
Suara ketukan berkali-kali terdengar dari luar. Agni dan Elisa terbangun bersamaan. Agni melihat jam dinding yang ditempel di atas pintu kamar Elisa, sudah pukul 6 pagi.
“Siapa sih pagi-pagi begini sudah datang bertamu?” Elisa menguap, suaranya samar samar-samar karena dia berbicara sambil menguap.
“Entah, rese banget!” Agni ikut mengutuk orang yang mengetuk keras pintu rumah kontrakan itu.
Suara ketukan semakin kencang, Elisa bangkit dari tidurnya, dia sangat terganggu sekaligus penasaran, siapa gerangan dan apa yang mereka inginkan sepagi ini.
“Hati-hati Sa, intip dulu, kali aja perampok!” Agni mengingatkan Elisa.
“Aman!” Elisa menenangkan Agni.
Elisa mengintip dari dalam rumah, dia melihat ada dua orang laki-laki, yang satu jangkung kurus, dan yang satu lagi gemuk berkumis namun tidak terlalu tinggi.
“Bu Agni, tuan Victor menunggu anda di rumah!” Si Jangkung berteriak. Kini Elisa tahu mereka berdua siapa.
“Elisa membuka pintu, “Tidak ada Agni di sini!” Elisa berbohong.
“Tidak mungkin, ini sendalnya!” Si Gendut menunjuk sendal Agni yang diletakkan di luar rumah.
Baca juga: Zora's Scandal (Lihat pada profil)
“Mau apa kalian? Dia tidak mau pulang ke rumah lagi, dia mau tinggal di sini saja!” Elisa setengah berteriak.
“Bu Agni!” Si Jangkung masih berteriak memanggil suara Agni.
“Dia tidak mau pulang, dengar nggak sih, sudah pulang sana, kami masih mau tidur, masih terlalu pagi,” Elisa hendak menutup pintu namun Si Gendut menahan pintu itu agar tidak tertutup.
“Jangan paksa kami membuat keributan di sini, mana Bu Agni?” Si Gendut bersuara, suaranya berat, seperti sedang menggendong beban di pundaknya.
“Siapa yang maksa elu? Awas, lepaskan, kalian pulang saja!” Elisa menarik pintu itu lebih kuat lagi.
Si Gendut masih menaha daun pintu itu agar tidak tertutup, si Jangkung datang membantu.
“Suruh Agni keluar dan pulang ke rumah sekarang, kalau tidak…”
“Apa kalau tidak? Nih!” Elisa menyiram keduanya dengan air minum yang ada di teko. Muka mereka basah.
Si Gendut maju dan ingin masuk dengan paksa ke dalam rumah untuk memanggil Agni.
__ADS_1
“Jangan masuk sembarangan ke rumah orang dong!”
“Kalau kau tidak menahan Agni di sini, kami tidak akan masuk ke rumahmu, sekarang, suruh Agni keluar dan pergi bersama kami, beres!”
Elisa menyiram lagi si Gendut, namun kali ini siraman itu meleset. “Jangan sampai aku teriakin maling loh, bisa dimassa kalian!” Elisa mengancam si Gendut dan si Jangkung.
“Silakan, tidak akan ada orang yang mau menolongmu!” Si Jangkung bersuara berat itu tersenyum mengejek Elisa.
“Sudah-sudah, jangan ribut, aku pulang dengan kalian. Sa, terima kasih ya, gw bersyukur punya teman sebaik elu, jaga diri baik-baik ya, gw akan lebih sering berkunjung ke sini.” Agni keluar dari kamar dan menemui Elisa dan kedua orang suruhan Victor itu, dia tidak mau tetangga yang lain mendengarkan merasa bahwa Elisa adalah orang yang tidak beres hidupnya.
“Tapi, aku memastikan jika kalian adalah suruhan Victor sendiri!” Agni menelpon Victor dari ponselnya.
Tidak ada jawaban, Agni menelpon Victor berulang-ulang.
“Sekali lagi kalau tidak diangkat, kaliah harus pulang tanpa saya,” Agni mencoba menghubungi lagi Victor.
Victor yang sudah nyenyak sedari tadi terusik karena ada panggilan masuk dari Agni.
“Halo, lu tidak mau pulang lagi ke ruamh ini?” suara Victor masih dingin.
“Eh, nggak,…” Agni tidak menyelesaikan kalimatnya.
“Gimana?” Elisa bertanya pada Agni karena dia melihat Agni sudah selesai berbicara dengan Victor lewat telepon.
“Sebaiknya aku pulang saja, aku tidak mau ada keributan di sini, maaf telah menggaggumu, Sa,” Agni memegang tangan Elisa, dia tersenyum pada sahabatnya itu.
