
Dengan banyak pertimbangan dan penguatan dari Elisa, akhirnya Agni mau mencoba untuk memasak. Pertama-tama, dia menyiapkan akun media sosial untuk keperluan marketing produk yang akan diolah Agni, dari halaman facebook sampai Instagram, karena dua media sosial itu yang kini sedang digandrungi banyak orang.
“Masak apa ya?” Agni bertanya pada Elisa tentang apa yang harus dia masak dan bisa laku di pasaran.
“Kalau saranku, masak makanan kesukaanmu saja. Biasanya kalau kita suka dan memasak dari hati, pelanggan bisa merasakannya juga, dan bisa jadi mereka suka dan menjadi pelanggan tetat.” Elisa sangat optimis dengan kemampuan yang dimiliki oleh Agni.
“Hmm, masak apa ya?” Agni berpikir, matanya memandang ke langit-langit.
“Kalau buat cake gimana? Konsepnya yang beda dari cake biasanya!” Elisa menyarankan Agni membuat cake.
“Konsepnya bagaimana?” Agni berpikir lagi. Tapi dia tidak mampu memikirkan cake yang beda dari cake biasanya.
“Kita lihat-lihat dulu di sosial media, macam-macam cake yang dijual dan masih jarang ada di pasaran!” Elisa memberi saran dan langsung membuka ponselnya untuk melihat-lihat jenis cake yang ada untuk mendapatkan inspirasi.
“Bener, kita lihat dulu!” Agni juga membuka ponselnya untuk meliaht jenis-jenis cake yang unik yang ada dijual.
Mereka berdua tampak asyik melihat-lihat gambar-gambar cake di ponsel masing-masing. Mencari bentuk, warna dan wadah cake yang menurut mereka menarik untuk dipasarkan.
“Coba lihat ini, mereka membuat cake dengan bentuk yang lucu-lucu, kira-kira gimana?” Elisa menunjukkan satu akun Instagram yang menjual cake berbagai bentuk dan ukuran.
“Hmm, kayaknya ribet deh, ok, itu jadi satu opsi. Cob akita lihat-lihat lagi, manatahu ada yang lebih sederhana.” Agni menyarankan untuk mencari lagi cake yang mungkin bisa mereka tiru dan modifikasi.
“Nah, coba lihat yang ini. Ini lumayan banyak juga nih peminatnya. Cake in jar, konsepnya sederhana, dan bisa disimpan untuk jadi stok, jadi karena cakenya di dalam jar kaca, cakenya bisa lebih awet, gimana?” Elisa menunjukkan satu akun Instagram lagi yang menjual cake di dalam toples kaca.
“Unik juga sih, tapi biaya jar saja sudah mahal, cakenya mau dijual berapa lagi?” Agni sedikit pesimis karena biaya untuk satu jar saja sudah pasti mahal.
“Kayaknya kita coba dulu deh. Orang-orang sekarang ya sudah pada memilih penamilan dan kebersihan kalau untuk makanan. Kalau di dalam jar karena bersih dan tampak rapi, juga higienis tentunya, daaaaaaan, bisa disimpan lebih lama, walau lebih mahal, bisa saja lagu. Nah, target pasarnya itu adalah masyarakat ekonomi menengah ke atas. Gimana?” Elisa menerangkan seperti ahli marketing yang sudah berpengalaman beratahun-tahun.
Agni mengangguk-angguk. Dia tampak masih ragu dengan usulan Elisa.
“Hmm, bisa juga sih. Kalau misalnya gue juga disuguhi cake yang begitu, tidak terlalu banyak, cukup untuk satu porsi sekali makan, kayaknya gue mau beli juga deh. Kita coba ya, tapi modalnya?” Agni main mata pada Elisa.
__ADS_1
“Aman, gue ada tabungan. Pakai itu dulu.” Elisa mengerti apa maksud sahabatnya itu.
“Wah, terima kasih Sa, elu emang terbaik deh!” Agni memuji-muji sambil memeluk Elisa, berlebihan.
“Sudah ah, sekarang mikir apa nama brand kamu?” Elisa mengingatkan Agni agar tidak terlalu berlebihan, dia melepaskan pelukan Agni.
“Hmmm, apay a?” Agni mikir lagi.
“Ah, elu mikir mulu, tapi kayaknya nggak pernah dapat ide, pasti gue lagi nih yang dapat ide.” Elisa mengejek Agni yang dari tadi belum mengajukan idenya.
“Iya kan? Nggak tahu nih, buntu otak gue!” Agni mengakui pikirannya yang belum fokus, dia tidak ada pengalaman sama sekali untuk berbisnis.
“Ok, gimana kalau Cake Kita?” Agni akhirnya mengusulkan duluan nama brand yang akan dia pakai untuk brand jualannya.
