
Agni lemas seketika, dia menggulingkan badannya ke samping Victor dan melihat Victor nanar. Victor bangkit meraih bajunya dan hendak membuka pintu saat ketukan itu semakin kencang dan temponya semakin cepat, sepertinya ada yang urgen.
Belum sempat Victor memakaikan bajunya saat dia membuka pintu, masih setengah dan karena buru-buru Victor malah kewalah memakai baju itu.
Victor tidak melihat Siska yang tertegun melihat moleknya tubuh Victor. Ditariknya nafasnya panjang, dan kini dia semakin tidak kuat lagi, dia malah mencium aroma badan Victor yang kuat dan berhasil membangkutkan nafus Siska yang selalu ditekannya selama ini.
Ada beberapa saat waktu yang dibutuhkan Victor memakai bajunya itu hingga Siska punya banyak waktu untuk menikmati pemandangan indah itu, walau waktunya belum cukup karena tiba-tiba Victor berbicara padanya.
“Ada apa, Siska?” Victor bertanya, dia tahu jika Siska sedang memelototi badannya yang kekar itu namun dia tidak peduli karena bagaimanapun ada Agni di sana dan Siska hanyalah perempuan yang mengaguminya saja seperti banyak perempuan di luar sana.
Siska menelan air liurnya sendiri sebelum melihat wajah Victor dan dia sadar kalau dia sedang gugup dan tidak tahu ingin menyampaikan apa pada Victor sangkin gugupnya.
“Siska!?” Victor bertanya lagi.
“Eh, iya, Abiwara tidak mau diam, aku tidak tahu kenapa, sepertinya dia butuh sentuhan ibunya, Pak.” Siska memberitahukan apa yang ada di dalam otaknya.
“Kenapa nggak didiamkan sih, Sis. Kan kamu baby sitter-nya di sini!” Victor mulai tidak senang dengan Siska yang mulai mencurigakan.
“Sudah Pak, tapi sepertinya dia tidak mau diam kalau tidak didiamkan oleh mba Agni!” Siska berkeras.
Agni mendengar namanya disebut-sebut di luar. Dia merapikan rambutnya dan menemui Victor dan Siska di luar.
“Ah, kamu mulai ngarang ah!” Victor tidak senang dengan perkataan Siska.
“Kenapa pula dia tahu jika Abiwara ingin digendong oleh Agni sendiri?” Dia bergumam di dalam hatinya.
__ADS_1
“Bukan ngarang Pak. Emang sepertinya dia butuh kasih sayang dari ibunya.” Siska masih bertahan dengan apa yang dirasanya benar.
Baca juga: Zora's Scandal (Baru tamat, lihat pada profil saya di noveltoon/mangatoon.
“Ada apa Siska? Mana Abiwara sekarang?” Agni bertanya pada Siska. Dia tidak mau ada ribut-ribut di luar sementara hatinya sedang kacau karena hasratnya tidak tertumpahkan dengan tuntas.
“Ada di kamarnya mereka, Mba!” Siska menjawab Agni.
“Eh, kenapa panggil istri saya dengan Mba?” Victor keberatan karena Siska memanggil Siska dengan sebutan Mba.
“Udah nggak apa-apa, mas. Aku yang minta. Aku tidak terlalu suka dipanggil ibu, terlalu tua rasanya. Oh ya, aku mau lihat Abiwara dulu!” Agni berjalan memotong jalan dari depan Siska dan Victor dan meninggalkan mereka berdua di sana.
Siska melirik sebentar pada Victor. Wajah Victor tampak kesal, sama dengan Agni.
“Kamu ini ya, sudah tidak bisa diandalkan lagi!” Victor menekan kening Siska ke belakang.
Agni datang menggendong Abiwara. Abiwara tidak tampak menangis. Dia anteng di gendongan Agni.
“Katanya menangis, dia sedang tidur kok!” Agni menunjukkan Abiwara yang nyenyak di gendongannya pada Siska, pada Victor bergantian.
“Loh, tadi sedang nangis loh, Mba. Saat aku mengetuk pintu kamarnya tadi mungkin Abiwara kelelahan dan dia tertidur sendiri!” Siska berusaha meyakinkan Agni dan Victor kalau Abiwara benar-benar menangis dan rewel dari tadi.
“Ya sudah, kalau begitu. Abiwara mau dibawa ke kamar kita atau ditinggal di kamar mereka saja dulu malam ini?” Victor bertanya pada Agni.
Siska tahu arti dari pertanyaan itu.
__ADS_1
“Sebaiknya kita bawa ke dalam kamar, siapa tahu memang dia sedang rindu denganku!” Agni memberikan pendapatnya.
“Kalau begitu bawa juga Abisetya. Dia juga pasti rindu, hanya, dia tidak menangis saja.” Victor menimpali.
“Kalau begitu aku sudah bisa balik ke kamar ya, Pak, Mba?” Siska permisi dengan memberikan pertanyaan untuk disetujui tuan dan puannya itu.
“Iya, nggak apa-apa, kami bawa si kembar ke dalam kamar kami saja!” Victor memberikan izin pada Siska dan berjalan menuju kamar si kembar untuk mengambil Abisetya.
“Saya pamit kalau begitu, Pak, Mba!” Siska menundukkan kepalanya dan agak berbungkuk dan kembali ke kamarnya.
“Siska ada-ada saja ulahnya!” Agni bersungut pada Victor.
“Sudah tidak apa-apa, kali aja emang benar kalau si kembar sudah rindu kasih sayangmu, sayang!” Victor menghalau pikiran kotor Agni terhadap Siska.
“Jangan-jangan dia tadi sedang mengintip dari luar kamar!” Agni berprasangka buruk pada Siska.
“Tidak mungkin bisa mengintip, kamar itu tidak memiliki celah untuk mengintip.” Victor tidak mau Agni mulai dipengaruhi rasa curiga yang bisa mengganggu mood mereka.
Baca juga: Zora's Scandal (Baru tamat, lihat pada profil saya di noveltoon/mangatoon.
“Atau berusaha mendengar ke dalam kamar kita!”
“Ah, kamu, jangan terlalu paranoid dong. Kali aja emang Abiwara tadi sudah menangis dan dia sudah mengetuk pintu berkali-kali namun karena kita sedang asyik-asyik, kita tidak mendengar ketukan Siska!” Victor masih berusaha berpikiran positif.
“Semoga saja memang begitu!” Agni berjalan menuju kamar.
__ADS_1
Bersambung…