
Di dalam kamar, Victor bingung mau melakukan apa. Agni dan kedua anak kembarnya sudah tidur karena kelelahan.
Victor karena sudah terlalu sering naik pesawat dia sudah terbisa dan tidak merasa lelah sedikitpun.
Dia memandang Agni yang sudah terlelap berbantalkan legnannya yang berotot.
Dia mengusap rambut Agni dan tersenyum dengan pemandangan yang ada di depannya. Victor tidak menyangka jika dia akan sampai pada tahap ini. Dia memiliki isteri, anak-anak yang tampan dan kehidupan yang layak, serba berkecukupan.
Hidup Victor rasanya serba berkecukupan.
Dia kemudian mencium kening Agni. Agni tidak memberikan respon apa-apa, dia sudah hanyut dalam lautan mimpi yang luas.
Diciumnya bibir Agni yang tampak ranum itu. Tidak ada rekasi juga.
Victor menggaruk kepalanya. Dia menggeser kepala Agni dari lengannya dan bangkit berdiri hendak ke kamar mandi.
Kamar mandi mereka tembus pandang. Orang yang di luar kamar mandi bisa melihat orang yang sedang mandi di sana dan yang mandi juga bisa melihat orang yang ada di luar.
__ADS_1
Victor membuka semua pakaiannya, dia tidak menarik sedikitupun gorden yang bisa menghalangi pandangannya ke luar.
Dia menghidupkan shower, air hangat mengalir disekujur tubuhnya. Dia mengoleskan sabun cair ke seluruh tubuhnya lalu mengusap-usap semua bagian tubuhnya.
Aksi Victor itu semua terpampang nyata di depan mata Agni. Dia sudah terjaga dari tadi sejak Victor menggeser kepalanya dari lengannya.
Agni menikmati semua pemandangan indah itu tanpa berkedip sedetik pun. Walau sebenarnya Agni bisa saja meminta Victor untuk bercinta dengannya kapanpun yang dia mau, namun dia sungguh-sungguh menikmati pemandangan itu.
Dia benar-benar penasaran dengan aksi-aksi Victor selanjutnya, apa yang akan dilakukan Victor jika dia merasa jika aksinya itu tidak ada yang melihat. Agni ingin melihat aksi-aksi Victor yang berjalan dengan begitu natural.
Kini Victor memegang dadanya yang bidang. Diusapnya foam-foam kecil yang tercipta dari sabun cair yang diusapnya ke badan itu.
Kini tangan Victor menjelajahi bagian bawah tubuhnya. Entah mengapa Victor membutuhkan waktu yang lebih lama di bagian itu, jau lebih lama dari usapan di bagian tubuh yang lain.
Agni membayangkan tangannyalah yang sedang menjelajah di sana. Agni membiarkan pikiran-pikiran kotor yang tercipta diotaknya berjalan ke mana ia pergi tanpa mengontrolnya sedikitpun.
Agni menelan ludahnya lagi. Dia memeluk tubuhnya sendiri. Kini Agni bisa mendengar nafasnya sendiri.
__ADS_1
Victor benar-benar tidak sadar jika Agni sedang menontonya dari luar persis seperti sedang menonton film di bioskop, tidak ada blur dan sensor sedikitpun.
Victor memegang adik kecilnya dengan penuh perasaan. Dia awalnya berpikiran ingin memandikan adiknya itu, menyabuninya dengan baik agar tidak ada kuman dan bakteri yang mampu bertahan di sana, namun apa yang sudah direncanakan tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana itu sendiri.
Kini Victor bisa merasakan adik kecilnya bertumbuh semakin panjang dan gemuk.
Kini tangannya memegang dinding kamar mandi, memberikan pemandangan tubuhnya dari samping bagi Agni.
Agni bisa merasakan tangannya sedang memegangnya, kalian tahu apa yang sedang dipegang Agni dalam bayangannya.
Agni menggigit bibir dalamnya sendiri dengan giginya menahan kenikmatan yang tergambar di hadapannya.
Victor semakin lama semakin kasar, dia hanyut dalam ombak yang dibuatnya sendiri. Victor tampak kesusahan menahan suaranya sendiri. Akhirnya dia menuntaskannya di sana.
Mabuk dari minuman yang tadi dia minum hilang bersama air yang mengaliri badan yang membasuh tubuhnya. Victor membersihkan semua badannya dan dia sangat terkejut melihat Agni sedang memandang ke arahnya degnan mata memebesar.
Victor cepat-cepat memakai kimono dan menemui Agni. Matanya melotot, dia tidak berkata apa-apa. Tapi Agni tahu jika Victor sedang bertanya padanya 'apakah dia melihatnya beraksi dari tadi' atau 'sudah berapa lama kamu melihat saya berdiri tanpa sehelai benangpun' atau 'apakah kamu melihat aksiku tadi?'.
__ADS_1
Agni hanya menjawab dengan senyuman yang menggoda.