Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love

Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love
Jay Melamar Elisa


__ADS_3

Malam ini, di meja makan Siska curi-curi pandang pada Victor. Agni benar-benar memperhatikan gerak-gerik Siska sekarang.


Dia juga tidak luput melihat ke arah Victor. Apakah Victor juga curi-curi pandang pada Siska.


"Mas, makan yang banyak ya. Ini semua aku yang masak loh!" Agni melempar senyum pada Victor saat dia tahu Siska sedang memperhatikan wajah Victor.


"Lah, jadi Siska ngapain aja dari tadi?" Victor melihat ke arah Siska.


"Dia juga bantu-bantu kok tadi. Tapi semua konsepnya, aku yang atur." Agni tersenyum lagi pada Victor.


"Oh, gitu. Kirain Siska nggak bantu. Aku senang kalau kalian kompak begini." Victor tiba-tiba sadar jika dia tidak seharusnya bekata demikian.


"Maksudnya, mas?" Agni heran kenapa Victor berbicara demikian.


"Nggak ada maksud apa-apa. Emang kenapa?" Victor pura-pura tidak gugup.


"Kenapa mas bisa ngomong begitu?" Agni mengejar alasan Victor.


"Yah, sejauh yang aku lihat nih. Kamu tidak terlalu suka kan dengan Siska?" Entah dari mana Victor mendapatkan kata-kata itu.


"Nggak kok, emang kenapa dengan Siska?" Agni merasa disudutkan dengan kata-kata Victor. Dia harus mengelak dari keterusterangan Victor. Dia tidak mau jika Siska tahu kalau dia sedang curiga padanya.


"Baiklah kalau tidak demikian. Aku akan lebih senang lagi. Yuk makan lagi! Kamu pintar sekali loh masaknya." Victor mencomot lauk yang ada di depan Agni, sambil tersenyum padanya.


Agni merasa ada yang aneh dari senyuman Victor itu.


***


"Halo, dengan siapa ya?" Elisa menerima telepon dari nomor tak dikenal.


"Halo, sayang. Kamu apa kabar?" seseorang di seberang sana berhasil membuat Elisa penasaran.


Elisa seperti mengenal suara itu, namun sudah cukup lama dia tidak mendengarnya, sepertinya dia mengenal suara itu.


"Maaf, ini dengan siapa ya? Ada yang bisa saya bantu?" Elisa masih ngotot ingin tahu siapa yang sedang menghubunginya.


"Masa lupa dengan saya, sih?" suara laki-laki itu semakin berat saja.


"Maaf, kalau Anda tidak mau beritahu Anda ini siapa, aku akan akhiri pembicaraan kita sampai di sini saja." Elisa mengancam memutus panggilan itu.


"Jangan dong. Ok deh, aku kasih tahu. Kamu yah, masih galak seperti dulu."


"Aku putus nih!" Elisa mengancam karena laki-laki itu tak kunjung memberitahu identitasnya.


"Ok, Jay. Masih ingat kan?"


"Jay? Om J ya?" Elisa kaget, jantungnya tiba-tiba berdetak kencang karena mendapat panggilan dari Om J.


"Iya, kaget ya?" Jay dari seberang sana tahu jika Elisa kaget dan tidak percaya jika dia sedang menghubunginya.


"Ah, nggak kok. Biasa aja!" Elisa ngeles. Dia tidak mau Om J tahu kalau dia benar-benar kaget saat ini.


"Ya sudah kalau kamu nggak kaget. Mungkin kalau aku kasih tahu kamu aku sekarang sedang berada di mana, kamu akan jadi kaget." Jay membuat Elisa pensaran.


"Om lagi di mana?" Elisa benar-benar penasaran sekarang.

__ADS_1


"Coba tebak aku lagi di mana?" Jay berhasil membuat Elisa semakin penasaran.


"Di mana Om?" Elisa semakin menggebu-gebu bertanya pada Jay.


"Santai dong. Ada waktu nggak malam ini?" Jay malah balik bertanya.


"Om sedang di Jakarta ya?" Elisa bertanya lagi. Dia menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.


"Kenapa balik bertanya sih? Jawab dulu dong!"


