
Semua keinginan Agni selama di Korea Selatan dituruti oleh Victor. Suaminya itu benar-benar ingin membahagiakan Agni.
Hari ini mereka berjalan ke museum Korea Selatan karena Agni ingin melihat langsung situs-situs peninggalan di negara itu.
"Kalau aku lelah begini, aku biasanya lebih bergairah loh!" Victor berbisik pada Agni yang asyik melihat barang-barang kuno yang ada di museum itu.
"Astaga, bisakah kita bicarakan hal yang lain dari situ? Otaknya mesum terus!" Agni melotot.
"Aku mesum ke isteri sendiri, masa nggak bisa?" Victor berbisik lagi.
"Hei, kalau kau teriak pun, orang-orang ini tidak akan paham, teriaklah!" Agni risih karena Victor masih terus menggodanya.
"Aku mau berbisik saja, lebih menggoda, iya kan?" Victor tersenyum, lebih ke menggoda senyum itu.
Agni kembali asyik melihat-lihat lagi apa yang sangat ingin dilihatnya.
***
Siang ini Agni mau makan kimchi, makanan khas Korea yang sudah terkenal seantero dunia. Dia tidak mau melewatkan rasa kimchi yang original di negara itu.
"Ini mah sayur ditaruh bumbu-bumbu doang!" Victor masih ingin berdebat.
"Makan deh, kalau kamu nggak suka jangan dimakan."
Tentu saja Victor memakannya, dia juga penasaran dengan rasa kimchi di restoran itu yang katanya sudah ada beratus-ratus tahun dan rasanya tidak pernah berubah dari generasi ke generasi.
__ADS_1
Victor melahap semua makanan yang ada di depannya. Agni melihatinya saja sambil menikmati makanannya juga.
"Oh, habis juga?" Agni mengejek Victor.
"Sayang kalau harus dibuang begitu saja!" Victor mencari-cari alasan, semua makanan memang enak di mulut Victor.
"Bilang saja doyan, nggak usah malu!"
Demikian mereka saling ejek seperti sepasang kekasih yang dimabuk cinta.
***
Mereka melaju ke penginapan yang baru di provinsi yang terkenal dengan ginsengnya di siang itu.
"Victor, bisa berhenti bicara tentang itu dulu sebentar, malu sama si mas-nya." Agni menunjuk pada pemandu wisata mereke yang ada di samping supir.
"Nggak apa-apa kan, mas?" Victor bertanya pada pemandu wisata yang sempat kuliah di Indonesia itu.
"Nggak apa-apa, pak. Santai saja!" dengan logat koreanya, pemandu wisata itu menjawab Victor.
"Tuh, mas-nya aja nggak apa-apa!" Victor melotot pada Agni.
"Terserah deh! Terus apa yang kamu ketahui lagi tentang ginseng? Paling itu doang!" Agni mengejek.
"Aku kasih tahu di kamar nanti ya." Victor menatap ke jalanan.
__ADS_1
***
Malam itu, mereka dibawa ke kedai ginseng. Mereka minum ginseng di sana, kemudian Agni membeli beberapa bungkus untuk dibawa ke Indonesia.
"Ambil lebih banyak dong. Ginseng banyak khasiatnya, tidak hanya untuk libido." Victor berbisik lagi pada Agni.
"Victor, hentikan!" Agni melotot pada Victor yang selalu nyerempet ke hal-hal romantsi seperti itu.
"Setelah minum ginseng, aku tidak mau tanggungjawab kalau kau ..."
"Diam, sayang! Cukup!" Agni mencubit paha Victor.
"Aku bisa on-loh dicubit begini, kamu mau tanggungjawab?" Victor masih saja menggoda Agni.
Agni berlalu begitu saja membawa beberapa bungkus ginseng menuju ke kasir.
***
Malam itu, Agni benar-benar lelah tapi dia tidak bisa tidur. Dia melihat Victor juga belum bisa tidur.
Mata mereka bertemu di pertengahan malam yang dingin. Agni terkejut melihat mata Victor yang sedang menatapnya saat dia berbalik ke arah Victor.
"Apa?" Agni pura-pura tidak tersenyum.
Bersambung
__ADS_1