
“Sarapan yuk!” Victor mengajak Agni sarapan.
“Mandi dulu dong!” Agni menahan Victor.
“Sudah sarapan dulu aja!” Victor ngotot, dia sudah kelaparan.
“Ih jangan dong, jorok!” Agni protes.
“Kok jorok sih?”
“Iyalah, bau keringat, masa nggak bisa cium sih?” Agni membesarkan bola matanya.
“Nggak usah, yuk, laper nih!” Victor menarik tangan Agni.
“Kalua memang sangat lapar, sebentar…” Agni menuju pesawat telepon.
“Kita bisa suruh mereka menghantar makanan ke sini!” Agni memencet tombol nomor menuju restoran.
“Ah, benar, aku lupa! Ya sudah kita renang saja ya!” Victor memeberi usul.
“Kamu saja sayang, aku cape, mau mandi saja!” Agni menolak ajakan Victor.
“Kalau begitu kita mandi bareng saja!” Mata Victor melotot ada sesuatu di pikirannya.
“Nggak, sendiri-sendiri!” Agni tegas.
“Sudah pesan makanannya ke sini saja, jangan lama-lama, aku renang dulu!” Victor melompat ke dalam kolam. Dia tidak memakai sehelai benangpun, dia membuka celananya yang sudah sempat dipakainya tadi.
Agni geleng-geleng kepala melihat kelakuan Victor. Otaknya bergerilya lagi membayangkan dia mandi dengan Victor di kamar mandi seperti permintaan Victor.
Setelah Agni berbicara dengan seseorang di restoran, dia mendekati bibir kolam, menonton Victor yang sedang berenang seperti ikan lumba-lumba, sebentar-sebentar kepalanya muncul kemudian tenggelam lagi, sebentar lagi muncul lagi. Dia senang melihat Victor sampai saat ini masih tampak baik-baik saja, tidak arogan dan cuek seperti dulu lagi.
“Nggak mau ikut mandi?” Victor mengajak Agni dari ujung kolam.
Agni menggeleng, dia tidak sedang ingin berenang.
“Seger loh!” Victor masih membujuk. Dibuatnya ekspresi wajah yang menunjukkan bahwa jika kita cemplung ke dalam kolam itu perasaan kita akan menjadi segar, seperti apa yang sedang dirsakannya.
Agni masih menggelelng.
Victor berenang, arahnya tikak lagi menuju ujung bibir kolam yang ada di depannya namun menuju ke Agni, ke bibir tengah kolam.
Victor menangkap kedua kaki Agni yang dicelupkan di dalam kolam. Kepala Victor muncul tepat di tengah kedua kaki Agni.
“Yakin nggak mau mandi?” Victor masih berusaha membujuk Agni.
“Nggak ah!” Agni masih menolak.
__ADS_1
“Ayolah!” Victro memberi kode dengan kepalanya ke arah kolam.
Agni masih menggeleng.
Victor naik ke atas kolam, duduk di samping Agni, bersandar di badan Agni.
“Ih, basah ah!” Agni protes.
“Kan memang mau mandi juga!” Victor membela diri.
“Iya tapi…” Agni terdiam, ada panggilan dari luar pagar pembatas villa mereka.
“Masuk!” Victor teriak. Pagar terbuka.
“Kamu masih tel4nj4ng begini, bagaimana?” Agni tidak mau pelayan itu melihat Victor dalam keadaan seperti itu.
Tanpa pikir panjang Victor mendorong tubuh Agni ke dalam kolam dan disusul olehnya, dia memeluk Agni dari belakang agar pelayan itu tidak melihat dirinya yang sedang polos-polosnya.
Agni terkejut tapi dia belum bisa protes, dia masih harus menenangkan dirinya sendiri, dan melihat bingung harus memakai ekspresi apa untuk menyambut pelayan itu.
Pelayan itu pura-pura tidak melihat keadaan Victor yang sedang polos. “Saya taruh di dalam kolam ya bu?!” pelayan itu beranggapan jika mereka akan sarapan di dalam kolam.
“Iya silakan, mba!” Victor menjawab dari belakang tubuh Agni yang mungil. Dia tersenyum pada pelayan itu yang sedang curi-curi pandang padanya.
“Mba, matanya jangan liar dong!” Agni protes.
“Nggak, mba. Mba nggak salah kok!” Victor melempar senyum pada pelayan itu.
Pelayan itu kembali memberikan senyuman pada Victor dan Agni kemudian berbalik setelah meletakkan semua makanan itu di atas air. Dia hanya menunduk sebelum menutup pintu pagar kembali.
