tolong buatkan minum untuk kita berdua ya!” Agni memberikan instruksi pada Siska.
“Dia siapa?” Elisa melotot melihat Siska yang montok.
“Asisten di rumah ini. Victor mencari asisten untuk menjaga si kembar setelah gue keluar dari rumah ini. Hahaha, konyol banget!” Agni mengingat saat dia pergi meninggalkan rumah dan si kembar.
“Ohhh!” Ada sesuatu di dalam oh-nya Elisa.
“Kenapa?” Agni sadar akan kecurigaan Elisa dalam sepenggal kata yang dia ucapkan barusan.
“Nggak apa-apa!” Elisa mengelak pertanyaan Agni.
“Pasti ada apa-apa! Oh-nya beda!” Agni mengejar.
“Eh, gimana elu bisa kembali ke rumah ini lagi? Elu dari mana aja selama ini?” Elisa mengalihkan pembicaraan saat dia mengingat bahwa masih banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya dan harus segera ditanyakan pada Agni sebelum dia lupa.
“Ah ceritanya panjang. Baca di novel Cinta Tak Bertuan saja!” Agni menjawab.
“Yah kali, harus baca di sana. Cerita aja langsung, kenapa sih? Lagian emang iya kisahmu ada di novel itu, becandanya nggak lucu!” Elisa memasang muka sinis.
Baca juga: Zora's Scandal (Baru tamat, lihat pada profil saya di noveltoon/mangatoon.
__ADS_1
“Hahaha, canda novel! Hahaha….” Agni tertawa.
“Cerita dong!” Elisa memaksa, dia memegang tangan Agni, keras, memaksanya untuk berbicara.
“Ok, ok!” Agni meminta agar Elisa melonggarkan pegangan tangannya.
Elisa melonggarkan cengkeramannya di tangan Agni.
“Jadi, malam itu aku dibawa ke suatu pulau, entah di mana, sepi sekali pulau itu. Aku untuk beberapa hari itu harus melayani para pria hidung belang yang memang sengaja datang ke pulau itu untuk menghindarai lacakan istrinya masing-masing!” Agni menjelaskan.
“Apa?” Elisa melongo.
“Iya, tidak ada yang bisa melarikan diri dari pulau itu, penjagaannya ketat. Untung Victor datang dan membayar mahal sehingga beberapa penjaga yang sedang menjaga di sana memberikan Victor untuk membawaku ke pantai, di mana dia sudah menyiapkan speed boat untuk kita lari dair pulau itu.” Agni sangat antusias sekarang menceritakan kisah yang dialaminya.
“Terus, terus!” Elisa bisa merasakan apa yang diceritakan Agni.
“Nah, saat itu penjaga ada yang mengikuti kami, mengawasi agar kami jangan lari. Tapi emang goblok, dia tidak curiga sedikitpun jika speed boat itu adalah speed boat yang disediakan Victor untuk kami melarikan diri!” Agni melanjutkan ceritanya.
“Terus?” Elisa bertanya lagi.
“Kami lari ke dalam speed boat dan dia sempat mengejar kami dan berhasil naik ke speed boat juga!” Elisa anusias sekarang.
Saat itu Victor datang dan duduk di samping Agni.
“Agni memukul kepala penjaga itu sampai pingsan. Kalau dia tidak seberani itu, mungkin mayatkulah yang tinggal di lautan lepas sekarang!” Victor memeluk Agni dan tersenyum ke arah Elisa.
Elisa tertegun.
“Sa, maafkan aku atas sikapku yang lalu-lalu!” Victor meminta maaf pada Elisa, dia menatap mata Elisa yang tampaknya masih curiga dan belum bisa percaya pada perubahan yang ditunjukkan oleh Victor.
“Eh, tapi ini bukan rencanamu semua kan?” Elisa menumpahkan kecurigaannya, dia mau mendapat konfirmasi langsung dari Victor.
“Bukan, bukan. Aku sangat sedih ketika mendengar ceritamu mengenai Agni. Tetapi aku juga tidak tahu mengapa sikap yang kutunjukkan padamu berbeda.” Victor menunduk.
