Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love

Cinta Tak Bertuan - Unmanned Love
Belum Saatnya


__ADS_3

Perut Agni sudah semakin membuncit. Pergerakannya mulai terpengaruh, dia sudah kesulitan membawakan badannya yang semakin berat. Lagi, dia harus semakin hati-hati bahkan sekadar melangkahkan kakinya untuk mengambil makanan.


Untunglah Mbo Ratih sangat baik padanya. Dia tidak dipersilakan untuk melakukan pekerjaan rumah sedikitpun.


Pagi sangat cerah, matahari sudah naik dan cukup membuat orang-orang di Jakarta kepanasan. Agni masih terlelap, dia tidak bisa tidur dengan nyenyak, dia tidak bisa tidur harus telentang, dia selalu tertidur dengan posisi menghadap ke tembok dan malam itu dia tidak mau melakukannya lagi, dia ketakutan sendiri kalau-kalau bayi yang ada di alam pertunya kenapa-kenapa kalau dia harus tidur miring seperti biasanya. Maka saat pagi tiba, dia belum juga bangun.


Victor melihat Agni tidur nyenyak telentang dan ngorok, suaranya berisik, Victor terganggu dibuatnya, dia juga masih sedikit jam tidurnya, seperti biasa dia menghabiskan waktu di luar dan pulang sudah subuh.


“Bangun!” Victor menggoncang tangan Agni.


Agni masih belum terbangun. Victor semakin kuat menggoncang tangan Agni. Dia tidk mau memegang perut Agni, dia juga ketakutan kalau terjadi sesuatu pada bayi yang ada dalam kandungan Agni.


“Bangun, Agni, bangun!” Victor masih terus mengguncang-gucang tangan Agni. Dia tahu kalau kini Agni sudah bangun karena dia tidak lagi mendengar suara ngorok dari Agni. Victor emosi, dia tidak suka dikelabui sama Agni begitu saja.


“Bangun nggak? Kalau nggak kutendang dari sini!” Victor berbisik ke telinga Agni.


“Hmmm…!” Agni masih pura-pura tidak mendengar ancaman Victor.


“Oh, ternyata kau benar-benar ingin merasakan tendanganku ya?” Victor sinis dia tersenyum seperti iblis yang sedang ingin menggoda manusia.


“Hmmm, hhhmmm!” Agni masih pura-pura pulas, namun nada suaranya seperti ingin menjawab pertanyaan Victor tadi, setidaknya itulah yang ada di pikiran Victor. Agni sedang mengejeknya dan kepura-puraan ini harus segera berlalu.


Victor turun dari tempat tidur, pelan-pelan, dia menuju kamar mandi. Dia melihat sekilas ke belakang, kalau-kalau Agni melihatnya beranjak dari tempat tidur itu.


Sementara Agni menunggu waktu yang tepat untuk membuka matanya, karena dia yakin, Victor sedang memiliki rencana padanya, dan dia penasaran apa yang sedang direncanakan Victor.


Saat Agni membuka sedikit-sedikit matanya, dia melihat Victor sedang masuk kedalam kamar mandi.


Dia tersenyum geli melihat tingkah Victor. “Ternyata dia tidak berani menendangku, dan tainya telah memaksanya untuk pergi ke toilet!” Agni membayangkan wajah Victor yang marah-marah sambil berak di pojokan kamar mandi.


Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka lagi dari dalam. Agni terkejut dan dia buru-buru menutup kembali matanya.


Sangat lama Agni menunggu apa yang akan dilakukan Victor padanya. Dia jugat tidak merasakan guncangan saat Victor kembali ke atas tempat tidur.


“Pergi ke mana dia?” Agni bertanya di dalam hati.


Agni penasaran ke mana Victor pergi, tapi dia takut membuka matanya kalau-kalau Victor sedang mengamat-amatinya.

__ADS_1


“Victor sedang ngapain dah?” Agni bertanya-tanya di dalam hatinya. Dia semakin penasaran, karena tidak ada suara pintu terbuka tandanya Victor pergi ke luar kamar atau guncangan kecil karena Victor kembali lagi ke atas tempat tidur.


“Apa beraknya belum kelar, emang terlalu cepat sih dia tadi keluar!” Agni masih membayangkan kalau Victor kembali ke kamar mandi.


“Jangan-jangan Victor sedang mencret ya?” Agni tersenyum, namun matanya masih tetap tertutup.


Dia penasaran ingin tahu keberadaan Victor, dia membuka matanya cepat-cepat ke arah pintu kamar mandi.


Tiba-tiba seember air mengguyur kepalanya. Air yang sangat dingin. Agni megap. Dia melihat Victor yang kini tersenyum, pandangannya samar-samar karena tertutup oleh air yang diguyur tepat diwajahnya.


