
“Gimana, sudah bisa cerita sekarang?” Elisa masih ingin mendengar cerita Agni, mengapa dia sampai datang lagi membawa koper ke apartemennya.
Walau Elisa sudah bisa menduga, ada hal buruk yang sudah terjadi pada Agni dan Victor, tetapi kalau tidak mendengar langsung dari Agni, dia kurang puas, dia tidak mau menduga-duga apa yang telah terjadi dengan Agni.
“Bisa!” Agni menjawab pelan.
“Ceritalah!” Elisa duduk bersila di depan Agni.
Mereka sekarang berhadap-hadapan di atas tempat tidur itu. Elisa menatap serius pada Agni yang tampaknya masih ragu untuk menceritakan apa yang telah terjadi padanya.
“Agni!?” Elisa mengusap pundak Agni, dia menunduk, melihat wajah Agni dari bawah karena Agni tidak melihat wajah Elisa, dia seperti berada pada dunianya sendiri.
Agni menatap Elisa pelan, dia mengerutkan keningnya, menarik nafas pelan, seolah dia harus mengumpulkan banyak energi untuk kemudia bercerita pada sahabatnya itu.
“Nggak usah segan-segan, ceritalah!” Elisa masih mendesak.
“Gue ditampar Victor saat aku bertanya dia dari mana pada malam terakhir kami di Bali, dia tidak kembali ke Villa tempat kita nginap.” Agni mengingat-ingat bagaimana dia ditampar oleh Victor untuk yang pertama kalinya.
“Memang, manusia sinting tuh, nggak punya hati. Dia itu tidak akan berubah, gue sudah berkali-kali melarangmu untuk pulang ke sana, elu sih, ngotot pengen balik terus, apa sih yang elu banggakan dari dia?” Elisa benar-benar memuncak emosinya.
“Iya, gue salah Sa, gue pikir dia bakal berubah, ternyata tidak, dia semakin menjadi-jadi. Bahkan di bulan madu kami saja, dia masih mau meninggalkan gue. Saat gue tanya, dia malah marah balik, pasti dia sudah melakukan yang enggak-enggak. Dia tidak mau mengatakan apa yang telah dilakukannya malam itu!” Agni mengadu, dia tahu jika Elisa akan emosi, tidak hanya karena Victor yang main tangan pada Agni, tetapi pada Agni juga yang selalu ngotot untuk kembali bersama Victor.
“Salahlah, makanya jangan pernah lagi injak kaki di rumah itu. Anak-anak kamu gimana?” Elisa bertanya lagi.
“Gue tinggal di sana!” Agni masih takut-takut menjawab Elisa, dia takut jika dia akan disalahkan lagi karena meninggalkan anak-anaknya dengan Victor, laki-laki brengsek yang tidak mau mengakui istrinya sendiri.
Elisa terdiam dengan jawaban Agni.
“Kenapa ditinggal?” Elisa datar. Mendengar suara Elisa yang datar itu, Agni jadi heran.
“Elu mau menyalahkan gue ya?” Agni ragu dengan reaksi Elisa itu, apakah dia marah atau justeru nggak habis pikir dengan tindakan Agni itu.
__ADS_1
“Bukan, gue hanya mau tahu motifmu meninggalkan anak-anakmu di rumah Victor. Elu takut anak-anakmu jadi merepotkan di kamar ini?” Elisa penasaran.
“Bukan, bukan itu. Gue juga sedih Sa meninggalkan mereka, mereka bahkan belum bisa ingat siapa mamanya. Tapi gue mau kasih tanggungjawab itu kepada Victor. Gue mau dia sadar jika merawat anak-anak itu tidak gampang! Juga agar dia…” Agni ragu.
“Agar apa?” Elisa mengejar apa yang disembunyikan Agni darinya.
“Agar dia selalu ingat denganku, kalau dia melihat anak-anak itu, dia akan ingat denganku!” Agni sangat hati-hati mengucapkan itu.
Elisa tersenyum mengejek.
“Elu masih berharap Victor mengingatmu? Apaan sih? Elu begitu tergila-gilanya dengan Victor. Agni, bangun, dia tidak mencintaimu, dia hanya tahu menggauli tanpa tahu tanggungjawab!” Elisa menerangkan karakter Victor dari apa yang telah didengarnya dari orang lain dan juga dari Agni sendiri.
“Bukan begitu, maksudku, dengan meninggalkan anak-anak itu, dia akan lebih belajar untuk bertanggungjawab. Aku lihat, dia sangat menyukai anak-anak itu, dia tidak akan menelantarkan anak-anak itu!” Agni menarik nafas panjang, berharap apa yang dikatakannya itu akan terjadi, Victor akan merawat anak-anak itu dengan baik, dengan penuh tanggungjawab.
