
Agni menghubungi Elisa, dia mau curhat sedikit dengan sahabatnya itu saat Victor baru saja pergi keluar dari rumah. Sekali, dua kali, tiga kali, panggilan Agni tidak mendapat jawaban dari Elisa.
"Ah, mungkin Elisa masih ketiduran. Telpon nanti saja!" Akhrinya Agni menyerah. Dia hanya meninggalkan pesan pada Elisa jika dia ingin berbicara dengannya pagi itu.
Agni kemudian memutuskan membawa si kembar berjalan-jalan sambil berjemur di halaman rumah mereka yang penuh dengan rumput, jadi cukup segar untuk mendapatkan matahari di pagi itu.
"Kita jalan-jalan dulu ya, nak. Pasti kalian sudah bosan di kamar terus. Iya kan?" Agni mencubit pelan pipi keduanya yang tembem.
Abisetya dan Abiwar tertawa khas anak kecil yang menggemaskan.
"Kalian suka ya? Ayok mama pindah ke kereta dorong kalian ya!" Agni menggendong si kembar satu persatu masuk ke kereta dorong mereka yang dirancang untuk anak kembar, jadi tidak perlu mendorong dua kereta untuk si kembar.
Mereka berdua duduk berdampingan, menurut saja dengan apa maunya Agni.
***
"Mba, mau dimasakin apa untuk siang ini?" Siska menghampiri Agni yang sedang mendorong si kembar ke luar rumah.
"Hmm, apa ya? Terserah Siska deh, nanti aku ikut bantu-bantu ya!" Agni memberikan senyum pada Siska. Dia berlagak biasa saja pada Siska seolah tidak ada yang terjadi di dalam hatinya, sementara hati Agni sebenarnya masih bergejolak.
"Baik, Mba. Kalau begitu aku pergi belanja dulu ke pasar." Siska permisi pada Agni.
"Minta dihantar saja, Sis!" Agni menawarkan Siska untuk meminta bantuan dari salah satu penjaga rumah itu.
"Ah, biar aku saja, Mba. Aku bisa kok pakai motor ke pasar. Gampanglah!" Siska sangat beda pagi itu, terasa sangat ramah pada Agni.
"Ya sudah jika itu maumu. Senyamannya aja, Sis!" Agni menimpali sambil mendorong si kembar di dalam keretanya.
"Iya, Mba. Permisi!" Siska meninggalkan Agni dia masuk hendak mengambil keranjang belanjaan. Ketepatan stok makanan di rumah itu sudah menipis juga.
***
"Aku ikut denganmu, Sis." Mbo Ratih menawarkan jasanya untuk menemani Siska.
Sejak Siska ada di rumah itu, pekerjaan Mbo Ratih semakin ringan, Siska bisa mengerjakan banyak hal.
"Ah, nggak usah Mbo. Biar Siska saja. Mbo di rumah saja. Aku naik motor saja ke pasar!" Siska menolak tawaran Mbo Ratih.
"Jangan, kita minta diantar sama penjaga di depan saja, pakai mobil. Matahari sedang terik-teriknya, loh. Nanti kulitmu gosong!" Mbo Ratih berbicara penuh perhatian.
"Ah, matahari pagi sehak kok Mbo. Nggak apa-apa, aku naik motor saja. Bisa nyelip-nyelip, hehehe!" Siska ngotot ingin pergi sendiri.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu, hati-hati di jalan ya. Uang belanjaan sudah ada kan?" Mbo Ratih mengingatkan agar uang belanja tidak lupa dibawa.
"Sudah Mbo, ada di sini!" Siska menepuk kantong depan celana jeansnya.
"Sep, pergilah. Ingat Sis, nggak usah pakai nawar kalau belanja di pasar!" Mbo Ratih mengingatkan Siska.
"Sep, Mbo. Seperti biasa kan? Mbo sudah terus mengingatkan, aku pasti ingat." Siska tersenyum.
"Bagus!"
"Ok, Mbo. Aku pamit dulu ya!" Siska bergegas ke luar rumah menghidupkan motor dan pergi ke pasar.
***
Baca juga: Zora's Scandal (Novel Tamat, lihat pada profil)
Di Pasar, Siska tidak langsung belanja. Dia istirahat di tempat parkiran. Dia mengambil ponselnya dan mencari nomor Victor untuk dihubungi.
Victor mengangkat.
