
Akhirnya mereka sampai di Bandara Ngurah Rai. Ornamen-ornamen khas Bali menyambut Agni dan Victor, perpaduan yang modern dan tradisional sangat kental di dalam Bandara.
Mereka melihat seseorang memegang kertas dengan Tulisan Victor. Agni dan Victor mendekat.
“Bapak cari Victor?” Victor mendekat pada laki-laki muda itu, tidak jauh berbeda dengan usianya kalau mau ditebak.
“Iya, pak, bapak Victor? Mau ke Ubud kan?” laki-laki itu senang, akhirnya tamu yang ditunggu-tunggunya tiba juga di sana.
“Iya, benar. Royal Villa!” Victor memperjelas tujuan mereka.
“Iya, pak, benar, saya dari Royal Villa!” laki-laki itu langsung berlari-larian menuju jalan keluar ke mana Victor dan Agni berjalan. Dia hendak mengambil alhi mengangkat tas yang mereka pegang.
“Maaf ya Bli, jadi kelamaan nunggu, kita ketinggalan pesawat tadi!” Victor minta maaf pada laki-laki muda itu.
“Iya, pak, nggak apa-apa!” Laki-laki itu mengambil alih koper yang dipegang Victor.
Dia membawa Victor dan Agni menuju mobil yang sudah stand by menunggu mereka sedari tadi.
***
Agni melihat pohon-pohon bunga kamboja berbagai rupa di sepanjang jalan, mulai dari Bandara.
“Namanya siapa, Bli?” Victor mulai percakapan dengan laki-laki muda yang menjemput mereka di Bandara, yang kini menyetir mobil untuk membawa mereka ke penginapan.
“Saya Ketut pak!” Laki-laki itu tersenyum dari kaca spion yang ada di depannya.
“Salam kenal, Tut, saya Victor, istri saya Agni!” Victor menunjuk istrinya, di juga melempar senyumnya lewat kaca spion yang ada di depan Ketut.
“Wah, jangan panggil Tut dong, Pak! Rasanya gimana gitu!” Ketut protes dengan panggilan Victor padanya.
“Waduh, jadi saya panggil apa dong?” Victor baru sadar juga jika memang sebenarnya nama Ketut kalau disingkat jadi agak kurang nenak didengar.
“Panggil Ketut aja pak, dipanjangin!” Ketut mengusulkan.
“Atau gimana kalau panggil Bli saja!” Victor menawarkan lagi. “Tapi nggak enak, panggil Ketut aja deh, biar terasa lebih dekat!” Victor plin-plan.
Agni hanya duduk dan memandangi jalan saja, dia kagum dengan para pengendara di sana, sangat jarang dia mendengar suara klakson, para pengendara saling memberi jalan, sangat berbeda dengan apa yang disaksikannya di Jakarta, rasanya semua saling serobot.
“Gimana enaknya saja, Pak!” Ketut memberi kebebasan pada Victor.
“Ketut juga jangan panggil Pak ya, panggil Victor saja!”
“Wah, jangan Pak, segan!” Ketut protes.
“Kenapa harus segan? Kan aku yang minta!” Victor meyakinkan Ketut. “Agar terasa dekat Bli. Bli harus panggil nama juga!”
“Gak enak, pak, biar saya panggil bapak saja deh, ya?!” Ketut bersikeras tidak mau memanggil tamunya dengan namanya langsung.
__ADS_1
“Kita ini sama-sama manusia, bli, nggak usah gak enakan, jangan karena kami tamu terus diperlakukan seperti orang yang levelnya lebih tinggi dari Bli sendiri!” Victor masih memberi pengertian pada Ketut.
“Jangan deh pak, biarkan begitu saja, nggak enak, besok-besok, kalaupun harus berubah, biarkan berubah secara alamiah, untuk sekarang, rasa-rasanya masih susah pak!” Ketut masih tidak mau mengikuti saran dari Victor.
“Sudah ih, jangan bertengkar hanya karena itu! Lanjut Bli, perhatikan jalan saja!” Agni ngeri, karena sedikit-sedikit Ketut melihat ke kaca spion bukan fokus pada jalan yang dilaluinya.
Victor terdiam, usahanya untuk menjadi manusia yang ramah ternyata bukan bawaan dari lahir, dia terlahir keras dan kasar, kalau dia tiba-tiba berubah ramah dan penuh perhatian akan terasa janggal, terutama di hadapan Agni yang sudah tahu bagaimana kasarnya dia.
***
Di depan Villa, Agni dan Victor disambut dengan segelas jus jeruk yang segar. Kemudian Ketut menuntun mereka menuju kamar mereka.
“Silakan pak, bu!” Ketut menghantar mereka sampai ke depan pintu kamar. Mereka sudah tiba di Royal Villa. Ada beberapa tamu yang sudah ada di Villa itu sekarang. Victor dan Agni adalah tamu terakhir yang masuk hari ini.
Villa itu sebenarnya sangat luas. Pemilik Villa membagi lahan itu menjadi Villa-villa kecil yang saling terkoneksi dengan lobi saja, sehingga para tamu yang menginap di sana tidak akan saling sapa kalau bukan karena di dalam lobi saja.
Setiap unit Villa akan dipagari dengan bunga-bunga pagar yang rimbun, sehingga para tamu tidak bisa saling intip, sangat nyaman lagi privat.
“Kamu suka tempat ini sayang?” Victor bertanya pada Agni.
“Iya, suka banget, keren ya! Aku baru pertama kali ke Bali!” Agni curhat.