Elisa bingung, mengapa tiba-tiba Victor menunduk demikian.
__ADS_1
“Apakah dia sangat menyesal sekarang? Atau hanya acting belaka?” tanyanya dalam hati.
Elisa masih saja curiga dengan apa yang dipertontonkan Victor padanya.
“Aku mengalami trauma yang aku sendiri tidak bisa jelaskan karena aku juga tidak mengerti megnapa ini semua terjadi padaku. Intinya, aku memandang rendah semua perempuan kecuali Mbo Ratih, entah mengapa bisa demikian. Ternyata aku memendam itu sejak kecil. Aku tahu jika mamaku tidak pernah memperhatikanku, hanya Mbo Ratih yang ada denganku saat itu, sampai sekarang juga.” Victor berhenti sebentar, dia menarik nafas berat.
Elisa masih setia mendengarkan, tanpa emosi. Dia tidak mau masuk dalam tipu muslihat Victor. Dia tidak mau cerita karangan yang baru disampaikan Victor itu mempengaruhi penilainnya pada Victor berubah seketika.
“Aku selalu melihat mama membawa pasangan prianya ke rumah, berganti-ganti, saat papa tidak ada di rumah. Dan setiap papa pulang ke rumah, mereka selalu berantam. Psikiater berkata kalau aku menilai jika mama wajar mendapatkan perlakuan kasar dari papa karena ulahnya sendiri. Aku benar-benar tidak tahu apa sesungguhnya persoalan mereka, yang aku tahu mama sudah tidak setia lagi dengan papa dan tidak menganggapku ada.” Victor mulai meneteskan air mata.
Elisa mulai tertegun, bagaimanapun air mata Victor bisa meluluhkan hatinya. Matanya mulai berkaca-kaca, namun ditahannya agar tidak tumpah juga. Sedangkan Agni sudah menangis dari tadi.
“Aku hanya mau minta maaf padamu Elisa…, sekaligus berterima kasih!” Victor menatap Elisa yang memalingkan wajahnya karena menahan air matanya sendiri.
“Maka, sikapku pada Agni terpengaruh dengan pengalamanku di masa lalu, masa-masa aku belum mengerti apa-apa dan membuat penilaian sendiri di dalam hatiku. Hal itu benar-benar tertanam dan tumbuh mekar di dalam diriku maka aku tidak pernah memandang perempuan dengan baik! Aku bingung dengan perasaanku sendiri, di satu sisi aku cinta namun di sisi yang Victor kecil mengatakan jika aku tidak harus mencintainya, aku tidak bisa memberikan cinta pada perempuan manapun.” Victor mengusap air matanya lagi.
“Elisa, maukah kau memaafkanku?” Victor menatap Elisa lagi.
Elisa masih terdiam, berusaha mencerna apa yang baru saja diceritakan oleh Victor padanya.
“Sa, kalau kau tidak mau memaafkanku sekarang, tidak apa-apa, aku maklum karena aku telah berlaku tidak adil pada Agni, sahabatmu sendiri! Dan dia, karena kau, selalu membuatmu kerepotan dan panik!” Victor melanjutkan permohonan maafnya.
Saat Victor menunggu jawaban Elisa, Siska datang menghampiri mereka.
“Ini minumannya mba. Eh, Pak Victor ada juga. Mau aku buatin minum apa, Pak?” Siska bertanya pada Victor.
Victor melihat Siska dan memberikan kode jika dia tidak mau minum apa-apa.
Baca juga: Zora's Scandal (Baru tamat, lihat pada profil saya di noveltoon/mangatoon.
“Eh, Pak Victor menangis ya?” Siska heran melihat Victor bisa menangis juga.
“Siska, bisa tinggalkan kami dulu sebentar?” Agni memberikan perintah lewat kalimat tanyanya pada Siska yang mulai centil di hadapan mereka. Agni tidak mau apa yang ada di pikiran Elisa, sahabatnya itu dari tadi muncul lagi.
__ADS_1
Agni melihat sekilas mata Elisa yang menatap tidak senang pada Siska yang tampaknya genit itu.
Bersambung….