
"Oh, Iya. Perkenalkan. Ini Jay, Jay, ini Victor. Suaminya Agni!" Elisa memperkenalkan Jay dan Victor.
"Mas, kenal dengan Agni?" Victor bertanya pada Jay.
"Kenal, teman lama!" Jay tersenyum seadanya.
"Oh, senang bertemu denganmu, mas."
"Panggil Jay, saja!" Jay meminta Victor memanggil nama saja.
"Oh, ok. Jay!" Victor menyebut nama Jay dengan hormat.
***
"Gimana, Pak. Jadi ambil ini?" pelayan di toko perhiasan itu menunjukkan kalung dengan liontin huruf E dari berlian.
"Jadi, jadi." Jay menjawab pelayan itu lalu kembali melihat ke arah Victor.
"Eh, lanjut saja dulu..., Jay. Aku juga mau lihat-lihat. Mari Sa. Aku ke sana dulu ya!" Victor menunjuk ke arah gelang.
"Iya, silakan. Salam dengan Agni ya, mas!" Elisa titip salam pada Agni.
"Iya, nanti saya sampaikan." Kemudian Victor berjalan menuju perhiasan gelang yang agak berjarak dengan Elisa dan Jay di bagian kalung.
***
__ADS_1
Victor sudah selesai dan dia pamit pada Jay dan Elisa. Kalung untuk hadiah ulang tahun pada Siska sudah dibungkus rapi dan siap diserahkan pada Siska di meja makan disaksikan semua penghuni rumah itu.
Victor balik ke rumah sementara matahari sudah mulai tenggelam. Langit Jakarta terlihat menjingga, indah sekali.
Victor berharap Siska bisa menerima hadiah darinya dan merasakan bahagia di hari ulang tahunnya ini. Wajah Siska terlukis di depan wajahnya dan mengucapkan terima kasih, seperti gambar yang diproyeksikan dari proyektor, wajah Siska muncul perlahan namun pasti.
Victor tersenyum-senyum sendiri. Supirnya melihat ekspresi itu namun dia tidak mau bertanya, dia lebih memilih diam dan konsentrasi pada jalan yang ada di depannya.
***
Baca juga: Zora's Scandal (Novel Tamat, lihat pada profil)
Keesokan harinya, Elisa baru melihat panggilan tak terjawab dari Agni dan pesan yang dikirim Agni padanya lewat whatsapp.
Agni mengangkat panggilan dari Elisa.
"Halo...!" Agni malas-malasan menjawab panggilan dari Elisa.
"Cie cie yang baru dibelikan perhiasan oleh suami tercinta!" Elisa langsung bersemangat begitu mendengar kata 'halo' dari Agni.
"Ngomong apaan sih? Nggak ngerti deh!" Agni bingung.
"Nggak usah ditutup-tutupi kaleeee!" Elisa masih menggoda Agni.
"Apanya yang ditutupi? Ngaco deh!" Agni kesal. Tidak hanya karena Elisa ngomongnya ngaco tetapi karena baru pagi ini Elisa membaca pesannya dan menghubunginya.
__ADS_1
"Selama 24 jam yang lalu elu ke mane aje?" Agni kesal namun kekesalannya hanya ada di dalam hatinya saja, dia malas untuk mengeluarkan itu semua. Selain, dia juga tidak mau dituduh terlalu manja pada Elisa, dan sangat bergantung padanya.
"Kamu baru apat gelang dari Victor, kan?" Elisa terus terang.
"Nggak ada ah, sok tahu lu!" Agni menyangkal apa yang dikatakan oleh Elisa.
"Loh, kemarin dia beli perhiasan untuk siapa dong?" Elisa jadi curiga.
"Apa? Kemarin dia beli perhiasan? Elu lihat dengan mata kepapa lu sendiri, serius?" Agni cukup terkejut mendengar jika Victor kemarin membeli perhiasan.
Agni langsung kalut.
"Ini pasti untuk cewek lain nih, nggak bisa dibiarin!" Agni emosi.
"Sabar, Agni. Jangan langsung naik pitam begitu. Coba selidiki dulu lagi untuk siapa gelang itu dia beli!" Elisa berusaha menenangkan Agni, walau dia tahu jika Agni tidak bisa ditengkan begitu saja.
Baca juga: Zora's Scandal (Novel Tamat, lihat pada profil)
"Nggak, aku mau Victor ngaku dia beli gelang untuk siapa!" Agni semakin emosi.
"Iya, iya, ntar dong. Sekarang aku mau tanya, sebelum elu tutup panggilannya, kemarin elu mau ngomong apa?" Elisa bertanya pada Agni
"Ntar gue cerita lagi, sekarang gue harus telpon Victor nih, nggak bisa dibiarin gini terus. Makin ngelunjak entar." Agni beringas.
Bersambung
__ADS_1