
Victor merasa kelelahan mengurus anak-anaknya, Mbo Ratih juga tidak terlalu kooperatif, dia membiarkan Victor mengurus Abisetya dan Abiwara sendirian, dia hanya datang di saat-saat genting saja.
Victro sebenarnya menyadari penuh jika Mbo Ratih juga sangat khawatir dengan Abisetya dan Abiwara di baha pengasuhan Victor, dia selalu memperhatikan setiap tindakan yang dilakukan Victor pada si kembar itu.
Walau demikian, Victor tetap merasa kelelahan, Mbo Ratih tidak mau membantu, tetapi jika dia dipaksa, pasti akan mau juga. Pagi ini Victor mendekati Mbo Ratih di dapur, saat itu si kembar masih terlelap.
Mbo Ratih melihat Victor yang mendekat tetapi dia pura-pura tidak melihat. Dia masih pura-pura serius dengan lauk yang sedang dimasaknya di kompor. Mbo Ratih bertahan tidak melirik ke arah Victor walau dia tahu, jika Victor tahu dia sedang berpura-pura serius.
Victor menepuk punggung Mbo Ratih, tanpa suara.
Mbo Ratih masih pura-pura tidak menghiraukan, padahal tepukan Victor lumayan bertenaga tadi, namun Mbo Ratih masih tidak melirik.
“Mbo, jangan pura-pura terus, nggak capek apa? Pura-pura terus, dari tadi loh!” Victor akhirnya mengeluarkan suaranya.
“Eh, kenapa?” Mbo Ratih pura-pura baru engeh dengan kehadiran Victor di sana.
“Hmm, masih nggak mau ngaku kalau dari tadi pura-pura nggak sadar aku di sini, sepagi ini. Tapi nggak apa-apa, Mbo selesaikan dulu, aku tunggu di sana saja!” Victor menunjuk ke luar dapur, Mbo Ratih tahu maksudnya adalah di ruang makan.
“Eh, nggak apa-apa, bilang saja, sekarang!” Mbo Ratih malah jadi penasaran, dengan apa yang akan diungkapkan Victor padanya.
“Nggak deh, Mbo. Ntar saja, kalau Mbo sudah nggak repot!” Victor melangkahkan kakinya.
“Saya sudah selesai!” Mbo Ratih berteriak. Dia mematikan kompor dan memindahkan lauk itu ke dalam mangkok berwarna putih dengan corak daun berwarna orange.
“Oh, sudah ya!” Victor berbalik lagi.
“Ayo kita ke meja sana!” Mbo Ratih menarik tangan Victor.
Victor mengikuti langkah Mbo Ratih yang kini menarik tangannya keluar dari dapur yang penuh kepulan asap itu. Gaya memasak Mbo Ratih emang rada nyentrik.
***
“Apa yang membuatmu ingin sekali berbincang padaku sepagi ini, biasanya kau masih ngorok!” Mbo Ratih menyampaikan rasa penasarannya dengan pertanyaan yang memang diharapkan Victor sendiri.
“Begini, Mbo!”
__ADS_1
“Iya bagaimana?” Mbo Ratih tidak sabar dengan basa-basi yang keluar dari mulut Victor.
“Yang sabar dong, Mbo, jangan ngegas gitu!” Victor mengulur waktu. Mbo Ratih semakin tidak sabaran.
“Ok, silakan!” Mbo Ratih menutup mulutnya rapat, dia tunjukkan mulutnya yang rapat pada Victor yang entah kenapa kali ini terasa terlalu basi.
“Aku tidak sanggup harus mengurus dua anak sekaligus!” Victor akhirnya mengungkapkan apa yang sedang dirasakannya.
“Terus?” Mbo Ratih masih menunggu, merurutnya, masih ada hal yang ingin disampaikan Victor, yang dia baru saja katakan hanyalah pembukaan saja.
“Mbo bisa carikan baby sitter, nggak?” Victor mengertukan keningnya.
“Oh, aku kira kau begitu kuat ngurusin anak kembar hingga kau tidak berusaha menahan Agni untuk tetap bertahan di rumah ini!” Mbo Ratih akhirnya mengungkapkan kekesalannya, dia kesal karena Victor tidak pernah bisa belajar dari kesalahannya sendiri.
“Mbo, jangan bahas itu lagi ah!” Victor kesal karena selalu disalahkan dengan situasi yang ada sekarang.
“Gimana nggak harus dibahas? Mamanya ada, baik, kamunya begitu, siapa yang tahan dengan sikapmu yang begitu itu? Kau tidak mau menahannya agar kau bisa lebih leluasa bercinta dengan perempuan lain kan?” Mbo Ratih mengungkapkan semua kekesalannya di meja itu.
“Mbo mau atau tidak? Kalau nggak aku yang cari sendiri nih!” Victor semakin kesal karena menurutnya Mbo Ratih sudah kelewatan.
