Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love

Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love
Segelas Air Penghapus Dahaga


__ADS_3

Akhirnya Victor sampai juga di rumah. Dia melihat Agni sudah tertidur pulas dengan ponsel di tangan. Mungkin dia tadi sedang scrolling ponsel sambil menunggu Victor.


Victor mengambil ponsel Agni dan meletakkannya di meja sebelah tempat tidur mereka. Dia mencium kening Agni sejenak lalu beranjak melepas semua pakaiannya dan menggantinya dengan celana pendek untuk segera tidur.


Sebelum dia merebahkan dirinya di kasur itu dia teringat dengan cake buatan Agni.


Victor beranjak ke dapur, mendekati kulkas dan mengambil sebua jar berisi cake yang sudah dipersiapkan Agni padanya untuk dicicipi.


Victor mengambil sendok dan beranjak dari sana menuju meja makan.


Dia menyenduk cake itu dan memasukkannya ke dalam mulut. Rasa dingin langsung memenuhi mulutnya, kemudian ada manis dan asam yang segar di lidahnya.


"Enak, hmm cocok nih dijual!" Victor berbicara pada dirinya sendiri.


"Pak Victor sudah datang?" Siska datang menyapa Victor.


"Loh, Siska belum tidur?" Victor heran mengapa Siska masih belum tidur selarut ini.


"Sudah tadi, kebangun, Pak!"


"Oh, begitu!"


"Iya, Pak. Gimana, Pak, enak nggak cake-nya?" Siska tidak jadi ke dapur.


"Enak-enak. Cocok nih dijual!" Victor memuji kelezatan cake buatan Agni dan Siska.


Baca juga: Zora's Scandal (Novel Tamat, lihat pada profil)


"Itu hasil kolaborasi saya dan Mba Agni, Pak!"

__ADS_1


"Oh ya?"


"Iya, Pak. Resepnya sih dari Mba Agni, tapi aku yang buatin tadi." Siska benar-benar ingin dapat kredit.


"Kamu pandai masak, nah, Siska bantu usaha Mba Agni ya. Ntar gajinya aku tambah!"


"Nggak usah, Pak. Nggak usah. Gaji yang sekarang juga sudah cukup kok!" Siska pura-pura menolak.


"Agar kamu bisa ngirim sebagian ke kampung, Sis. Nggak apa-apa, aku bilang Mbo Ratih ntar agar ditambah saja dari bulan ini!"


"Aduh, Pak. Aku jadi nggak enak nih!"


"Kok nggak enak? Emang kenapa?" Victor heran.


"Aku nggak buat apa-apa yang membanggakan tapi bapak mau naikin gaji, kan nggak enak aja, Pak!"


"Oh, iya, tadi aku mau ambil minuman, Pak. Permisi, Pak!"


"Iya, ambil dulu gih!"


Siska pergi ke dapur untuk mengambil air putih. Victor bisa melihat lekuk tubuh Siska dalam daster bunga-bunga yang dipakai Siska.


"Amblikan sekalin untuk saya ya, Sis!" Victor mengencangka suaranya sedikit.


"Baik, Pak." Siska berbalik sebentar lalu berjalan lagi membelakangi Victor.


"Ini, Pak. Silakan!" Siska memberikan gelas berisi air putih pada Victor.


"Terima kasih, Sis!" Victor menatap Siska sekilas.

__ADS_1


"Kalau dipandang-pandang, Siska manis juga kalau baru terbangun dari tidurnya. Kecantikannya natural sekali." Victor berbicara pada dirinya sendiri sambil menikmati cake-nya.


"Bapak kenapa menatap saya seperti itu?"


Siska membuyarakan lamunan Victor yang sudah pergi entah ke mana.


"Eh, kenapa?" Victor tersadar, dia merasa tertangkap basah.


"Aku malu loh, Pak ditatap begitu!" Siska bersuara manja. Dia tahu jika Victor sedang memikirkan yang aneh-aneh.


Siska memperhatikan dari tadi Victor melihatnya dengan tatapan yang tidak biasa.


"Maaf, Sis. Bukan bermaskud kurang ajar!" Victor kelagapan.


"Bapak mau?" Siska bertanya pada Victor. Siska juga sudah terpancing dengan tatapan maut Siska. Tatapan Victor seperti sedang meraba-raba semua bagian tubuh Siska.


"Eh, maksudnya apa, Siska?" Victor bersuara berat. Dia menelan cake-nya dengan susah payah.


"Ini Pak, air putihnya. Diminum?" Siska menyodorkan air putih pada Victor.


"Oh, iya, minum!" Victor hampir hilang kendali.


Baca juga: Zora's Scandal (Novel Tamat, lihat pada profil)


"Pak, aku bobo duluan yah!" Suara Siska terdengar sangat manja dan menghipnotis Victor.


Victor mendengar jika Siska sedang mengajaknya tidur bersama. Victor berusaha melawan semua apa yang sedangg ada di pikirannya. Dia meneguk air putih yang ada di gelasnya sampai habis.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2