“Semoga saja, gue juga setuju jika anak-anak itu kau tinggal. Tapi bukan karena gue nggak mau direpoti oleh kehadiran mereka ya, gue juga sudah sayang pada mereka. Tapi memang iya, Victor sepertinya harus belajar bertanggungjawab, dengan dua anak kembar sekaligus, dia akan merasakan kerepotan itu. Akhirnya dia bisa belajar konsekuensi yang harus dijalaninya jika melakukan suatu keputusan yang dia putuskan sendiri. Oh iya, apa Victor tidak berusaha menahanmu saat elu mau keluar dari rumah?” Elisa penasaran karena selama ini Victor katanya mencari keberadaan Agni.
“Tidak, itu juga yang membuatku sakit hati. Gue kira selama ini dia mencariku, ternyata dia mencari anak yang akan gue lahirkan, Sa!” Agni menangis lagi, seperti anak kecil yang mengadu kepada orang tuanya, Agni menangis sejadi-jadinya.
“Itu kenapa gue meninggalkan anak-anak itu, kalau aku membawanya, dia pasti tidak akan memberinya, lagi, dia akan mencariku dan anak-anak itu, andaikan gue pergi diam-diam dari rumah itu. Gue sudah memutuskan jika, jika gue tidak akan kembali lagi ke rumah itu. Semoga anak-anak gue akan mencari-cari mamanya suatu saat. Dan gue sudah minta ke Mbo Ratih, untuk mengatur jadwal gue bertemu dengan anak-anak itu!” Agni berusaha meyakinkan Elisa.
“Sabar ya!” Elisa mengusap tangan Agni.
“Iya Sa, terima kasih sudah mau menerimaku lagi di sini!” Agni memeluk Elisa.
“Anytime, Ni. Jangan sungkan!” Elisa mengeratkan pelukannya pada Agni. Dia mau memberikan dukungan pada sahabatnya itu.
“Terima kasih, Sa. Elu baik banget sama gue!” Agni masih terisak.
Elisa memukul-mukul punggung Agni.
***
__ADS_1
Elisa memasak soup labu kuning untuk Agni. Dengan cuaca yang dingin karena sedang musim penghujan, makan soup labu adalah pilihan yang tepat dan menyehatkan. Elisa tidak memberikan kesempatan pada Agni untuk mengambil alih memasak kali ini, dia mau memasak sendiri untuk sahabatnya itu.
“Wah, elu makin pinter masak aja nih.” Agni memuji keahlian memasak Elisa yang semakin teruji.
“Ah, biasa aja, gue nggak ada apa-apanya jika dibanding dengan elu yang super jago, semua makanan hampir bisa dimasak olehmu.” Elisa mengelak dibilang pintar masak oleh Agni.
“Nggak kok, emang jago kok. Asli, rasanya itu pas banget. Cuman...” Agni berhenti berbicara saat dia merasakan ada sesuatu yang kurang dari masakan Elisa.
“Cuman apa? Tuh kan pasti ada kurangnya!” Elisa bertanya pada Agni, apa yang kurang dari soup labunya itu.
“Kurang banyak!”
“HAHAHA…!” Mereka berdua tertawa bersama, dengan lahap mereka habiskan semua soup labu yang dimasak oleh Elisa sore itu.
“Ngomong-ngomong nih, gue kepikiran sesuatu deh!” Elisa memotong keceriaan yang baru saja tercipta begitu saja di kamar kecil itu. Muka Elisa berubah serius dan seperti punya ide brilian, matanya melotot dan memandang Agni yang keheranan karena tiba-tiba Elisa berhenti tertawa.
“Apaan?” Agni serius, masih ada senyuman menghias di wajahnya, dia penasaran apa yang hendak disampaikan Elisa.
Baca juga: Zora's Scandal (Baru tamat, lihat pada profil saya di noveltoon/mangatoon)
“Hmm, elu kan jago maska nih….” Elisa memulia.
“Iya, terus?” Agni masih belum mengerti apa maksud Elisa.
“Kenapa nggak coba masak untuk dijual?” Elisa tahu jika Agni tidak akan setuju dengan apa yang sedang diusulkannya karena Agni tidak terlalu percaya diri dengan masakannya sendiri.
“Ah, gue nggak sebagus itu, Sa. Pasti nggak ada yang mau beli!” Agni skeptis.
Jangan lupa kasih dukungannya ya ka, vote, like, komen dan share novel ini agar semakin banyak pengunjungnya, masih sepi banget nih! Hehehe, terima kasih kaka-kaka semuanya!
Bersambung…
__ADS_1