
Siska senang karena Victor tidak sedikitpun merasa aneh dan risih dengan gaya bicaranya, terutama karena Victor tidak merasa aneh jika Siska mengutarakan rasa kangennya pada Victor. Dia tahu jika Victor sudah mulai menyukainya pula. Dia tahu jika bukan hanya Mbo Ratih yang akan menyukainya tiba-tiba.
"Aku memang begitu layak untuk dicintai semua orang, hihihi!" Siska tertawa sendiri di dalam kamarnya. Dia membayangkan wajah Victor yang tegas dan menantang itu.
Sebelum tidur Siska mengelus bonekanya dan segera menyimpannya kembali ke tempat semula. Dia melihat sekelilingnya seolah dia tidak ingin seorangpun melihat boneka itu.
***
Sementara Victor tidak bisa tidur di pulau yang jauh dari Jakarta. Dia gelisah sepanjang malam, akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari kamar hotel dan masuk ke dalam bar di lantai paling atas hotel itu.
Malam itu sudah sangat larut. Victor duduk sendiri di sudut bar menikmati minuman yang sudah dipesannya.
Tiba-tiba seseorang menyapanya. Victor tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Elena? Kamu..." Victor tidak percaya dengan sosok yang dilihatnya di depan.
"Iya, kamu sedang apa di sini?" Elena balik bertanya.
"Aku sedang ada kerjaan, tadi aku sudah mau tidur..." sejenak Victor membayangkan wajah Siska yang membuyarkan kantuknya. "... tapi aku tidak bisa tidur maka aku putuskan untuk menghabiskan malam di sini. Kamu? Kok bisa di sini?" Victor balik bertanya pada Elena.
__ADS_1
"Sama, aku juga tidak bisa tidur." Elena memainkan matanya pada Victor.
"Maksudku, kok bisa ada di kota ini?" Victor mempertegas pertanyaannya.
"Oh, aku juga punya urusan. Urusan kantor. Kantor tempat aku bekerja akan segera membuka cabang di kota ini." Elena berbohong pada Victor.
Elena tidak pernah bekerja, dia sudah sibuk mengurusi bisnis papanya.
"Maksudmu, bisnis papamu mau buka cabang di sini?" Victor tahu jika Elena bekerja untuk menjalankan bisnis papanya yang ketepatan adalah ketua preman yang selalu saingan dengan kelompok Victor, terutama pada Victor karena dialah ketuanya.
"Ya, gitu deh!" Elena tersenyum sambail mengibaskan rambut panjangnya.
Baca juga: Zora's Scandal (sudah tamat, lihat di profiil saya)
"Kenapa bisa ketemu sesering ini, padahal tidak pernah janjian, kan?" Eelena menguatkan keheranan yang muncul di wajah Victor.
"Atau kamu sengaja menguntitku dari Jakarta ya?" Victor bercanda pada Elena.
"Enak saja, emang kamu seganteng dan sepenting itu di hidupkku, hingga aku harus menguntitmu ke mana saja?" Elena membela diri.
__ADS_1
"Atau jangan-jangan ini adalah tanda dari Tuhan jika kita ...."
"Jika kita bagaimana?" Elena mengejar sambil memotong perkataan Victor.
"... adalah jodoh?" Victor menyelesaikan kalimatnya.
"Hahaha, bercanda kan kamu? Kamu sudah punya isteri loh!" Elena pura-pura mengingatkan. Dia sebenarnya tidak peduli sedikitpun jika Victor sudah punya isteri atau tidak.
"Aku nggak bercanda sedikitpun! Sumpah!" Victor mengangkat dua jarinya ke atas, memberikan tanda jika dia benar-benar serius dengan apa yang sedang diungkapkannya.
"Kamu masih saja seperti yang dulu!" Elena mengingat masa-masa di mana mereka bertemu sampai hampir melakukan apa yang harusnya tidak mereka lakukan.
"Emang aku yang dulu bagaimana?" Victor bertanya pada Elena. Dia penasaran dengan tanggapan Elena saat dia sudah bekerja.
Baca juga: Zora's Scandal (sudah tamat, lihat di profiil saya)
"Sebentar, aku pesan minum dulu!" Elena tidak bersedia menjawab pertanyaan Victor.
"Oh iya, pesan dulu deh. Mba....!" Victor memanggil salah satu pelayan bar.
__ADS_1
Bersambung...