“Jangan, jangan pakai kata cake, manatahu usahamu jalan terus dan bisa merambah makanan-makanan lain? Ambil yang lebih umum saja!” Elisa menolak mentah-mentah usul Agni.
“Jadi apa dong?” Agni langsung menyerah dia tidak bisa berpikir lagi.
“Gimana kalau, Dapur Mama?” Agni mengusulkan lagi.
“Hmm, menarik juga. Tapi coba pikir lagi nama yang lebih bagus, kalau tidak ada lagi, kita pakai itu saja!” Elisa menolak lagi usulan Agni.
“Jadi apa dong? Gue malas mikir nih!” Agni mengeluh lagi.
“Tenang dulu, pelan-pelan, karena brand akan menentukan kesuksesan usahamu nanti!” Elisa masih bergalak seperti master marketing.
“Apay a?” Agni berpikir lagi. Dia buntu kalau disuruh mikir beginian. Nama anaknya saja sederhana sekali dibuatnya, kayak rumah sederhana (eh gak nyambung), hanya dengan Abang dan Adek, mikir brand pula, dia tidak akan mampu memikirkan yang beinian.
“Gimana kalau, Dapur Si Kembar?” Elisa muncul dengan ide baru.
“Yakin? 3 kata?” Agni mengingatkan Elisa. Menurutnya nama itu terlalu panjang.
__ADS_1
“Nggak apa-apa. Itu nama yang bagus, kan nama brand tidak harus singkat juga. Gue mikir nama brandnya si kembar karena anak kamu kan kembar, dan apa yang elu lakukan pasti untuk anak elu dong. Kalau usaha lu ini nanti bisa sukses, mereka bisa tahu, kalau mereka sudah besar nanti jika elu, walaupun meninggalkan mereka dengan papanya, elu masih tetap memikirkan mereka juga.” Elisa membeberkan teori yang panjang pada Agni.
“Hmmm!” Hanya itu yang keluar dari mulut Agni, dia setuju kalau memang itu bisa kejadian dan dia akan sangat senang anak-anaknya tidak akan menyalahkannya suatu saat jika mereka tahu mereka ditinggalkan oleh ibunya sendiri bersama bapaknya dan dia pergi keluar dari rumah.
“Gimana, bagus kan? Sudah pakai itu saja, jangan mikir macem-macem lagi!” Elisa ngotot dengan pilihan nama brand yang dia usulkan.
“Gimana kalau diganti dengan Dapur Si Abi?” Agni mengusulkan, pikirnya, sekalian pakai nama si kembar saja.
“Kok si Abi sih? Emang ini usaha bapak-bapak ya?” Elisa protes.
“Bukan, nama si kembar kan Abisetya dan Abiwara, jadi ambil nama Abi saja, gimana?” Agni memberi keterangan pada Elisa.
“Lah, nama mereka bukannya Abang dan Adek seperti yang elu sebut tempo hari?” Elisa bingung.
“Iya, tapi Mbo Ratih menggantinya saat kami ada di Bali!” Agni menerangkan apa yang terjadi kenapa nama mereka berdua diganti oleh Mbo Ratih.
“Tapi baguslah naman mereka diganti. Tapi nama brand jangan pakai Abi, paka Kembar saja. Agar orang-orang yang melihat bisa tahu jika yang masak atau pemiliknya ada hubungannya dengan anak kembar. Kalau Abi malah orang mikir kalau yang punya itu bapak-bapak, jangan ah!” Elisa menolak. Dia masih keukeuh dengan usulnya di awal.
“Ah, elu paling bisa deh, semua hal bisa elu terangkan demi menolak usulan orang lain!” Agni protes.
Baca juga: Zora's Scandal (Baru tamat, lihat pada profil saya di noveltoon/mangatoon)
“Lah, yang gue bilang ya bener, kalau elu nggak sepakat, tinggal dilawan pakai argumen dong. Jangan main tuduh sembarangan. Gue kalau merasa lebih tepat ya pakai argument bukan malah menolak karena yang bicara begini dan begitu, ah ad hominem lu!” Elisa pakai istilah-istilah ilmiah yang dia pernah baca di buku.
“Ce ile, bahasamu ketinggian cuy!” Agni mengejek Elisa.
“Lah tapi bener kan? Kalau elu nggak tahu artinya, ya tinggal tanya! Hahaha!” Elisa merasa lucu sendiri dengan gaya bicaranya.
“Ok sepakat, kita pakai Dapur Si Kembar! Lama-lama kalau dipikir-pikir bagus juga tuh!” Agni sepakat dengan Elisa pada akhirnya.
Jangan lupa kasih dukungannya ya ka, vote, like, komen dan share novel ini agar semakin banyak pengunjungnya, masih sepi banget nih! Hehehe, terima kasih kaka-kaka semuanya!
__ADS_1
Bersambung…