Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love

Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love
Memohon


__ADS_3

Elisa dan Agni melihat Victor yang tidak terurus. Wajahnya penuh dengan janggut dan kumis yang panjang, matanya sembab dengan kantong mata yang besar, mungkin saja karena menangsi atau begadang.


“Agni!” Victor melewati Elisa yang masih tidak percaya jika Victor kini berpenampilan sangar tidak terurus. Gambaran ketua preman benar-benar lebih terasa sekarang daripada Victor yang dulu, yang bersih, tampan dan wangi, lebih mirip actor daripada ketua preman.


Agni canggung, dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia benar-benar tidak siap dengan perubahan yang terjadi pada Victor. Bukan karena penampilannya, namun karena kelihatannya, Victor sudah tidak membencinya lagi.


“Agni, maafkan aku!” Victor berlutut di hadapan Agni, dipegangnya tangan Agni yang masih keheranan.


Agni harus gembira, namun dia tidak mengekspresikannya begitu saja, dia tentu tidak mau percaya begitu saja pada perubahan Victor.


“Agni, bicaralah!” Victor melihat perut Agni, sudah tidak besar lagi, artinya dia sudah melahirkan.


“Agni, anak kita mana?” Victor mencari-cari seorang anak yang pasti diletakkan di suatu temapt.


Victor tidak kesulitan untuk mencari apa yang hendak dilihatnya, ya seorang bayi. Victor melihat tempat tidur bayi, ada dua. “Kembarkah?” Victor bertanya pada dirinya sendiri.


Victor mendekati bayi-bayi yang sudah terjaga itu. Victor melempar senyum pada keduanya.


“Hai, ini papa!” Victor menyapa keduanya, seolah mereka sudah tahu berkomunikasi Victor tersenyum pada mereka.


Keduanya tersenyum pada Victor. Entah apa yang ada di pikiran kedua anak itu.


“Mereka bukan anakmu!” Elisa memcah kecanggungan yang ada.

__ADS_1


“Jadi, mana anak kita Agni?” Victor kembali pada Agni yang masih tetap memperhatikannya, namun masih membisu.


“Agni, jawab aku!” Victor dengan suara memohon.


“Saat kau menyia-nyiakan Agni dan anak yang ada di kandungannya, mereka bukan milimku lagi!” Elisa yang berani menjawab Victor.


“Tidak, kami belum bercerai, aku tidak mengusir Agni dari rumah, dia yang pergi sendiri dari sana!” Victor membela diri.


“Betul, tapi tindakanmu membuat itu semua bisa terjadi, bukan? Jadi, tetap saja, kau yang telah mengusir mereka!” Elisa ngotot, dia tidak mau Agni dan kedua anaknya kembali pada Victor.


“Tapi aku terus mencari keberadaamu, Agni!” Victor membela diri, dia mengadu pada Agni, seolah dia ingin mendapat dukungan dari Agni kala itu.


“Agni, mari pulang ke rumah!” Victor memegang tangan Agni.


“Agni, bicaralah!” Victor masih berharap jika Agni mau menuruti permintaannya, bukan kemauan Elisa.


“Bagaiman aku bisa percaya jika kau akan berubah?” Agni bersuara, lirih, bahasanya diplomatis, dia berada di tengah-tengah Elisa, sahabatnya, dan Victor, suaminya.


“Kau bisa memutuskan apapun sekarang, aku akan menerimanya, aku tidak akan memaksamu!” Victor memberi bola pada Agni sekarang.


“Aku tidak bisa membuktikan apa-apa untuk saat ini!” Victor menyahut lagi, lirih, ada ragu di sana.


“Kau sendiri masih ragu, itu artinya kau tidak memiliki komitmen sedikitpun untuk berubah. Kalau kau benar-benar mencintai Agni dan kedua anak ini, demi kebaikan mereka, kau bisa tinggalkan mereka sekarang!” Elisa tidak peduli dengan apa yang sedang dirsakan Agni sekarang.

__ADS_1


“Kenapa jadi kau yang selalu menjawab, biarkan Agni yang memutuskan!” Victor membentak Elisa.


“Aku bertanggungjawab melindungi sahabatku dari bedebah sepertimu, dia telah memutuskan pilihannya sendiri selama ini, dan pilihan itu kerap menyakiti perasaannya, termasuk harus menikah denganmu!” Elisa tidak takut lagi dengan konsekuensi yang bisa terjadi karena melawan Victor.


“Aku sudah mengakui, aku salah, dan aku sudah minta maaf!” Victor melihat Agni.


Baca juga: Zora’s Scandal (Lihat pada profil) 🤗


“Kau sungguh kekanakan, kau kira dengan meminta maaf semua persolana bisa selesai begitu saja?” Elisa masih mengambil alih, dia tidak mau jika Agni membuat keputusan yang salah lagi.


“Agni, jawablah sekarang, kau bisa memilih untuk tinggal bersamaku atau meninggalkanku, aku sungguh-sungguh sudah minta maaf dan menyadari jika aku salah!” Victor menurunkan suaranya, dipegangnya tangan Agni.


Agni bingun harus memilih apa. Di satu sisi dia senang jika dia harus kembali bersatu dengan Victor dalam rumah tangga yang bahagia dan di sisi yang lain dia tidak bisa tahu persis jika dia memutuskan untuk tinggal bersama Victor dia akan benar-benar merasakan bahagia.


“Agni, kau harus memilih meninggalkan dia!” Elisa mempengaruhi pilihan Agni.


“Aku…”


“Agni, please!” Victor berlutut.


Jangan lupa like, komen dan vote ya para readersku yang baik!


Bersambung….

__ADS_1


__ADS_2