
Agni tahu semakin dia memainkan itu, semakin mengeras pula milik Victor. Dia yakin jika Victor sedang tidak bermimpi, buktinya Victor bisa merasakan ransangan yang diberikan Agni.
"Aku tahu kau menginginkannya, sayang!" Victor tersenyum pada Agni.
"Astaga!" Agni berteriak di dalam hati, ternyata Victor benar-benar belum tidur.
Mungkin saat Agni berusaha membangunkan Victor, saat itulah Victor tidak lagi tertidur namun pura-pura tidur.
Victor buru-buru, tanpa aba-aba langsung menyerbu bibir tipis milik istrinya itu. Dikecupnya pelan, sangat lembut, penuh kehati-hatian.
Victor juga sudah sangat bergairah sekarang.
Selanjutnya kalian pasti tahu apa yang mereka lakukkan, semua baju ditanggalkan, keduanya lupa jika ada ketegangan yang terjadi sebelumnya. Ada kekesalan, ada rasa curgia dan ada kekesalan. Tapi untuk sesaat meraka membuangnya jauh-jauh, terutama Agni yang meraskan semua hal itu.
Agni benar-benar lupa, seperti ikan yang ingatannya pendek, seolah Agni tidak ingat lagi apa yang sudah terjadi pada dirinya tadi, lupa akan ulah aneh dan mencurigakan Victor. Dia tidak mau melewatkan perayaan malam ini.
__ADS_1
Agni benar-benar tidak bisa menolak apa yang disuguhkan tubuh atletis Victor. Sepertinya zat-zat kimia yang membentuk tubuh Victor dan zat kimia yang keluar dari tubuh itu mampu membuat zat kimia miliki Agni bergejolak dan mengeluarkan zat kimia yang memberikan tanda pada Victor untuk berbuat lebih jauh lagi.
Demikianlah malam yang dingin itu berubah menjadi malam yang terpanas yang pernah dilalui dua insan yang terbakar dan menyatu dalam ikatan cinta yang semakin erat namun memiliki retak kecurigaan di dalamnya. Terutama retak itu bermula dari tingkah aneh Victor sendiri.
***
Mbo Ratih dan Siska merasa kesepian saat Victor, Agni dan terutama si kembar tidak ada di sana. Untung ada ponsel dan jaringan WiFi yang bisa menghibur keduanya.
Jarang keduanya bertegur sapa, keduanya memiliki kesibukan masing-masing. Kalau Siska kewalahan menghadapi orderan makanan dari para pelanggan toko Agni dia akan meminta bantuan pada Mbo Ratih, itu saja, setelah itu, komunikasi terputus lagi.
"Kapan Pak Victor pulang?" Siska bertanya pada boneka itu, seolah boneka itu bisa berbicara padanya, lebih tepatnya Siska sedang mengadu pada boneka itu atas kesepian yang dia rasakan.
Siska sudah benar-benar rindu pada Victor. Dia bisa membayangkan jika kemesraan antara Agni dan Victor selalu punya kesempatan untuk berkembang dan bersemi bagai musim semi saat musim gugur di hati Siska yang gersang, kering kerontang.
Karena tidak mendapat jawaban dari boneka itu akhrinya Siska terlelap sendiri sambil mendekap boneka kesayangannya itu, dia lupa untuk menyembunyikan kembali boneka itu ke dalam tasnya.
__ADS_1
Malam ini Siska bermimpi, dia mengenakan gaun putih yang panjang, dengan manik-manik menyerupai permata, mahkota kecil yang bertengger di kepalanya memantulkan cahaya yang datang padanya membuat Siska senang, belum pernah dia menjadi perhatian banyak orang seperti yang dia rasakan saat ini.
Diujung sana, dia melihat Victor mengenakan jas berwarna hitam mengkilat, tersenyum memandangnya. Siska berjalan pelan-pelan menuju Victor yang sudah menunggu di bangku pelaminan. Iya hari ini adalah hari pernikahan mereka berdua.
Siska melihat ada Agni di sana. Mukanya cemberut, ada dua anak di tangan kiri dan kanannya, sudah bisa berjalan, Siska menyimpulkannya sebagai si kembar anak Victor dan Agni yang sudah besar.
Dan betapa dia sangat terkejut saat matanya tertuju pada boneka yang sedang digendong salah satu anak itu.
"Itu kan boneka kesayanganku? Kenapa bisa dipegang oleh anak itu?" mata Siska terbelalak, dia tidak mau ada satu orang pun melihat boneka itu, sudah sejak lama dia beruaha menyembunyikan keberadaan boneka itu. Mengapa harus di hari pernikahannya boneka itu muncul dan dipegang orang lain, Siska benar- benar panik sekarang.
Dia inign mengambil boneka itu namun dia tidak mau menarik perhatian orang-orang yang sudah hadir di sana.
Tiba-tiba mata boneka itu berputar mengarah padanya, menetapnya tajam.
Tidak ada yang menyadari hal itu kecuali Siska yang muali berkeringat.
__ADS_1