
“Apa-apaan ini?” teriak Agni. Matanya melotot pada sosok berambut panjang yang kini berada di atas perut suaminya.
“Tolong, tinggalkan kami sebentar saja!” Victor dengan suara dingin mengusir Agni dari kamar.
Desi terkejut karena mendengar jawaban dari Victor bukan karena teriakan atau tatapan tajam dari Agni. Namun tangan Victor menarik tubuhnya agar mendekat padanya.
“Maaf, aku tidak bermaksud mengganggumu tidur!” Desi meminta maaf pada Agni karena dia merasa dia dan Victor telah mengganggu waktu tidurnya. Dia menarik badannya dari pelukan Victor ke atas lagi, dia berusaha turun dari badan Victor yang kini menahannya agar tetap di sana.
“Kau benar-benar tidak hanya mengganggu waktu tidurku, tetapi mengganggu keutuhan rumah tangga orang lain juga. Di depan istri sahnya, seorang perempuan merebut suaminya.” Agni berdiri memandangi Desi dan Victor bergantian.
“Nggak usah banyak bacot, keluar sana!” Victor tidak melihat Agni sedikitpun, dia melihat Desi yang sedang memandang Agni dan Victor bergantian.
“Kalian?” suara Desi pelan.
“Benar, istri dan suami, dan ini anak kami beruda!” Agni memegang perutnya yang mulai membuncit.
“Victor, kau?” Desi melihat ke arah Victor, dia merasa ditipu oleh Victor.
“Ya, sudah menikah!” Victor melepaskan Desi. Desi berdiri, memungut bajunya.
“Mau kemana?” Victor memegang tangan Desi, dia berusaha membujuk agar Desi tidak meninggalkannya.
“Tetaplah bersamanya, aku saja yang pergi dari sini!” Agni keluar dari kamar itu dan meninggalkan Victor yang kini mencium Desi.
Desi masih tidak bisa memutuskan untuk meninggalkan Victor atau meladeni cumbuan Victor yang sangat dinantikannya sejak lama.
“Aku tidak pernah mencintainya!” Victor berbisik pada Desi.
“Maksudmu, kau dijebak olehnya?” Desi berusaha memebela Victor, karena sesungguhnya dia masih ingin menghabiskan waktunya di sana bersama Victor.
“Tidak juga, entah kenapa dia mengaku jika anak itu adalah anakku, kalau nanti lahir, aku harus pastikan jika anak itu memang benar-benar anakku atau bukan,” setelah mengatakan itu, Victor kembali membuka baju yang sempat dipakai Desi.
Desi tidak kuat menahan hasratnya. Dia membalas semua cumbuan Victor, dia tidak peduli lagi jika Agni benar-benar istri sah Victor atau tidak, dan di dalam hatinya dia berharap jika anak itu bukanlah anak Victor.
***
Elisa mendengar ada ketukan dari luar rumah kontrakannya, saat itu dia juga sedang becumbu dengan salah satu langganannya. Dia menghentikan lawan mainnya dan melilitkan kimono yang tergantung di dinding dan beranjak keluar kamar.
“Sayang…!” laki-laki itu sedikit kecewa.
__ADS_1
“Sebentar, sepertinya ada yang mengetuk pintu dari luar!” Elisa mendengar namanya dipanggil-panggil.
Elisa membuka pintu dan mendapati Agni yang basah kuyup karena harus lari dari rumah sementara hujan sedang deras-derasnya.
“Masuk-masuk!” Elisa menyuruh Agni masuk.
Elisa memberikan handuk dan pakaian bersih pada Agni untuk dipakai karena baju Agni sudah basah. Dia melihat Agni yang diam saja, dan tidak mau bertanya lebih dahulu, karena dia sudah tahu kira-kira apa yang akan didengarkannya dari Agni.
“Sa…!”
“Stt, ntar, ganti baju dulu!” Elisa tidak mau mendengar apa-apa dari Agni sekarang, dia mau sahabatnya itu berganti pakaian dulu.
“Ganti di kamar itu saja!” Elisa menunjuk kamar yang ada di sebelah kamarnya.
Saat Agni pergi mengganti pakaian, dia masuk menemui laki-laki yang sedari tadi menunggunya di sana, masih telanjang.
“Lama banget…!”
“Pulanglah!” Elisa memotong kalimat laki-laki itu dan memerintahkannya untuk meninggalkan rumah itu.
“Tapi, kita belum selesai, aku sudah bayar…!”
“Tidak boleh begitu dong!” Laki-laki itu mencoba protes.
“Keluar!” Elisa membentak laki-laki itu.
“Awas, gw lapor ke mami lu!” Laki-laki itu mengancam.
