Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love

Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love
Victor Berulah Seperti Papanya


__ADS_3

“E eh, mau ke mana?” Mbo Ratih menahan Agni yang membawa koper keluar dari kamar mereka.


“Aku sudah tidak tahan di rumah ini!” Agni dengan nada mengadu, namun dia tidak mau dikasihani lagi oleh Mbo Ratih, keputusannya sudah bulat, dia tidak akan mau kembali menginjakkan kaki di rumah itu.


“Kenapa? Kalian baru menghabiskan waktu bersama, namun kok tiba-tiba jadi seperti ini sih?” Mbo Ratih masih ingin tahu apa yang sedang terjadi dari Agni.


“Tidak ada lagi alasan saya mempertahankan rumah tangga kami!” Agni menepis tangan Mbo Ratih. Dia berjalan lagi menuju pintu depan.


“Agni, kalau ada masalah, kamu bisa cerita ke Mbo!” Mbo Ratih masih berusaha menahan Agni.


“Aku ditampar oleh Victor, dan aku yakin, hal ini akan terus berulang, untuk cerita selengkapnya silakan tanya pada Victor!” Agni akhirnya mengadu kepada Mbo Ratih.


Ratih melihat pipi Agni, benarlah kata Agni, pipi kirinya memerah, dia terkejut karena entah kenapa dia teringat lagi dengan almarhum papanya Victor yang suka main tangan kepada ibunya.


Mbo Ratih menangis, Agni bingun dibuatnya.


“Kenapa dia nangis?” Agni berbisik di dlam hatinya.


“Kenapa Mbo?” Agni bertanya pada Mbo Ratih yang tiba-tiba menangis.


“Aku tidak menyangka jika Victor akan melakukan hal yang sama, seperti apa yang telah dilakukan papanya pada mamanya saat dia masih kecil dulu.” Mbo Ratih cerita sambil menangis mengingat semuanya itu.


“Mbo, aku harus pergi. Tolong jaga Abisetya dan Abiwara ya!” Agni berbpesan pada Mbo Ratih, dia mau Mbo Ratih merewat anak kembarnya dan mendidik mereka dengan sepenuh hati, karena dari hari ini, Agni tidak akan kembali lagi ke rumah itu.


“Kenapa nggak bawa sekalian anak-anakmu, kamu tega meninggalkan mereka?” Akhirnya Mbo Ratih mendukung kepergian Agni. Dia juga tidak mau jika Agni diperlakukan kasar oleh Victor. Dia harus menunggu Victor tobat lagi, entah kapan, hanya Tuhan yang tahu.


“Aku tidak mau memisahkan anak-anakku dari papanya, biarlah mereka mendapat kasih sayang dari papanya, aku, aku bisa memandang mereka dari kejauhan, makanya aku mohon pada Mbo agar menjaga mereka, biarkan aku nanti menilik mereka sesekali, di luar, jangan di sini!” Agni terisak, mengingat dia tidak akan bisa mencium lagi kedua anak kembarnya.


“Iya, pasti, jangan lupa hubungi saya ya, jangan segan-segan jika sedang butuh bantuan!” Mbo Ratih meminta pada Agni, dia memegang kedua pipi Agni, dia mau menunjukkan betapa dia sayang pada Agni.

__ADS_1


“Terima kasih atas pengertiannya, Mbo. Aku tidak jadi ibu yang durhaka kan kalau meninggalkan kedua anakku untuk dirawat oleh papanya?” Agni bertanya, dia sedikit ragu dengan apa yang akan dilakukannya sendiri.


“Tidak, kau melakukannya demi kebaikan anak-anakmu. Tidak ada jaminan jika Victor akan tidak memukulmu lagi, kalau mereka melihat itu, mereka bisa melakukan hal yang sama lagi di kemudian hari untuk istri-istri mereka. Lagi, kau juga harus beri pelajaran untuk Victor, bahwa merawat anak-anak butuh tanggungjawab yang lebih besar. Biarkan dia belajar untuk lebih bertanggungjawab, walau, walau kau, kau harus menanggung sakit dan derita sendiri karena harus merelakan Abisetya dan Abiwara ditinggal di sini.” Mbo Ratih masih bergetar suaranya, dia tahu apa yang dilakukan Agni adalah hal yang sangat logis, dia sedikit heran mengapa Agni memiliki pemikiran demikian, entah dari mana pikiran itu bisa datang padanya.


“Iya, Mbo. Mbo memang paling mengerti aku, aku bukannya lepas tanggungjawab dengan meninggalkan mereka berdua di sini, hanya aku ingin memberi pelajaran pada Victor, selamanya aku akan menganggapnya suamiku, selamanya, Mbo tidak usah ragu dengan hal itu!” Agni meyakinkan Mbo Ratih, dia tahu, bagaimanapun buruknya sifat Victor, Mbo Ratih akan terus berada di sisinya, dia akan membela dan maklum dengan apa yang dilakukan Victor, demi kebaikan Victor dia akan melakukan apa saja, termasuk mengikuti tindakan Agni yang sedang memberikan pelajaran bagi Victor untuk lebih bertanggungjawab.