“Mbo, please!” Victor mengejar dan memgang tangan Mbo Ratih.
Mbo Ratih menatap wajah Victor. Dia tidak tahu harus melakukan apa lagi agar Victor bisa berubah dari sikapnya itu.
“Mbo…!” Victor mengiba.
“Kau harus meminta Agni datang ke rumah ini lagi!” Mbo Ratih menyampaikan keinginannya, agar Victor dan Agni bersatu lagi, membangun dan menjalani rumah tangga yang bahagia. Dia rindu itu, hanya itu yang diinginkan Mbo Ratih, tidak lain tidak bukan, tidak lebih dari itu.
“Kalau begitu, biar aku cari sendiri!” Victor melepas tangan Mbo Ratih dan pergi meninggalkannya di situ, masuk ke kamarnya lagi.
Mbo Ratih meneteskan air matanya, dia merasa gagal dalam mendidik Victor, entah apa yang salah yang pernah dibuatnya, dia benar-benar tidak mendapatkan petunjuk.
***
Victor memandangi Abisetya dan Abiwara. Mereka berdua masih nyenyak, muka lucu mereka mengingatkanya pada Agni. Saat wajah Agni melintas di pikirannya, dia menepisnya jauh-jauh.
__ADS_1
“Dasar perempuan tidak bertanggungjawab!” Victor mengutuk Agni di dalam hatinya.
Victor membulatkan tekadnya untuk mencari baby sitter untuk kedua anaknya itu, bagaimanapun dia harus sadar diri bahwa dia tidak akan sanggup mengurus kedua anaknya itu sendirian, dia butuh bantuan orang lain. Orang satu-satunya yang harusnya bisa diharapkan hanya Mbo Ratih, namun tampaknya Mbo Ratih tidak terlalu peduli dengan apa yang sedang dirasakan Victor.
***
Victor mulai bertanya pada setiap bawahannya, manatahu ada sanak saudara mereka yang mau bekerja di rumah itu sebagai babby sitter.
“Ada pak, sebentar saya hubungi dulu!” Salah satu satpam yang menjaga rumah Victor akhirnya menyatakan siap memanggil salah satu kerabatnya di kampung untuk bekerja di rumah Victor.
“Coba, coba hubungi sekarang!” Victor antusias, dia senang akhirnya ada seseorang yang akan menjaga kedua anaknya di rumah.
Satpam itu mengangguk kemudian mengambil ponselnya dan mulai menghubungi seseorang di kampung, Victor tidak mengerti bahasa yang digunakan satpamnya itu, dia hanya menunggu saja dengan perasaan yang berharap.
“Gimana?” Victor bertanya pada satpam itu setelah dia tahu kalau satpam itu sudah selesai berbicara dengan lawan bicaranya di seberang sana.
“Bisa pak!” Satpam itu tersenyum, wajahnya berbinar, dia bangga telah membantu dua orang sekaligus, Victor bosnya yang kadang-kadang arogan dan salah satu kerabatnya di kampung yang butuh pekerjaan.
“Dia minta gaji berapa?” Victor bertanya lagi.
“Masalah gaji, gampanglah pak, nanti kalau dia sudah sampai di sini baru dibicarakan lagi, amanlah itu!” Satpam itu mengangguk-angguk saat berbicara dengan Victor.
“Oh, begitu ya, kalau begitu kau bisa pesankan tiket pesawatnya, nanti aku suruh Mbo Ratih transfer ke rekeningmu!” Victor masuk lagi ke dalam rumah.
Wajahnya sumringah, akhirnya anak-anaknya akan memiliki pengasuh baru, yang akan membantu sekali mengingat kerepotan demi kerepotan yang sudah dilaluinya semenjak Agni pergi dari rumah itu.
Dia menemui Mbo Ratih dan meminta Mbo Ratih mengirim sejumlah uang ke rekening satpam tadi agar tiket saudarinya, calon babby sitter untuk anak-anaknya segera dibelikan.
Baca juga: Zora's Scandal (Baru tamat, lihat pada profil saya di noveltoon/mangatoon)
Mbo Ratih tanpa bersuara meng-iyakan permintaan Victor. Dia langsung mengambil ponselnya dan untuk sementara kelihatan sibuk dengan ponsel itu dan menunjukkan layar ponselnya pada Victor. Tanda transaksi berhasil bisa dilihat Victor dari layar ponsel itu, kemudian dia pergi meninggalkan Mbo Ratih.
“Terima kasih, Mbo!” Tak lupa Victor mengucapkan terima kasih karena Mbo Ratih sudah melakukan apa yang dia mau, dia sangat membantu di rumah itu, perempuan yang serba bisa.
Jangan lupa kasih dukungannya ya ka, vote, like, komen dan share novel ini agar semakin banyak pengunjungnya, masih sepi banget nih! Hehehe, terima kasih kaka-kaka semuanya!
__ADS_1
Bersambung…