Elisa mendengar Jay cekikikan di seberang sana.


"Om yang dari tadi balik bertanya kok. Ok, malam ini aku lagi free. Om mau ketemu di mana?" Elisa sangat senang karena akhirnya Om J yang telah lama menghilang itu mencarinya juga.


***


Ada banyak pertanyaan yang akan Elisa ajukan pada Om J kalau mereka bertemu nanti.


Elisa siap-siap untuk bertemu Om J. Dia berdandan secantik mungkin. Dia mau penampilannya tidak mengecewakan Om J malam ini.


Dia pakai parfume yang paling mahal yang pernah dia beli. Dia hanya memakai parfume itu jika dia ingin bertemu tamu yang spesial saja.


Elisa sudah bisa membayangkan wajah ganteng Om J, kebapakan sekali dan sangat mengayomi. Walau Om J lebih suka pada Agni, dia tidak perduli lagi karena Agni sudah menikah. Kabar itu akan disampaikan Elisa pada Om J kalau mereka bertemu nanti, agar Om J akhirnya melirik dirinya.


***


"Malam Om. Maaf, tadi taxi-nya lelet banget!" Elisa menyalami Om J dengan sangat sopan, tomboynya tiba-tiba hilang saat bertemu Om J walau Om J masih bisa melihat ke-tomboy-an Elisa walau sudah ditutup-tutupinya.


"Nggak apa-apa, silakan duduk." Om J mempersilakan Elisa duduk di depannya. Di meja itu hanya mereka berdua. Meja-meja yang lain sangat jauh dengan mereka sehingga meraka bisa cerita apa saja tanpa ada yang mendengar isi pembicaraan mereka berdua.


"Ok, aku mau kamu tidak memanggil saya dengan Om J lagi, panggil saja Jay. Agar lebih akrab. Mau yah!" Jay memandang serius pada Elisa.


"Kenapa?" Elisa tahu jika Om J mengatakan hal yang barusan dikatakannya itu, itu artinya Om J sudah merasa lebih percaya pada Elisa. Agni pernah cerita akan hal itu pada Elisa.


"Kamu sudah pasti tahu alasannya. Silakan pesan makan dulu!" Jay memanggil pelayan untuk mendekat pada mereka.


Elisa gugup, Jay sepertinya bisa tahu apa yang ada di dalam pikirannya.


Baca juga: Zora's scandal (Novel Tamat, lihat di profilku yes!)


"Baik, kalau begitu." Elisa tidak bisa menutupi perasaannya pada Jay saat itu.


"Elisa, coba sebutkan Jay dulu!" Jay memiringkan wajahnya.


"Ok, Jay. Dari sekarang aku panggil Jay. Agar kita lebih dekat lagi kan?" Elisa memainkan matanya pada Jay.


"Kamu selalu berani dan gampang diajari yah. Hehehe, aku suka sekali!" Jay tersenyum puas.


***


Hai para readers, sebelum lanjut kasih vote boleh banger, mungkin ada yang belum tahu cara vote di novel in, begini nih, tekan vote seperti pada gambar di bawah, kalian bisa kasih vote sekali seminggu loh BTW.😉😉😉



"Sa, maukah kau menikah denganku?" Jay melamar Elisa.

__ADS_1


"Benarkah? Jay bukannya ingin menikah dengan Agni ya?" Elisa bertanya pada Jay. Sebenarnya dia sangat senang namun dia heran saja karena dulu dia sangat terobsesi dengan Agni.


"Agni sudah menikah kan?" Jay mengerutkan keningnya, tanda dia sudah tidak punya pilihan lain.


"Oh, jadi kamu sebenarnya tidak mau menikah denganku? Hanya karena Agni sudah menikah baru kamu mau denganku? Aku hanya ban serep buatmu?" Elisa kesal seketika karena alasan yang dilontarkan oleh Jay. Walau dia sebanarnya tahu dengan hal itu.


"Bukan begitu." Jay membantah.


"Kalaupun begitu, bagiku tidak terlalu masalah walau hal itu sedikit membuatku kecewa. Aku senang kau bisa berterus terang." Elisa menutupi kekecewaannya itu.


"Terima kasih, Sa, atas pengertianmu!" Jay memegang tangan Elisa mesra.


