
Victor buru-buru melihat aplikasi WA di telepon genggam Agni. Ada video, butuh waktu untuk mengunduh video, namun Victor tidak mau melihat, dia benar-benar yakin jika video itu adalah video kemesraan Victro dan Elena saat itu, yang direkam diam-diam oleh Elena, dihapusnya tanpa melihat apa isi dalam video itu.
Victor tersenyum.
Agni melihat senyum Victor itu, dia curgia, apa yang sedang dilakukan Victor pada telepon genggamnya.
"Ternyata kau tidak punya selngkihan, sayang!" Victor meletakkan kembali ponsel itu di atas meja dekat tempat tidur mereka.
"Jangan samakan pikiranmu dengan pikiranku, niatku dengan niatmu, Victor. Aku tahu kau curiga padaku karena kau sendiri yang melakukan perselingkuhan di luar sana kan?" Agni mendengus, dia benar-benar kesal dengan tingkah aneh Victor malam ini.
"Sabar sayang, aku bukan curiga kok, aku hanya pura-pura curiga saja, hehehe!" Victor membela diri.
"Lepaskan aku sekarang!" Agni memohon pada Victor. Tangannya benar-benar sudah kram sekarang.
"Oh, maaf sayang, aku lupa!" Buru-buru Victor membuka ikatan di tangan Agni.
__ADS_1
"Kau benar-benar sudah gila, aku mau pulang besok!" kekesalan Agni benar-benar sudah ada di ubun-ubun dari tadi.
"Jangan buru-buru sayang, kita masih ada waktu dua hari lagi di sini," Victor mengelus-elus pergelangan tangan Agni yang sakit itu.
"Jangan pegang-pegang!" Agni menepis tangan Victor.
"Jangan marah dong, sayang!" Victor membujuk Agni, dia memaksa untuk mengelus tangan Agni.
"Kau kejam sekali, aku tidak menyangka kau bisa setega ini padaku!" Agni tidak tahan lagi menahan ari matanya, dia sangat emosional saat ini. Dari tadi pikirannya sudah ke mana-mana, dia mengira kalau Victor benar-benar ingin menghajarnya habis-habisan, dipikirnya Victor berubah kejam lagi padanya.
"Itu becanda saja kok sayang, kan hanya hukuman, sakit ya? Maaf sayang!" Victor masih berusaha membujuk Agni.
Di pikiran Agni sekarang adalah ingin tahu apa sebenarnya yang telah dilihat Victor di dalam ponselnya itu. Tidak pernah sekalipun Victor melakukannya sebelumnya, tidak ada pemicu yang berarti yang membuat Victor harus curiga.
Selama di Korea juga dia tidak pernah menghubungi yang lain menggunakan ponselnya itu selain mengambil beberapa video dan foto di tempat-tempat yang menurut Agni bagus untuk diabadikan.
__ADS_1
Akhirnya Agni luluh juga. Tapi rasa sakit di pergelangan tangannya itu masih ada tersisa.
Sekarang sudah pukul dua belas tengah malam, mereka berdua masih berpelukan, Victor beanr-benar tidak mau melepas pelukannya, sepertinya dia sangat merasa bersalah sekali pada Agni. Tapi dia harus melakukannya agar hubungannya dan Agni tidak retak lagi. Dia harus pura-pura kalau tidak mau pisah lagi dengan Agni.
"Aku haus!" Agni berbisik, suaranya bergetar.
"Baik, aku ambilkan." Victor bergegas, melepas pelukannya dan mengambilkan minuman untuk Agni.
"Mau yang dingin atau yang hangat, sayang?" Victor melihat ke arah Agni yang sedang menyeka air matanya sendiri.
Victor kasihan pada Agni, dia sangat merasa berdosa sekali pada istrinya itu.
Karena Agni tidak menjawab, dia akhirnya mengambil air hangat saja dari termos yang disediakan di sana.
Menuang air itu ke dalam gelas dan menyodorkannya pada Agni.
__ADS_1
"Terima kasih!" Agni masih sempat berterima kasih pada Victor.
Victor lega, akhirnya perlahan-lahan, Agni bisa menguasai dirinya sendiri, tampaknya Agni sudah tidak terlalu kesal lagi.