"Pagi, Pak. Lagi sibuk ya?" Siska bertanya manja.
"Ah, nggak terlalu sibuk kok. Lagi ngopi saja nunggu teman. Ada apa nelpon?" Kalau ada apa-apa kamu kan bisa ngomong saat aku ada di rumah." Victor mengingatkan Siska dengan lembut.
"Hanya mau dengar suara Pak Victor saja. Aku mau kasih tahu kalau aku sedang di pasar. Mau belanja nih. Bapak mau dimasakin apa malam ini?" Siska bertanya pada Victor yang dia tahu pasti pulang malam, bukan siang.
"Apa saja, aku makan kok!" Victor membalas Siska.
"Jangan gitu dong, Pak. Hari ini aku ulang tahun loh, aku mau masak yang enak dan menyenangkan seisi rumah, terutama Pak Victor." Siska malu-malu memberitahukan jika dia sedang ulang tahun hari ini.
"Wah, selamat ulang tahun ya, Sis. Maaf baru tahu!" Victor jadi merasa bersalah karena tidak ingat hari ulang tahun Siska, padahal dia memiliki foto kopi ktp siska.
"Ah, nggak apa-apa kali pak. Terima kasih sudah mengucapkan selamat, btw, Bapak loh yang ngucapin pertama kali!" Siska tersenyum malu-malu seolah Victor bisa melihat senyuman itu dari seberang sana.
"Loh, orang tuamu di kampung? Nggak ngucapin?" Victor penasaran.
"Kami nggak ada kebiasan merayakan ulang tahun, Pak. Boro-boro, makan aja susah!"
"Ya sudah, masak yang enak, malam ini aku datang. Kamu mau dibeliin apa?" Victor menawari Siska sesuatu sebagai hadiah ulang tahunnya.
"Ah, nggak usah repot-repot, Pak. Bapak sehat-sehat aja, aku sudah senang!" Siska malu-malu, dia terharu karena Victor menanyakan hal itu padanya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Siska. Bilang saja, aku akan belikan nanti."
"Jangan, Pak. Nggak usah. Serius!"
"Aku juga serius, Siska. Mau dibeliin apa, ngomong dong!" Victor ngotot.
"Apa aja boleh, Pak. Yang penting ikhlas!
"Ya pasti ikhlas lah. Ok, apa saja boleh ya. Sep, sampi ketemu ntar malam. Sudah dulu ya, temanku sudah datang!" Victor minta pembicaraan mereka diputus sampai di sana.
"Baik, terima kasih, Pak. Bye!" Siska mematikan panggilan setelah mendengar kata 'bye' dari seberang sana.
Siska senang sekali akan mendapat hadiah dari Victor. Sebenarnya kalau Victor mau mencium Siska saja di hari spesialnya ini, Siska sudah sangat senang.
"Siska koplak. Sudah ah, mikir aneh-aneh terus deh. Aku akan masak seenak mungkin hari ini untuk Pak Victor!" Siska membatin di dalam hatinya.
***
Setelah aktivitas Victor selesai hari itu, dia berniat akan membeli sesuatu pada Siska. Victor bingung mau membeli apa untuk Siska.
Kalau dia membeli baju, dia tidak tahu selera Siska yang bagaimana, belum lagi ukurannya.
Kalau dia beli sepatu, dia juga tidak mau sepatu itu kekecilan atau kebesaran.
Akhirnya Victor menyuruh supirnya untuk berhenti di toko perhiasan.
Victor sudah memutuskan di dalam hatinya akan membeli apa untuk Siska. Dia bisa membayangkan wajah Siska yang berbinar-binar jika dia mendapatkan hadiah itu dari Victor.
Saat dia masuk ke toko perhiasan, dia melihat Elisa dengan seseorang. Victor mendekat pada mereka berdua.
"Hai, Elisa?" Victor menyapa Elisa, kemudian tersenyum pada laki-laki yang bersama dengan Elisa itu.
Baca juga: Zora's Scandal (Novel Tamat, lihat pada profil)
"Hai, Victor. Mau beli perhiasan juga?" Elisa bertanya.
"Iya nih. Hehehe!" Victor nyengir.
"Oh, mau kasih kejutan ya?" Elisa betanya lagi pada Victor.
"Kejutan kecil-kecilan." Victor menjawab lagi sekenanya.
__ADS_1
Bersambung