Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love

Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love
Bulan Madu (4): Bau tapi mau


__ADS_3

Agni benar-benar malu dengan dirinya sendiri, dia masih memaki-maki dirinya sendiri saat Victor menyandarkan dagu di pundaknya. Berat, dia merasa keberatan dengan beban yang disandarkan di pundaknya.


Semakin lama dia memalingkan wajahnya semakin lama beban itu akan menimpanya, Victor sepertinya tidak perduli dengan penderitaan Agni.


Agni berbalik ingin melihat Victor tapi Victor tidak mau beranjak dari pundak itu. Saat dia ingin melihat Victor langsung mencium pipi Agni.


“Bau ketekmu harum ya!” Victor berbisik, bermaksud menggoda Agni.


Agni malu dengan ucapan Victor itu. “Aku mau mandi!” Agni hendak pergi dari tempat tidur itu namun tangan Victor langsung merangkul pingul Agni.


“Jangan, masih terlalu pagi!” Victor melarang.


“Aku bau, aku malu!” Agni mengeluh.


“Nggak apa-apa, aku justeru suka!” Victor menarik tubuh Agni yang mungil itu ke pangkuannya. Dia sangat hati-hati agar adeknya tidak kejepit, namun penuh dengan tenaga membuat Agni tidak berdaya.


Agni pasrah. Agni menatap wajah Victor yang semakin hari semakin tampan di matanya. Dia tidak tahan dengan tatapan mata Victor. Dia luluh.

__ADS_1


Victor mengecup bibir ranum Agni dengan lembut. Agni membalas kecupan itu dengan mesra dan hangat, sepenuh hati, dia benar-benar sadar jika dia sedang bercinta dengan Victor sekarang. Dia harus menjaga kesadaran itu, dan tidak mau memikirkan hal-hal yang aneh-aneh yang bisa mengganggu kenikmatan itu.


Agni tidak mau lagi menolak apa yang seharunya dan pantas diterimanya. Dia harus benar-benar sadar jika dia sudah menjadi istri seorang Victor, laki-laki bejat, yang bisa menggaet perempuan manapun yang melihat ketampanannya. Yang tua maupun yang muda, rasa-rasanya akan takluk pada Victor jika Victor mau.


Tangan Agni mulai beraksi, dia mundur dari badan Victor yang kekar itu. Victor membiarkan Agni menarik tubuh seksinya itu dari pelukan hangat tubuh Victor.


Tangan Agni bergerilya di bagian bawah tubuh Victor.


Victor untuk beberapa saat bisa menahan ekspresinya, namun permainan Agni sungguh tidak diduga-duganya, wajah Victor mulai menunjukkan ekspresi kenikmatan, dia merintih menahan apa yang harus ditahan, dia kewalahan dengan perlakuan Agni padanya.


Dia meraih tubuh Agni dan menghempaskannya pada tempat tidur, mereka berganti tempat dan peran. Victor membuka semua yang menempel di tubuh Agni, satu per satu.


Ada perasaan malu pada dirinya yang polos itu, yang akhrinya takhluk pada Victor, dia membuang semua rasa malu dan egonya itu jauh-jauh, dia hanya mau menikmati apa yang akan disuguhkan Victor padanya.


Victor menyerbu semua bagian badan Agni. Dia tidak mau melewati satu centimeterpun tubuh sintal Agni itu. Walaupun Agni baru saja melahirkan bayi kembar, keseksian Agni rasanya tidak berkurang sejak pertama mereka bertemu, hanya dia semakin semok sekarang, maksudnya berisi.


Tubuh Agni bergetar karena perlakuan Victor. Tampaknya dia sangat professional membuat setiap perempuan nyaman dan ketagihan dengan aksi-aksinya di ranjang.

__ADS_1


Victor tahu jika Agni sangat menikmati apa yang dilakukannya sekarang. Dia menambah tempo hingga membuat Agni benar-benar kewalahan sekarang.


Agni tidak mau kalah duluan, dia bangkit dan mengambil alih permainan dan tampaknya Victor tahu apa yang ada di pikiran Agni, dia membiarkan Agni mengambil alih permainan.


Dikerahkan Agni semua tenaganya, bagaimanapun dia tidak bisa kalah dengan Victor.


Tidak terasa, badan mereka sudah sangat basah oleh keringat yang membanjir, bau badan keduanya kian menyengat.


Matahari mulai muncul di ufuk timur, namun permainan mereka belum juga usai. Hangat matahari mulai menyelimuti bumi. Apalagi matahari di Bali lebih cepat datangnya daripada di Jakarta apalagi di bagian paling Barat Indonesia.


Keduanya tidak mau mengalah, hingga entah siapa yang memeberi komando, keduanya sama-sama hilang pertahanannya dan akhirnya mereka berpelukan. Agni mengelus-elus dada bidang Victor sedangkan Victor mengelus-elus mesra rambut Agni yang tidak beraturan itu. Keduanya tidak dibalut sehelai benangpun dan mereka tidak perlu khawatir dengan itu, tidak akan ada yang akan melihat mereka dengan keadaan begitu.


Baca juga: Zora’s Scandal (Lihat pada profil saya di NovelToon atau MangaToon, by Otom)


Keduanya menatap ke arah yang sama. Suara burung mulai memenuhi tempat itu. Dari tempat yang sedikit berjarak dari mereka pelan-pelan harum makanan diolah masuk ke kamar mereka. Tidak terlalu menyekat namun mampu menggoda selera makan mereka. Mereka butuh asupan energi setelah menghabiskan energi yang mereka asup tadi malam, barusa. Mereka saling tatap, keduanya seolah mau mengatakan: “Aku lapar, pasti kamu juga!”


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya kaka

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2