“Masa sih?” Victor tidak percaya.
“Iya, pertama kalinya, saya nggak pernah diajak kemana-mana oleh orang tua, paling sekitar Jakarta dan Bogor, Bogor itu paling jauh!” Agni curhat.
“Kok bisa? Kamu kan anak satu-satunya di keluarga? Papamukan lumayan tajir ya, pengusaha di Singapura!” Victor terheran-heran.
“Kalau libur panjang?” Victor masih bertanya terus.
“Mereka liburan dengan teman-temannya masing-masing!”
“Kakek dan nenekmu?” Victor masih bertanya, dia tidak puas karena ternyata dia salah menilai Agni selama ini.
“Aku nggak suka dengan mereka!” Agni ketus.
“Sampai kamu terjun ke dunia…”
“Benar!” Agni memotong. “Sudahlah, kita ke sini bukan untuk mengingat-ingat masa lalu kita kan? Kita mau move on!” Agni tersenyum pada Victor, getir. Dia benci kalau harus mengingat mama dan papanya. Pikirannya lalu terbang menuju Jono, pembantu mereka yang layaknya seorang ayah padanya.
Kemudian Agni teringat. Saat mereka, Agni dan Jono ke rumah Victor minta pertanggungjawaban Victor.
“Ngomong-ngomong, selama ini kau tahu kalau…”
“Tahulah, Jono bukan papamu kan? Aku tahu semuanya tentangmu!” Victor mencubit hidung Agni.
“Wah, maaf ya kalau sudah bohong padamu!” Agni seperti anak kecil yang ketahuan bohong sekarang, ekspresinya sangat tidak enak dipandang mata, merasa bersalah.
__ADS_1
“Nggak apa-apa, aku ngerti kok!” Victor memegang pundak Agni.
Agni terdiam. Pikirannya melayang ke mana-mana, dia bingung harus bersikap seperti apa sekarang, dia malu pada Victor yang ternyata tahu semua latar belakang keluarganya.
“Apa dia tahu juga kalau aku ini bukan anak biologis Aditya?” Agni berbisik pada dirinya sendiri.
“Hei, jangan bengong!” Victor melambaikan tangannya ke wajah Agni yang tatapannya lurus ke depan namun seperti tidak melihat apa-apa yang ada di depannya.
“Eh, iya!” Agni tersenyum pada Victor. Lamunannya buyar karena badannya diguncang oleh Victor.
“Mikir apa?” Victor bertanya.
“Nggak ada, nggak apa-apa!” Agni bohong.
“Jangan bohong, tidak mungkin kau tiba-tiba menatap kosong ke depan kalau sendang tidak melamunkan sesuatu?” Victor menatap wajah Agni. Victor berlutut di depan Agni yang duduk di tepi tempat tidur.
Agni menatap ke bawah, pada mata tajam Victor. “Tidak mungkin untuk menipu laki-laki ini, dia bisa tahu semua apa yang dirasakannya!” Agni berbisik lagi pada dirinya sendiri.
Agni tersenyum, membalas tatapan aneh dari Victor.
“Jangan tatap begitu, aku bisa jadi gemes nih?” Agni mengalihkan pembicaraan.
“Gemes? Aku menggemaskan ya? Pantas kamu nggak bisa move on dariku, walau aku kasar, kau tetap mencintaiku kan? Apa sih yang membuatmu segitu cintanya padaku?” Victor senyum-senyum sendiri di hadapan Agni, yang kini menatapnya dari atas.
“Ke-ge-er-an ah!” Agni mencubit hidung mancung Victor.
“Eh, emang iya kan? Pesona Elisa takluk dengan pesonaku kan?” Victor jumawa.
“Jangan terlalu percaya diri anak muda, kalau kau berlaku curang lagi padaku, aku tidak akan segan-segan meninggalkanmu lagi!” Agni mengancam, tapi senyuman ada terukir di wajahnya.
“Wah masih ada rencana lari nih? Kau nggak bisa lari lagi dariku!” Victor bangkit, memeluk Agni, mendorongnya hingga telentang, kini dia berada di atas tubuh Agni. Memeluknya erat.
“Kalau kau masih tergoda dengan wantia lain, aku tidak akan segan meninggalkanmu selamanya, ingat itu!” Agni memegang kedua pipi Victor yang kasar karena janggutnya yang mulai tumbuh lagi.
***
Sementara di Jakarta, Mbo Ratih mulai kewalahan karena bayi kembar Agni dan Victor selalu rewel. Dia kewalahan karena yang nangis tidak hanya satu tapi dua sekaligus.
Dia memberi susu pada keduanya, setelah habis, nangis lagi. Dia bingin mau memberi apa lagi.
“Waduh, gimana nih? Kenapa anak-anaknya ditinggal begitu saja sih?” Mbo Ratih protes, dia ngomel-ngomel sendiri di rumah itu.
Baca juga: Zora’s Scandal (Lihat pada profil NT/MT saya)
Semua hal sudah dilakukan oleh Mbo Ratih, tetapi anak-anak itu masih tetap rewel, nggak mau dilepas, semua maunya digendong. Kalau dia menggendong si Adek, si Abang yang nangis, kalau dia menggendong si Abang si Adek yang nangis.
“Ini nggak benar nih, kayaknya salah nama nih mereka!” Mbo Ratih mulai mikir ke nama mereka berdua.
__ADS_1
Jangan lupa ninggalin jejak kaka😜
Bersambung…