
Elisa senang, besok Jay mengajak dia jalan lagi.
"Kau tidak perlu repot-repot membuatku senang, Jay. Bersamamu, aku sudah cukup bahagia, kok!" Mata Elisa tampak bersinar, tidak bisa ditutupinya kegembiraannya saat itu.
"Nggak apa-apa. Selama aku di Jakarta, aku mesti buat kau bahagia. Sekarang kita jalan ke mana nih?" Jay bertanya pada Elisa.
"Terserah, aku ikut saja apa maumu." Elisa memberikan keputusan diambil oleh Jay.
"Kita minum dulu sebelum aku hantar kamu pulang ya." Jay memberikan saran agar mereka minum seperti biasanya yang mereka lakukan sebelum akhirnya menikmati sisa waktu berdua dan berpelukan dengan leluasa.
"Baik, apa maumu saja!" Elisa mengangguk, ada senyum di bibirnya.
"Ok, sebenar." Jay memanggil pelayan. Dia meminta bill atas makanan dan minuman yang mereka pesan.
"Sebentar ya, Pak!" Pelayan itu kembali lagi untuk mengambil bill.
Jay mengangguk pada pelayan itu.
"Kalau misalnya kita jadi nikah nih. Kamu mau tinggal di Jakarta saja atau di Kalimantan?" Jay tiba-tiba bertanya pada Elisa.
Ditanyain hal semacam itu membuat Elisa bingung menjawabnya, dia sama sekali tidak pernah berpikir ke arah sana.
"Lah, kita belum mau menikah secepatnya kan? Ntar deh kita bicara itu lagi, hehehe!" Elisa menggaruk pipinya yang tiba-tiba gatal.
"Pertanyaan iseng sih, kalau kau tidak mau jawab juga nggak apa-apa. Tiba-tiba terlintas di otakku saja tadi pertanyaan itu.
"Tapi, kalau pertanyaan itu dipaksa harus jawab, aku lebih memilih tinggal di Jakarta. Aku sudah terlalu nyaman di sini. Tapiiii, jikapun aku harus pindah ke Kalimantan, aku nggak apa-apa juga. Aku suka berpetualang dan tinggal di daerah yang baru. Aku cepat beradaptasi, kok!" Elisa menjawab panjang lebar.
Pelayan itu datang lagi membawa bill. Victor memberikan kartu kreditnya pada pelayan itu. Pelayan itu menggesekkan kartu itu pada mesin kecil yang dibawanya juga.
"Terima kasih, Pak, sudah mampir ke restoran kami. Kami sangat mengharapkan kunjungan Bapak dan Ibu di hari-hari selanjutnya." Pelayan itu tersenyum dan menundukkan kepala pada Jay dan Elisa, bergantian.
__ADS_1
"Sama-sama!" Jay menjawab sedangkan Elisa hanya menundukkan kepala sembari melihat pelayan itu.
"Permisi Pak, Bu!" Pelayan itu undur diri daripada Jay dan Elisa.
Jay dan Elisa hanya tersenyum membalas pelayan itu.
"Eh, baik kalau begitu. Artinya tempat tinggal bukanlah hal yang perlu dipikirkan di kemudian hari." Jay menyambung pembicaraan mereka yang sempat terpotong.
***
Malam itu, sangkin senangnya Elisa sangat mabuk berat. Dia tidak mau berhenti minum setiap kali Jay menyodorkannya minuman.
Jay senang juga karena Elisa sangat kooperatif saat itu. Dia tidak jual-jual mahal, atau pura-pura alim, apalagi tidak mau jaga image agar terlihat baik di depan Jay. Elisa berekspresi seadanya.
Elisa tidak harus jaga-jaga image di depan Jay. Toh Jay sudah berusaha melamarnya tadi, artinya Jay sudah mau menerima Elisa apa adanya. Kalaupun akhirnya Jay berubah pikiran karena kelakuan Elisa malam itu, Elisa tidak ambil pusing.
"Sa, Elisa!" Jay mengencangkan suaranya karena suara musik di pub itu sangat berisik.
"Heh?" Elisa menjawab, dia sudah teler. Suaranya seperti mencercau menjawab panggilan Jay.
Elisa masih saja berjoged ria di pelukan Jay.
"Aku masih mau joged, Jay!" Elisa berbicara, suaranya hampir tidak kedengaran. Tetapi Jay tahu jika Elisa tidak mau berhenti joged.
"Kau sudah terlalu mabuk, besok kita lanjutkan lagi. Sekarang, kita pulang dulu." Jay menuntun Elisa keluar dari pub itu.
Baca juga: Zora's Scandal (Novel Tamat, lihat pada profil saya)
"Ah, elu nggak seru. Malam ini adalah malam kita berdua, jangan cepat-cepat pulang ah." Elisa masih berusaha menolak ajakan Jay untuk segera pulang.
"Ini juga sudah pagi loh, hanya matahari belum nongol aja." Jay mengingatkan Elisa kalau mereka sudah berjam-jam ada di pub itu.
__ADS_1
"Aku...masih...mau..." Elisa tidak mampu lagi menyelesaikan kalimatnya, dia tertidur di pelukan Jay.
Walau Jay sudah berumur separuh baya, tenaganya masih cukup kuat untuk memapah tubuh Elisa yang tidak ringan itu.
***
Elisa tertidur selama perjalanan. Jay menghantar Elisa ke kamar apartemennya, dia mencari-cari kunci di tas kecil milik Elisa saat Elisa masih tertidur lelap.
Jay membaringkan Elisa di atas tempat tidur. Dia sempat melihat di sekeliling kamar Elisa yang tidak terlalu besar itu.
Dia melihat foto Agni dan kedua anak Agni tertempel di salah satu dinding kamar Elisa.
***
Malam itu di rumah Victor.
"Mas, gimana pekerjaanmu di Makassar?" Agni bertanya pada Victor yang tertidur di sampingnya.
"Semuanya lancar." Victor menjawab datar. Mendengar kata Makassar dia langsung teringat wajah Elena.
Tiba-tiba saat mengingat Elena, wajah Siska juga tiba-tiba datang padanya.
"Sayang..." Victor melihat pada wajah Agni.
"Ya, kenapa?" Agni bertanya pada Victor, dia melihat wajah Victor yang tiba-tiba berubah.
Baca juga: Zora's Scandal (Novel Tamat, lihat pada profil saya)
"Ah, nggak. Nggak ada!" Victor tida jadi bercerita pada Agni.
"Loh, ada apa?" Agni agak memaksa, dia penasaran.
__ADS_1
"Nggak apa-apa kok!" Victor tidak mau jika Agni tahu apa yang dilakukannya di Makassar. Dia tidak mau Agni tahu kalau dia berjumpa dengan Elena di sana.
Bersambung