“Whatever!” Elisa membuka pintu kamar lebar-lebar agar laki-laki itu lekas-lekas angkat kaki dari sana.
“Sa, lu nerima tamu di rumah?” Agni heran.
“Bukan urusanmu, sekarang dia sudah pergi, kita bisa mulai ngobrol sekarang,” Elisa menarik tangan Agni menuju kasur empuk milikinya.
“Sa…!”
“Sttt, yang lagi bermasalah itu elu, nggak usah mencoba untuk mengalihkan perhatian, cerita…, sekarang!” Elisa menatap Agni yang sudah mulai merasa lebih hangat.
“Ok, gw nggak tahan lagi, sudah beberapa kali Victor membawa perempuan ke dalam kamar dan bercumbu di hadapanku, gw merasa tidak dianggap!”
__ADS_1
“Bagus, terus!?” Elisa masih mencoba tenang.
“Aku lari ke sini,” Agni memelankan suaranya, dia menatap Elisa yang datar itu. Biasanya dia meledak-ledak seperti ikan lele dimasukin ke dalam penggorengan.
“Ok, pertama, gw sudah melarang elu untuk meminta pertanggungjawaban padanya, yang kedua, gw nggak bisa ngomong apa-apa lagi dengan elu, kalau elu ada usul, silakan sampaikan sekarang!” Elisa menarik nafas panjang karena dia kelelahan menahan emosi yang ada di dadanya.
“Ya, mau gimana lagi, gw merasa, manusia bisa berubah, kita semua dinamis,” Agni ragu-ragu menyampaikan pendapatnya, Elisa sangat serius mendegarnya sekarang.
“Elu mau Victor berubah? Cara yang elu buat ini sudah sangat pas, jangan mau dianggap sampah oleh siapapun, elu itu berharga dan elu bebas melakukan apa saja asalkan jangan menyakiti orang lain, bebas Agni, bebas, itu dijamin oleh undang-undang,” Elisa menasihati Agni.
“Kita tunggu, apakah Victor akan mencarimu atau tidak. Gw sih lebih baik elu nggak dicari sama sekali!” Elisa menghidupkan rokoknya dan menghembuskan asapnya ke wajah Agni.
Baca juga: Zora's Scandal (lihat pada profil)
“Kalau begitu, apa untungnya dia berubah kalau gw nggak dicari? Itu sama saja gw dianggap tidak ada di sana, dikali nol,” Agni mengeluh. Tangannya mengusir kepulan asap dari mulut Elisa.
“Gw sih, nggak percaya Victor bakalan berubah!” Elisa memberikan vonis pada Victor.
“Jangan gitu dong!” Agni mengeluh.
“Jadi, lu masih berharap dengan dia? Setelah apa yang dibuatnya padamu? Lu mikir nggak sih?” suara Elisa naik.
“Gw nggak bisa mikir lagi memang, semua ini kulakukan demi anak ini!” Agni memegang perutnya lagi.
“Terserah deh, males gw ngomong sama elu, gw mau tidur, geser dong!” Elisa merebahkan badannya di dekat paha Agni yang mulai membesar.
“Sa, jangan gitu dong!”
“Ya, lu maunya gw ngomong apa dong? Gw nggak bisa basa-basi kalau ngomong, elu tahu itu kan? Sudah, tidurlah, sudah terlalu larut, besok kita ngobrol lagi, lu perlu jaga kesehatan lu juga, jangan sampai masuk angin loh, tadi baru kena hujan kan?” Elisa dalam marahnya masih sayang sekali dengan sahabatnya itu, dia mau yang terbaik buat Agni tapi dia tidak mau memaksakan kehendaknya dituruti semua oleh Agni, dia menghormati keputusan-keputusan yang dibuat Agni sendiri, termasuk ketika Agni harus menikah dengan Victor.
Agni mengikuti posisi tidur Elisa, dia memeluk Elisa. “Terima kasih sudah menjadi sahabat dan masih menerimaku walau selalu membantah semua saran-saranmu,” Agni berbisik pada Elisa yang berusaha memjamkan mata namun menajamkan pendengarannya.
“Iya….” Elisa menjawab Agni, singkat, agar Agni segera tidur, demi kesehatan Agni juga, masalah malam bisa dibicarakan besok pagi lagi. Lagian, Agni tidak akan pernah mendengarkan nasihatnya kalau sudah mengenai Victor.
“Entah apa yang dimiliki Victor hingga elu terobsesi padanya?” Elisa bertanya, berbisik di dalam hatinya sendiri.
Hai-hai pembaca budiman, terima kasih sudah mebaca sejauh ini, kalau kalian menikmati ceritanya jangan lupa like, komen, vote dan share ya, agar yg lain bisa baca juga.
Terima kasih 🙏🙏🙏❤
__ADS_1