
Pagi-pagi yang cerah, matahari bersinar dengan gagahnya, menyengat semua kulit yang berani keluar dari atap-atap rumah. Setelah beberapa jam yang lalu bumi diguyur hujan, begitu derasnya, mungkin di belahan bumi tidak jauh dari tempat kita berlindung, sedang ada banjir, banjir bandang. Dan benar saja, ada banyak berita tentang itu, kasihan.
Tetapi itu semua sudah berlalu, matahari membara mengusir dinginnya pagi, bumi tampak segar, setidaknya bagi Agni dan Victor, dan orang-orang di sekitar mereka.
Mereka sudah berpakain rapi, membawa koper. Agni keluar dari kamar, membawa kopernya.
“Agni? Mau ke mana? Mau lari lagi?” Mbo Ratih menyapa Agni yang tampak tergesa-gesa.
“Oh, mbo, maaf, kita nggak sempat kasih tahu!” Belum sempat Agni menjawab, Victor muncul dengan pakaian yang rapi pula. Ada rayban tergantung di sakunya. Dia memakai topi putih, serasi dengan celananya.
“Loh, loh mau ke mana?” Mbo Ratih akhirnya tahu sendiri jika Agni kali ini tidak ingin lari dari rumah lagi.
“Iya, mau bulan madu dulu, kami belum sempat bulan madu, kan?” Victor menjawab, sedang Agni hanya sabar melihat Mbo Ratih dan Victor saling tanya jawab, seperti seorang ibu dan anak laki-lakinya yang baru nikah. Anak laki-laki itu merasa jika dia sudah cukup bijak untuk melakukan apa saja tanpa bantuan dari seorang ibu.
“Loh, loh, jadi si Adek dan si Abang bagaimana?” Mbo Ratih kebingungan.
“Mbo yang jaga dulu yah!” Victor tersenyum.
“Nggak ah, aku mau jaga, kalau aku ikut juga!” Mbo Ratih mencoba untuk bernegosiasi.
“Ih, kalau si Mbo ikut, itu bukan bulan madu namanya, itu rekreasi, ntar deh kita rekreasi bareng ya!” Victor menolak tawaran Mbo Ratih, mentah-mentah. Tidak ada peluang bagi dia untuk ikut dengan Agni dan Victor.
“Aku nggak ngerti ngurus bayi, Victor!” Mbo Ratih panik.
“Victor se-gede ini bisa hidup sampai sekarang karena jasa Mbo Ratih kok, masa 2 anak bayi saja Mbo nggak bisa tangani? Bisalah!” Victor berdalih.
“Ah, pokoknya nggak mau, ah!” Mbo Ratih bersikeras.
“Nggak apa-apa, kalau mbo Ratih tega melihat mereka terlantar. Kami pergi dulu, takut ketinggalan pesawat, sudah telat banget nih!” Victor menarik tangan Agni.
Agni berbalik ke belakang dan melihat Mbo Ratih yang sedih. Dia melambaikan tangan pada Mbo Ratih yang masih kesal berdiri karena tidak dikabari kalau mau pergi, pergi ke mana juga Mbo Ratih tidak pernah tahu. Dia merasa diabaikan.
Tiba-tiba suara tangisan bayi muncul dari dalam kamar. Victor berbalik, dia melotot pada Mbo Ratih yang seolah tidak mendengar tangisan bayi itu.
Mbo Ratih masih berdiri tegap menyilangkan tangannya di dada, menunjukkan ketidakpeduliannya. Victor yang melotot pura-pura tidak dilihatnya. Tapi sial, Victor tidak peduli, dia terlalu percaya pada Mbo Ratih. Dia tinggalkan juga Mbo Ratih dengan perasaan dongkolnya. Dia yakin betul kalau Mbo Ratih tidak akan tega mendengar tangisan bayi, dia hanya protes sesaat karena diperlakukan begitu.
“Awas kalau minta saran dariku lagi ya!” Mbo Ratih berbicara sendiri, dia masuk ke dalam kamar yang pintunya tidak ditutup itu. Dia menggendong si Abang yang sedang menangis kencang.
***
Victor dan Agni benar-benar ketinggalan pesawat. Victor kesal apalagi Agni, dia murung terus, marah-marah nggak jelas karena mereka ditinggal pesawat.
“Maaf bu, pesawat sudah lepas landas, bapak dan ibu terlalu lama ditunggu, maaf ya bu!” Petugas itu minta maaf namun bukan karena kesalahannya.
“Apa tidak ada kebijakan yang bisa diambil, mba?” Agni masih dengan nada yang tinggi.
__ADS_1
“Maaf bu, kebijakan yang seperti apa ya?” Petugas itu masih dengan sabar meladeni Agni yang kesal.
“Ganti pesawat, gitu?”
“Wah, nggak bisa bu, kalau mau ganti pesawat, saya hanya bisa bantu carikan bu, untuk pembayaran, ibu yang nanggung!” Petugas itu memberi solusi.
“Sudah, nggak apa-apa, mba. Tolong carikan ya!” Victor tidak tahan melihat Agni yang marah-marah nggak jelas itu, sudah jelas-jelas mereka yang salah, bisa-bisanya Agni yang marah, harusnya mereka berdua malu, karena terlambat sampai di Bandara.