Agni memegang perutnya, tangan yang satu mengusap wajahnya. Dia bangkit dari tidurnya dengan susah payah namun Victor masih dengan darah dingin menyaksikan kepayahan yang dialami Agni. Tidak ada belas kasihan sedikitpun pada Agni dengan keadaannya seperti itu.


“Jangan pura-pura kesakitan! Payah!” Victor masih tersenyum puas karena merasa berhasil memberi pelajaran pada Agni.


“Kamu jahat sekali!” Agni protes pada Victor.


“Itu yang kau minta kan?” Victor dengan suara dinginnya, membuat Agni semakin menggigil.


Agni berjalan mengambil handuk dan mengusap kembali wajahnya, rambutnya dan leher serta perutnya yang kini basah karena tumah dari rambutnya.


“Kau benar-benar tidak punya hati, aku penasaran hatimu terbuat dari besi atau baja?!” Agni meningkatkan volume suaranya.


“Jangan menyesal nanti ketika kau tidak lagi mendapat perhatian dari orang-orang terdekatmu!”


“Oh, hahaha, kau kira kau ini adalah orang terdekatku, dan aku takut kehilanganmu? Cuih, jilat dulu bibirmu sebelum berbicara!” Victor masih dengan nada sinisnya.


“Kalau kau sangat jijik melihatku di rumah ini, kenapa kau suruh anak buahmu menjemputku saat aku keluar dari rumah ini?”


“Bukan urusanmu, aku yang berhak memutuskan apa yang akan kulakukan termasuk mengusirmu dari rumah ini, kalau aku mau!” Victor membentak dan terakhir memelankan suaranya lagi.


Agni tidak menunjukkan wajah gentarnya karena bentakan Victor, padahal dia sudah sangat takut jika benar-benar diusir dari rumah itu, belum saatnya.


“Terus, kenapa tidak mengusirku saja?” Agni menantang Victor.


“Sudah kubilang, bukan kau yang menentukan langkah yang akan kutempuh, kau bukan siapa-siapa di rumah ini!” Victor menunjuk kening Agni.


“Aku istrimu, ingat itu, kau berjanji setia padaku!”

__ADS_1


“Hahaha, kau masih percaya dengan janji-janji seperti itu ya, kalau orang-orang menepati janjinya, dunia sekarang ini tidak akan sekacau ini, kau percaya dengan janji kau hanyut!” Victor ceramah pada Agni.


Baca juga: Zora's Scandal (Lihat pada profil) 🙏🤗


“Dasar manusia tidak punya hati!”


“Hatiku ada, hatiku terbuat dari besi atau mungkin baja…, aku juga tidak tahu hahaha, sudah-sudah, bantu Mbo Ratih di dapur, jangan tiduran saja kerjamu!” Victor menunjuk pintu kamar agar Agni segera beranjak dari kamar.


“Aku mau ganti baju dulu!” Agni menuju lemari pakaian.


“Jangan terlalu lama ganti bajunya!” suara Victor masih sedingin itu. Dia merebahkan diri di tempat tidur yang kering.


“Oh ya, jangan lupa mengeringkan tempat tidur nanti!” Victor menunjuk ke sisi tempat tidur yang basah.


“Itukan ulahmu, kaulah yang harus mengeringkannya!” Agni masih berusaha melawan Victor.


“Jangan melawan dulu, belum saatnya!” Victor menjawab Agni namun matanya sudah terpejam.


“Brengsek, apakah dia juga bisa mendengar suara hatiku sekarang?” Agni bingung mengapa kata-kata itu bisa muncul dari mulut Victor.


Agni segera keluar dari kamar itu. Dia menjumpai Mbo Ratih di dapur.


Agni menemukan Mbo Ratih sedang mengangkati makanan ke meja makan. Semua menu sudah siap disantap.


“Pagi, nyonya!” Mbo Ratih menyapa Agni.


“Panggil Agni saja, Mbo!” Agni tidak senang dipanggil nyonya. Dia tidak seberkuasa itu di rumah ini. Predikat nyonya yang disandingkan padanya tidak cocok sama sekali karena perlakuan tuan rumah ini tidak baik padanya.


“Mau gak mau, nyonya kan istirnya tuan!” Mbo Ratih mengingatkan.


“Iya tapi, jangan panggil nyonya dong, Mbo, nggak suka!” Agni ngambek.


“Hehehe, bencada dong!” Mbo Ratih tersenyum, kali ini menunjukkan gigi putihnya, masih rapih.


Bersambung…


Jangan lupa votenya ya, terima kasih yang sudah kasih vote di Novel ini, kalian baiiiik 🤗🤗🤗

__ADS_1


Oh ya, selamat menunaikan ibadah puasa ya semuanya yang menjalankannya, semoga berkah🙏


__ADS_2