
"Aku tadinya sudah tidur, tapi sepertinya auramu memanggilku, Victor! " Elena memeluk Victor dari belakang semakin erat.
"Jangan memancingku marah, Elena!" Victor membentak Elena dari belakang sambil berusaha menaikkan celana pendeknya ke atas.
"Tidak, kali ini aku mau kau marah sekali padaku. Silakan lampiaskan semua kemarahanmu yang terpendam itu sekarang, aku mau itu. Jangan berlama-lama lagi memendamnya, lakukanlah sekarang!" Elena mengusap-usap dada bidang Victor.
Baca juga: Zora's Scandal (Novel tamat, lihat pada profil saya)
Victor sekuat tenaga menahan hasratnya, nafasnya sudah mulai habis, dia hirup nafas sekali tarikan dan kemudian berbalik menatap Elena dan mendorongnya hingga Elena terjatuh ke atas tempat tidur.
Tempat tidur bergoyang seraya memberikan guncangan hebat di daerah perbukitan yang subur milik Elena.
Victor tersengal, ditahannya semua pikiran jorok yang kini mulai merasukinya dengan sangat kencang.
Elena tersenyum dan memainkan matanya pada Victor. Dia hendak melepas pakaian yang menutupi pandangan mata pada perbukitan itu.
__ADS_1
Tiba-tiba ponsel yang ada di kantong celana panjang milik Victor berbunyi. Victor memiliki alasan untuk tidak memfokuskan diri pada Elena. Dia berjalan menuju celana panjang yang diletakkannya di meja tidak jauh dari tempat dia berdiri, karena dia tadi hanya asal melemparkannya di atas meja.
Victor melihat ada panggilan dari Siska. "Kenapa Siska menelepon lagi selarut ini? Apakah sesuatu telah terjadi di rumah?" Victor bertanya-tanya di dalam hati sambil mengangkat panggilan itu.
"Halo, Siska ada apa?" Victor langsung bertanya pada Siska.
"Halo, Pak. Masih belum tidur?" Siska masih dengan suara desahannya yang manja itu.
"Siska, kau kenapa menelpon selarut ini?" Victor melirik sebentar pada Elena yang sudah berhasil membuka bajunya.
"Nggak, Pak. Aku, aku tidak bisa tidur. Aku selalu kebayang dengan wajah Bapak. Justeru aku mau bertanya: Bapak baik-baik sajakah di sana? Perasaanku tidak enak!" Siska menyampaikan apa yang dirasakannya di Jakarta.
"Oh, baiklah. Aku hanya mau memastikan saja kok, Pak!" Siska masih dengan suaranya yang terdengar sangat mengkhawatirkan keadaan Victor.
Ingin sebenarnya Victor mengungkapkan apa yang sedang terjadi di sana, namun dia mengurungkannya karena dia merasa Siska tidak perlu tahu akan apa yang tengah terjadi padanya. Kesannya menjadi seperti mengadu, belum lagi jika Siska keceplosan di rumah dan akhirnya Agni tahu jika dia sedang bersama perempuan lain di pulau itu. Bersama Elena pula, perempuan yang membuat Victor tergila-gila hingga sampai hati meninggalakan Agni seorang diri di kamar saat mereka sedang berbulan madu di Bali.
__ADS_1
"Pak, bapak beneran tidak apa-apa?" Siska memastikan lagi karena Victor terdiam sudah cukup lama.
Victor masih memandang Elena yang kini menari-nari di atas ranjang memancing birahi Victor meningkat.
Victor menelan ludahnya sendiri karena pemandangan yang terhampar di depannya. Tidak disadarinya celana pendeknya semakin ketat saja rasanya.
"Eh, Siska, tidak, tidak apa-apa, kamu tidur saja ya. Aku baik-baik saja kok di sini!" Victor memalingkan pandangannya dari Elena yang semakin menjadi-jadi. Elena sudah seperti penari ular yang profesional yang sedang dipermainkan pemain seruling handal dari Gujarat.
"Kenapa Bapak masih belum tidur selarut ini?" Siska menyelidiki, dia tahu jika Victor sedang tidak baik-baik saja.
Baca juga: Zora's Scandal (Novel tamat, lihat pada profil saya)
"Ah, nggak kok. Ini lagi banyak pekerjaan jadi aku harus menyelesaikannya segera." Victor mencari alasan yang tidak masuk akal. Dia berharap Siska akan percaya dengan apa yang sedang diucapkannya.
"Oh begitu!" Siska pura-pura percaya.
__ADS_1
"Iya, ok, sudah dulu ya. Aku mau lanjut dulu!" Victor memutuskan panggilan dari Siska begitu saja.
Bersambung...