“Ih, kamu, masih genit aja!” Agni protes.
“Genti gimana, itu namanya ramah tamah! Lagian kamu kenapa cepat marah sih? Pelayananku masih kurang ya?” Victor menggoda Agni lagi.
“Apaan?” Agni protes, dia berbalik menghadap wajah Victor.
“Biasanya kalau pasangan kita cepat marah-marah, itu karena dia tidak mendapat dari suami atau begitu sebaliknya. Kamu marah-marah nih, berarti aku yang nggak bisa memuaskanmu, iya?” Victor masih terus mengganggu Agni.
Agni mencubit hidung Victor dengan gemas, menampar pipinya pelan. “Nakal!”
Victor tertawa kecil. “Sudah ah, makan yuk!” Victor melepaskan tubuh Agni yang mungil itu.
Agni meraba-raba tubuh Victor yang sudah berjalan ingin meraih makanan yang ada di hadapan Agni. Agni terlalu pendek di kolam itu hingga ia tidak bisa berdiri sampai ke lantai kolam, dia harus berenang agar tetap terapung, dan dia harus memegang sesuatu agar tidak terlalu kelelahan.
“Makanya jangan pendek!” Victor mengejek Agni lalu memeluk tubuh Agni dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya meraih jus campur dan meneguknya tanpa menggunakan sedotan yang ada.
“Kalau aku setinggi kamu, aku tidak mau menikah denganmu, aku pasti cari yang lebih tinggi lagi!” Agni kesal. Diraihnya juga gelas berisi jus bagiannya, dia menyeruput juga langsung, tanpa sedotan, sama seperti yang dilakukan oleh Victor.
__ADS_1
Sampai makanan yang ada habis Agni masih tetap dalam pelukan Victor. Mereka kenyang sekali sekarang. Sisa makanan mereka tinggalkan dan mereka lomba berenang dari ujung kolam menuju ujung yang lainnya. Dingin air kolam yang dirasakan Agni di awal-awal tidak lagi terasa dingin, lagi, sudah disengat matahari yang semakin tinggi.
“Aku sudah tidak sanggup!” Agni menyerah setelah dua kali putaran.
“Wah, lemah ah!” Victor mengejek Agni.
“Iya, terserah!” Agni tesengal, dia ngos-ngosan, nafasnya hampri habis.
“Kita udahan nih?” Victor bertanya pada Agni yang berada di sampingnya.
“Saya sudah, nggak kuat lagi!” Agni mengeluh.
“Masih ada makanan di sana, mau makan lagi?” Victor mengajak Agni makan lagi. Mereka tidak menghabiskan semua makanan yang disajikan tadi.
Victor berenang menuju keranjang makanan yang masih mengapung di kolam. Membawanya mendekat pada Agni yang sudah kelelahan.
“Sepertinya kau harus lebih rajin olah raga dari sekarang!” Victor memberi saran pada Agni.
Agni belum menjawab. Dia langsung minum jus yang masih disisahkannya tadi. “Benar!” Agni menjawab kemudian.
Kemudian Agni benar-benar menghabiskan makanan yang ada di piringnya kali ini. Tadi dia sudah merasa sangat kenyang namun setelah berenang beberapa saat, dia sudah seperti kelaparan lagi.
“Wow, wow, makanmu banyak juga ya!” Victor terbelalak.
“Lapar!” Agni menjawab dengan makanan penuh di mulut.
“Santai, sayang, jangan buru-buru!” Victor mengingatkan.
Agni tidak terlalu pusing dengan perkataan Victor lagi. Dia menghabiskan semuanya sekarang.
“Mau berenang lagi?” Victor mengajak lagi Agni.
“Nggak, makasih!” Agni menolak.
Victor berenang sekali putaran lagi sementara Agni sudah masuk ke dalam kemar mandi untuk membasuh badan dengan sabun.
Victor menyusul dan langsung masuk ke dalam tanpa meminta persetujuan Agni.
“Wah, kok masuk sih, giliran dong!” Agni protes.
Baca juga: Zora’s Scandal (Lihat pada profil saya di NovelToon atau MangaToon, by Otom)
“Nunggu kamu kelamaan!” Bisik Victor. Victor langsung mendekap tubuh Agni dari belakang. Diciumnya leher Agni dari belakang sementara air dari shower masih mengalir dari atas. Hangat ciuman di leher Agni sangat terasa membuat dia menjadi on lagi.
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya kaka, vote-nya boleh ka.
Bersambung….
__ADS_1