“Kok gitu? Lu masih percaya jika Victor akan berubah?” Elisa mendesak Agni yang tiba-tiba ingin pulang bersama kedua suruhan Victor.
“Gw akan berbicara dengan Victor tentang ini, dan nanti aku ceritakan apa keputusanku padamu,” Agni meyakinkan Elisa.
“Terserah lu, gw sebenarnya tidak percaya kalau Victor bisa berubah, Agni, andaikan….”
“Sttt, gw pasti baik-baik saja kok, ingat kita ini perempuan tangguh, jangan kalah oleh dunia yang serba tidak stabil ini, ya kan?” Angi mengingatkan Elisa, dia berusaha meyakinkan sahabatnya itu jika dia akan baik-baik saja.
“Baikalah, nanti mampir-mampir ke sini, jangan tunggu ada masalah dulu!” Elisa mengingatkan Agni, dipeluknya sahabatnya itu tanda perpisahan dan memberikan kekuatan untuk menghadapi Victor yang dingin dan tidak berperasaan.
“Baik, gw pamit ya, terima kasih, Sa,” senyum terbentuk di bibir Agni yang tipis.
Agni memakai sendalnya dan melambaikan tangannya pada Elisa. Dua laki-laki itu mendahului Agni masuk ke dalam mobil yang diparkir di pinggir jalan.
__ADS_1
“Jangan lupa kabarin hasil perbincanganmu dengan Victor!” Elisa berteriak saat Agni menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangannya pada Elisa.
“Pasti!” Agni juga berteriak, dia tidak henti-hentinya melambaikan tangannya pada Elisa, seolah dia tidak mau berpisah dengan sahabatnya itu namun dia terpaksa melakukannya. Dia mau, Elisa tahu jika dia benar-benar ingin meninggalkan Victor dan menjalani hidup bebas seperti sedia kala.
***
Agni masuk ke dalam kamar, dia melihat Victor yang tertidur, telentang tanpa busana di atas tempat tidur. Agni meneyelimuti Victor dengan selimut yang tadi sudah ada di ujung kaki Victor.
“Dasar, lasak!” Agni berbisik, seperti hendak bicara pada Victor.
Agni membaringkan dirinya di atas tempat tidur, di samping Victor.
“Kenapa masih mau tidur? Sudah pagi nih, buat serapan sana!” Victor tiba-tiba berbicara ketus pada Agni yang baru saja mendaratkan badannya di atas kasur.
Agni kesal, dia masih sangat mengantuk, dia tidak mau berdebat, apalagi melakukan apa yang diperintahkan Victor padanya. Dia memejamkan matanya.
Victor bergeser mendekati Agni dan mengguncang badannya. “Bangun, bangun, kau kira kau ini siapa di rumah ini, jangan malas, bantu Mbo Ratih di dapur, sana!”
“Aku masih ngantuk, aku mau tidur, lagi, tidak kasihankah kau melihat keadaanku sekarang? Anakmu ini sudah semakin membebaniku, setidaknya kau memberikan kelonggaran padaku!” Agni ketus, dia tidak mau lagi menuruti semua permintaan Victor yang menurutnya tidak pantas.
“Dasar pemalas, hoi bangun!” Victor tidak peduli dengan kata-kata Victor.
“Nggak mau!” Agni bersikeras.
“Kamu ya!” Victor menggeser tubuh Agni ke pinggir kasur dengan kakinya yang panjang.
“Kasar sekali, kau ini manusia atau iblis sih?” Agni kesal, dia tidak mau turun dari kasur, dia mau melihat apakah Victor begitu tega menjatuhkannya dari atas kasur itu atau tidak.
“Kalau aku iblis, kau mau apa?” Victor mengancam. “Aku tidak mau melihat wajahmu di dalam kamar ini, aku sedang kesal denganmu!”
“Kesal? Aku yang seharusnya mengatakan itu padamu, kamu nggak sadar ya kalau kamu sudah melukai perasaanku?” Agni mulai meneteskan air mata, suaranya bergetar.
“Kau menangis ya? Brengsek, cengen sekali!” Victor bangkit dari tempat tidur dan memakai celana pendeknya dan keluar dari kamar itu. Dia tidak tahan mendengar suara yang bergetar karena akan menangis seperti yang baru saja didengarnya dari mulut Agni.
“Biar aku saja yang keluar dari kamar ini!” Agni bangkit, dia memegang perutnya yang semakin berat.
“Kau tidur saja, tadi disuruh keluar dari kamar tidak mau, sekarang aku mau keluar, kau juga ikut-ikutan mau keluar, tidak ada pendirian. Plin-plan!” Victor menggerutu.
Jangan lupa like, komen dan vote ya, nantikan episode selanjutnya, btw terima kasih buat yang sudah berikan hadiah untuk author ya, love you all! 🤗❤
__ADS_1