
Sebelum lanjut, vote dulu ya kakak 🙏 makasih 🤗
Mati-matian Victor menghalau panggilan Siska yang terbersit di kepalanya. Ingin sekali dia berjalan mengikuti langkah kaki Siska yang gontai.
"Mas, sudah pulang?" Suara Agni membuyarkan niat Victor yang akan mengikuti Siska ke kamarnya.
"Eh, sayang. Iya, eh aku sudah makan cake-nya. Enak banget!" Victor gelagapan namum dia langsung bisa menenangkan diri.
"Oh, serius?" Agni bangga dipuji oleh Victor.
"Kenapa nggak bangunkan saya, mas?"
"Tadi aku lihat kamu nyenyak banget, aku ngga tega." Victor memeluk Agni namun matanya masih tertuju pada pintu kamar Siska yang baru saja ditutup dari dalam.
"Nggak apa-apa, mas. Sekali lagi dibangunkan saja." Agni balas memeluk Victor.
***
Sementara di kamar SIska. Siska merengut karena dia tidak berhasil mengajak Victor masuk ke dalam kamarnya. Padahal ini adalah kesempatan yang langka yang Siska punya untuk dapat memeluk Victor barang sejenak, tanpa memaksa Victor melakukannya.
Dia kemudian tampak berbicara dengan bonekanya sebelum akhirnya ketiduran.
__ADS_1
***
"Gimana perkerjaan di Makassar, mas?" Agni bertanya pada Victor setelah akhirnya mereka sampai di kamar.
"Aman, semuanya sudah beres. Gimana rencana besok?" Victor lalu bertanya pada Agni sambil mengusap-usap rambut di ubun-ubun Agni.
"Syukurlah. Kalau kami besok akan mulai pasarkan untuk teman-teman dekat dulu. Mengambil testimoni mereka untuk dipajang di akun sosial media 'dapur si kembar'. Sepertinya kami akan produksi kecil-kecilan dulu kemudian kalau ternyata peminatnya semakin banyak nanti akan kita produksi lebih banyak lagi." Agni sangat antusias bercerita pada Victor.
"Nanti aku bantu minta tolong promosikan pada teman-temanku juga, ya!" Victor menawarkan diri. Tentu saja dia bisa meminta dengan gampang pada klien-nya selama ini untuk membeli cake-nya Agni.
"Makasih, mas."
"Wah, mau banget. Sekali lagi makasih, mas." Agni benar-benar bangga pada dirinya sendiri yang sebentar lagi akan menjadi businesswoman.
"Tapi malam ini, kasih jatah ya!" Victor meminta dimanja malam itu oleh Agni.
"Padahal aku tadi mau memintamu untuk melakukannya padaku. Aku sudah rindu sekali denganmu, mas!" Agni memeluk erat Victor.
"Aku juga kangen banget padamu, sayang!" Victor mulai mencium pipi Agni lalu pindah ke bibir Agni yang sudah basah.
"Kamu harum sekali sayang. Aku suka bau badanmu!" Agni berterus terang jika dia suka dengan bau badan Victor saat itu yang bercampur dengan parfumenya.
__ADS_1
"Kamu juga, sayang. Aku suka bau badanmu." Victor menciumi tangan Agni.
Victor benar-benar lupa dengan Siska dan bisikan-bisikan manjanya. Agni sungguh mampu menggodanya. Telah lama rasanya dia tidak melakukan apa yang sedang mereka lakukan malam ini.
"Nafasmu hangat sekali, mas!" Agni mencercau karena victor menghembus pusat Agni setelah baju Agni disingkapkan ke atas oleh Victor.
Victor mencium pusat itu dengan hati-hati, dia benar-benar menikmati bagaimana Agni bereaksi dengan sentuhan-sentuhan yang diberikannya.
Kini Agni semakin tidak tahan karena tangan Victor mulai bergerilya sudah entah ke mana.
"Mas..."
"Ya, sayang!" Victor menjawab, namun dia tidak sedikitpun berhenti memainkan lidah dan tangannya di tubuh Agni.
"Auh, mas. aku sudah tidak tahan lagi." Agni mengeluh, nafasnya sudah tersengal-sengal.
Dinginnya AC di ruangan itu tidak lagi terlalu terasa karena hangat dari tubuh Victor sungguh mampu membuat Agni kepanasan.
Agni dan Victor bergantian memberikan pelayanan yang memuaskan satu sama lain, mereka terkulai lemas dengan keringat bercucuran di badan masing-masing. Keringat mereka bercampur seperti ikatan emosional mereka yang terasa semakin erat dan tidak terpisahkan.
Bersambung...
__ADS_1