Elisa merasakan darahnya lebih kencang mengalir di sekujur tubuhnya, dari ujung kaki ke ujung kepala.


"Tapi, maaf. Aku tidak bisa, Jay. Aku lebih senang hidup sendiri." Elisa menolak proposal Jay.


"Tapi, bukankah kau sudah lama menginginkan untuk menikah denganku?" Jay terkejut dengan penolakan dari Elisa.


"Benar, aku sudah lama ingin menikah dengankmu. Namun aku butuh pengenalan lebih jauh. Aku tidak mau tiba-tiba menikah denganmu kalau aku belum mengenalmu lebih jauh." Elisa benar-benar tidak mau menikah secepat itu dengan Jay. Masih banyak pertanyaan yang membuatnya penasaran dengan kedatangan Jay yang tiba-tiba lagi.


"Baiklah kalau itu maumu. Tapi setidaknya kau mau kan jadi pacarku?" Jay tidak mau Elisa lari dari jangkauannya.


"Mau, tapi kenapa kamu tiba-tiba muncul dan meminta menikah denganku?" Elisa mulai mengeluarkan pertanyaannsa satu-satu.


"Istriku baru meninggal. Aku kesepian, saatnya aku mencari isteri untuk mendampingiku. Kuharap kau tidak kecewa lagi dengan keterusteranganku ini." Jay masih menatap Elisa lekat-lekat.


"Maaf, aku tidak tahu itu. Tapi setidaknya, kau bisa menghubungiku sesekali." Elisa terbawa emosi. Dia kesal karena sudah lama tidak bisa menghubungi Jay lagi.


Elisa tahu tidak seharusnya dia se-emosional itu, dia tahu kalau dirinya bukan siapa-siapanya Jay. Dia hanya perempuan pemuas ***** Jay dan laki-laki hidung belang lainnya. Namun Jay mampu mebuatnya nyaman dan tidak memperlakukannya kasar seperti laki-laki lainnya.


Jay memang hidung belang, Elisa tahu jika dia bukan satu-satunya perempuan yang sudah ditidurinya, selain dia Agni sahabatnya sendiri juga telah ditidurinya. Namun perlakukan ramah dan bersahabat dari Jay mendapat hati dari Elisa. Dia nyaman jika sedang bersama dengan Jay.


"Maafkan aku, Sa. Aku memang saharusnya menghubungimu, harusnya aku menjaga komunikasi, namun isteriku benar-benar membuatku gila. Dia tidak mau jauh dariku. Aku tidak bisa menghubungimu dan tidak bisa bergerak bebas seperti dulu sejak dia memerogokiku sedang tidur bersama perempuan lain." Jay menceritakan kisah di balik menghilangnya dia.


"Dan itu juga alasanmu mengganti nomormu?" Elisa bertanya lagi.


"Benar. Sekarang, maukah kau menerimaku kembali?" Jay memohon pada Elisa.


"Kembali? Aku tidak pernah punya hubungan apa-apa denganmu kecuali..."


"Sttt. Jangan diteruskan." Jay memotong kalimat Elisa.


"Aku memang tidak pernah mengatakannya terus terang. Namun aku yang tahu bagaimana perasaanku padamu. Tidak semua kan harus diungkapkan dengan kata-kata?" Jay menatap mata Elisa sambil meremas jemarinya.


"Apakah semua perempuan yang mau kau tipu menerima kata-katamu barusan?" Elisa melotot.


Baca juga: Zora's scandal (Novel Tamat, lihat di profilku yes!)


"Terserah deh kalau kamu merasa aku sedang menipumu." Jay melepas tangannya dari tangan Elisa.


"Canda tipu. Hahahaha!" Elisa tertawa terbahak karena telah berhasil membuat Jay murung.


"Kamu yah. Bisa saja membuat orang tua kesel!" Jay mendekat ke wajah Elisa dan mencubit pipi kirinya.


Hai para readersku yang budiman, jangan lupa vote dulu ya hehehe biar novel ini bisa direkom oleh admin, terima kasih ya bagi yang sudah mau vote. Sampai jumpa di episode selanjutnya yah... see you!

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2