“Tidak usah ditahan-tahan, Mbo. Dia sudah dewasa, dia tahu konsekuensi atas semua yang telah diperbuatnya.” Tiba-tiba Victor sudah berada di pintu kamar mereka, menggendong salah satu anak mereka dan memandang sinis ke arah Agni yang sedang menangis terisak.


Mbo Ratih melepaskan tangan Agni, dia merelakan Agni meninggalkan mereka. Dia memang tidak akan menahan Agni, mereka sudah memiliki kesepakatan bersama.


Agni berjalan dengan hati yang hancur dari rumah itu. Dia tetap mendoakan yang terbaik bagi rumah itu, dia masih berharap sesuatu yang baik akan terjadi suatu saat akan rumah dan seisinya.


***


Sepeninggal Agni, Mbo Ratih mendekati Victor.


“Kau ternyata belum berubah ya!” Mbo Ratih menunjuk Victor.


“Aku tidak mau mendengar pembelaanmu, kau menunjukkan sifat asli papamu pada Agni, kau sadarkah dengan apa yang telah kau lakukan padanya?” Mbo Ratih meingatkan Victor dengan apa yang telah dilakukannya pada Agni adalah sama dengna kelakuan papanya terhadap mamanya dulu.


“Jelas-jelas berbeda, papa marah tanpa alasan pada mama, sedangkan aku, aku punya alasan yang jelas!” Victor membela diri, namun dia juga merasa janggal dengan apa yang sedang dikataknnya.


“Sekarang kau bilang berbeda, nanti, kau akan sadar sendiri, jika yang kau lakukan itu, tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan papamu pada mamamu. Aku tidak perlu menjelaskannya padamu sekarang, biar kau sadar sendiri, karena, tidak ada manusia yang ingin disalahkan apalagi setelah kesalahan itu dilakukan belum lama, kau butuh waktu yang lebih lama untuk menyadarinya.” Mbo Ratih mengingatkan Victor.


“Tidak, dia yang salah, terlalu cengeng!” Victor masih menyalahkan Agni yang sudah pergi entah ke mana, namun Victor tahu Agni akan pergi ke mana.


“Paling juga ke rumah Elisa!” Victor berbisik pada dirinya sendiri. “Dan aku, tidak peduli itu!” Victor menyambung apa yang sedang di pikirannya.


“Mbo, sarapan sudah ada?” Victor menaikkan suaranya karena Mbo Ratih sudah pergi meninggalkannya.

__ADS_1


“Silakan lihat sendiri!” Mbo Ratih masih kesal. Dia tidak sedikitpun melihat ke arah Victor.


“Dasar perempuan, semuanya memang cengeng. Selalu membesar-besarkan masalah yang sepele. Heran!” Victor bersungut di dalam hatinya. Dia tertawa getir, meningat tingkah Agni dan Mbo Ratih yang seolah sekongkol untuk menjauh darinya. Bedanya, Mbo Ratih masih tinggal di rumah besar itu.


***


Elisa terkejut melihat Agni dan kopernya di depan pintunya. Dia tidak tahu jika Agni datang dengan koper, dia pikir, kalau Agni datang hanya berkunjung sebentar. Dia bisa menebak bahwa sedang ada yang tidak beres antara Agni dan Victor lagi.


“Kenapa lagi? Bukannya kalian baru saja berbulan madu di Bali?” Elisa menarik koper Agni, dia melihat wajah kusam Agni karena bekas air matanya yang sudah mengering.


“Boleh aku masuk dulu!” Agni tidak mau ditanyain sementara dia masih di luar.


“Boleh, boleh, masuklah, jangan berdiri terus di situ!” Elisa menyuruh Agni masuk.


“Apa yang sedang terjadi? Cerita yok!” Elisa bertanya pada Agni yang kini sudah duduk di tepi tempat tidur.


“Aku menenangkan diri dulu ya!” Agni meminta pada Elisa untuk istirahat sebentar, pikirannya sedang kacau, dia tidak tega meninggalkan Abisetya dan Abiwara tinggal bersama papanya yang hidup tanpa hati.


Baca juga: Zora's Scandal (Baru tamat, lihat pada profil saya di noveltoon/mangatoon)


“Anak-anakmu mana?” Elisa masih saja bertanya walau pertanyaannya tidak pernah mendapat jawaban dari Agni.


Mendengar pertanyaan itu Agni langsung memeluk Elisa dan menangis di pelukannya. Dia belum mau bercerita, dan Elisa memakluminya.


“Pasti Victor berulah lagi, kali ini kau tidak bisa kembali lagi ke sana!” Elisa berbisik pada dirinya sendiri, dia berjanji akan menolak permintaan Agni untuk kembali lagi bersama Victor kelak. Sebelum Agni cerita, dia tahu semuanya itu telah terjadi, walau dia hanya menebak-nebak saja tanpa tahu rincian yang sebenarnya dari apa yang telah dilalui Agni selama di Bali dan di rumah itu.


Jangan lupa kasih dukungannya ya ka, vote, like, komen dan share novel ini agar semakin banyak pengunjungnya, masih sepi banget nih! Hehehe, terima kasih kaka-kaka semuanya!


Bersambung…

__ADS_1



__ADS_2