“Nggak, nggak bisa gitu dong, kita terlambat 5 menit kok!” Agni masih protes. Dia ingin mereka diberi tiket gratis juga.
“Agni!” Victor berbisik memanggil Agni, menarik tangannya.
“Apa sih?” Agni berbisik pada Victor juga.
Mereka bertengkar kecil di depan petugas, namun suara mereka pelan-pelan agar petugas dan orang-orang yang ada di sana tidak mendengar mereka berbicara.
Menurut mereka memang pelan, tetapi orang-orang di sekitar mereka bisa mendengar juga apa yang mereka bicarakan.
“Gimana, pak?” Petugas itu menyapa Victor. Dia lebih memilih berbicara pada Victor daripada Agni.
“Oh, iya, sebentar!” Dia melempar senyum pada petugas itu. “Sudah, jangan kayak orang susah, uang masih ada kok beli tiket lagi!” Victor membujuk Agni agar bersikap lebih tenang.
“Bukan masalah itu, kita masih ber….”
“Stt, biar aku yang urus semuanya, kamu duduk di sana dulu!” Victor menunjuk pada kursi yang ada, tidak jauh dari mereka.
“Sttt!” Victor menutup mulut Agni lagi dengan jari telunjuknya. “Biarkan aku yang urus semuanya!” Victor main mata pada Agni.
Agni sebal dengan kelakuan Victor yang terlalu lembek. Dia menuruti perintah Victor. “Pasti dia membeli tiket lagi nih!” Agni berjalan sambil melihat ke arah Victor yang mulai memegang dompetnya, mengeluarkan kartu kreditnya dan menyerahkannya pada petugas itu.
***
“Kau terlalu lembek!” Agni menyambut Victor dengan kesal di bangku yang ditunjuk Victor tadi.
“Apaan? Emang salah kita, kau harusnya malu, sudah terlambat, marah-marah pula!” Victor mengingatkan Agni yang sok tegas.
“Tapi!”
“Kau sedang acting kan? Jadi diri sendirilah, kau akan lelah sendiri kalau begini terus di depanku. Aku yang preman malah kau yang marah-marah. Kau lebih preman dari saya ya?” Victor menjitak kening Agni dengan mesra, tapi sakit.
“Aw, apa-apaan sih? Jangan pakai kekerasaan dong! Sudah biasa ya kalau sedang adu argumen pakai kekerasan?” Agni memegang jidatnya yang mungkin sudah memerah karena ulah Victor.
“Itu belum seberapa, lihat nanti kalau sudah sampai di Bali!” Victor main mata pada Agni.
“Ih, itu sex harassment tahu!”
__ADS_1
“Kalau kamu suka itu bukan sex harassment!” Victor membela diri.
“Aku nggak suka!”
“Terserah!”
“Hahahaha!” Mereka berdua tertawa bersamaan.
“Actingmu bisa juga, jadi petinju aja, mba!” Victor menggoda Agni.
Agni puas dengan apa yang dialaminya sekarang, kedekatannya pada Victor, itu yang didamba-dambanya selama ini. Kini Agni hanyut dalam lamunannya sendiri.
“Agni!” Victor memanggil Agni.
“Agni!” Victor masih memanggil Agni, dia melambaikan tangannya tepat di wajah Agni yang tiba-tiba kosong tatapannya.
“Agni!” Victor mengguncang badan Agni.
“Eh, iya!” Agni sadar. Kembali pada dunia sadar.
“Kau melamun ya?”
“Ah, nggak!” Agni pura-pura tidak tahu jika dia sedang melamun.
“Kau melamun, setelah akting yang lumayan bagus, ketawa terbahak, tiba-tiba melamun, kayaknya kau sedang memikirkan sesuatu yang serius!” Victor menabak-nebak Agni.
“Ah, nggak kok!”
“Pasti, kau bisa melamun tiba-tiba, tidak mungkin tidak ada yang sedang kau pikirkan!” Victor masih ingin tahu apa yang sedang ada di pikiran Agni.
“Apa yang kau pikirkan?” Victor mendesak Agni untuk cerita lebih terus terang.
“Nggak ada kok!” Agni membela diri.
“Tidak mungkin tidak ada, kau memikirkan anak kita ya?” Victor bertanya dan memeluk Agni dari samping. Dia memandang ke depan seperti Agni memandang ke depan juga.
“Nggak ada kok!” Agni menatap wajah Victor.
“Mereka aman kok, Mbo Ratih adalah orang kepercayaanku, dia bisa diandalkan. Dia yang membesarkanku sedari kecil.” Victor berusaha menenangkan Agni yang mungkin sedang memikirkan anak-anak mereka.
Baca juga: Zora’s Scandal (Lihat pada profil NovelToon-ku)
“Iya, mereka pasti aman. Hehehe!” Agni mengikuti apa yang dipikirkan Victor tentang apa yang sedang dipikirkannya.
Kemudian giliran pesawat mereka yang akan terbang sekarang. Mereka bersiap-siap menuju pesawat yang akan membawa mereka berbulan madu.
__ADS_1
Bersambung…